
"Bismillahirohmanirohim," gumam Ajeng, semakin memantapkan hatinya untuk menghadapi mama Mona.
Coba mengesampingkan jantungnya yang berdegup kencang dan mengumpulkan semua keberanian yang dia punya.
Tidak butuh waktu lama setelah dia menunggu, akhirnya tak terlihat wanita cantik itu keluar dari dalam sekolah, mama Mona yang berjalan dengan begitu anggun semakin mendekati dia.
Deg deg! deg deg! Ya Allah, Ajeng sangat gugup dan takut, dia benar-benar berusaha keras untuk menghadapi mantan istri suaminya tersebut.
Dan di ujung sana mama Mona pun langsung menatap ke arah Ajeng dengan dahi yang berkerut.
Untuk apa wanita miskin itu datang ke sini?
Apa dia sengaja untuk menemui aku?
Cih! benar-benar tidak tahu diri. Mona terus membatin dan menjelek-jelekkan Ajeng di dalam hatinya.
Dan menatap penuh hinaan ketika dia akhirnya berdiri di hadapan istri baru mantan suaminya tersebut.
__ADS_1
Di tangan kanan Ajeng, Dia memegang sebuah tas mewah keluaran merek ternama dengan harga yang begitu mahal.
Ajeng juga menggunakan perhiasan lengkap, cincin, kalung dan anting. Berlian dengan kisaran harga yang tidak main-main.
Gaun yang dipakai oleh Ajeng kali ini pun keluaran desainer ternama.
Cih! Benar-benar menjijjikan, inilah kenapa dia menggoda majikannya sendiri, hanya agar bisa hidup dalam kemewahan.
Mona benar-benar merasa malas untuk melihat wajah Ajeng.
"Assalamualaikum Ma, kita bertemu lagi," ucap Ajeng, memberikan sapaan. Dia menyapa dengan begitu lembut dan senyum kecil yang terukir di bibirnya. Tapi sekarang tidak lagi menundukkan kepalanya memberi hormat.
Namun melihat sikap yang seperti itu, makin membuat Mona berdecih, bahkan tersenyum miring.
"Jangan besar kepala dulu Jeng, bagiku kamu bukanlah Istrinya mas Reza, apalagi ibu untuk Sean. Meski tubuhmu sudah dibalut dengan barang-barang mewah seperti itu tapi tetap saja di mataku kamu terlihat seperti seorang pengasuh." balas Mona, bukannya menjawab salam yang diucapkan oleh Ajeng dia justru langsung menyudutkan wanita itu.
Lengkap dengan tatapannya yang penuh hinaan.
__ADS_1
Dan kalimat panjang kali lebar itu benar-benar membuat jantung Ajeng jadi tersentak. Deg!
Sesaat dia kesulitan untuk menjawab, rasanya saja sudah ingin menangis. Tapi ketika ingat ucapan papa Reza untuk melawan, akhirnya Ajeng memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
"Tidak apa-apa Ma, aku memang masih mengasuh Sean sampai sekarang, selamanya aku akan jadi pengasuh untuk Sean," balas Ajeng, dia tersenyum lagi. Beruntung bicara tidak tergagap-gagap.
Tapi sekarang ini kedua telapak tangan Ajeng sudah bermunculan keringat dingin, dia mencengkeram kuat tas yang dia pegang.
Dan jawaban Ajeng itu entah kenapa membuat Mona tidak senang, seolah dia tidak akan punya kesempatan untuk anaknya sendiri.
Dan makin kesal, saat Ajeng membalas ucapannya.
"Beberapa hari terakhir aku selalu melihat mama Mona datang ke sekolah untuk menemui Sean, aku minta ini yang terakhir. Jika mama ingin menemui Sean datang saja ke rumah kami, jangan ke sekolah dan mengganggu belajarnya Sean," terang Ajeng lagi. bicara dengan jantungnya yang berdegup kencang.
Ajeng tidak tahu jika bukan hanya dia saja yang merasa takut tentang pertemuan ini.
Deri yang berdiri tidak jauh dari sana pun terus menatap dengan intens. Sudah dalam posisi siaga siap bergerak andai mama Mona berniat untuk melukai sang nyonya.
__ADS_1
Ayo Der, jangan sampai kecolongan, batin Deri, jadi cemas sendiri.