
"Katakan Rez, siapa wanita itu?" tanya Oma Putri sekali lagi karena Reza tidak langsung menjawab pertanyaan dia sebelumnya, sampai menciptakan jeda di antara panggilan tersebut.
"Aku belum bisa mengatakannya sekarang Oma."
"Kenapa?" balas Oma Putri dengan cepat, sungguh saat ini dia sangat penasaran.
"Karena aku belum tahu dia membalas perasaanku atau tidak."
"Astaghfirullahal azim ya Allah Rezaaa," gemas Oma Putri, dia seperti sedang menghadapi anaknya yang masih umur belasan tahun.
Oma Putri bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau begini ceritanya, Reza memang benar-benar sudah gila.
Gila karena cinta.
Cinta yang ternyata masih bertepuk sebelah tangan.
"Ya Allah Rez Rez ada-ada saja kamu ini," gemas Oma Putri.
Pembicaraan mereka masih berlangsung cukup lama, Reza juga menanyakan tentang kabar Pakdenya yang masih sakit.
Untungnya sekarang keadaan beliau sudah berangsur membaik, meskipun masih membutuhkan pengawasan yang intensif.
Oma Putri dan kakek Agung juga belum bisa memastikan kapan mereka akan kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Keluarga kandung kakek Agung hanya tinggal kakaknya tersebut, karena itulah dia ingin selalu mendampingi sang kakak.
Reza yang kini jadi kepala keluarga di rumah tersebut diminta oleh Oma Putri untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan. Termasuk tentang Ajeng yang akan selalu menemani sang cucu.
Oma Putri tidak ingin Reza bersikap terlalu kasar ataupun semena-mena pada pengasuh cucunya tersebut.
Karena bagaimanapun bukan hanya Ajeng yang membutuhkan pekerjaan ini tapi mereka juga membutuhkan jasa Ajeng untuk merawat Sean.
Mendengar Oma Putri yang begitu memperhatikan keadaan Ajeng di rumah ini membuat Reza merasa menghangat hatinya, merasa jika dia telah mendapatkan lampu hijau untuk makin mendekati wanita mungil tersebut.
"Ya sudah, ini sudah semakin sore, Oma matikan teleponnya ya?" pamit Oma Putri
Reza mengiyakan dan membuat panggilan telepon di antara mereka berdua terputus.
Belum apa-apa yang terbayang dibenaknya sudah wajah Ajeng.
Setelah dia mengakui semua perasaannya kepada sang ibu, kini Ajeng malah semakin semena-mena menguasai hati dan pikirannya.
Reza tidak bisa lagi membendung perasaan tersebut. Hatinya terlalu menggebu untuk bersikap biasa saja dan tidak mengakui.
"Ya Allah, jadi begini rasanya jatuh cinta? tapi aku masih heran, Bagaimana bisa wanita itu masuk ke dalam hatiku?" gumam Reza.
Umurnya memang sudah 33 tahun, tapi saat ini Reza lebih mirip seperti remaja berusia 17 tahun.
__ADS_1
Yang sedang menerka-nerka hatinya sendiri untuk mengerti tentang perasaan cinta.
Tidak perlu ada kejadian lucu tiba-tiba pria itu tertawa sendiri, lalu menggeleng pelan.
Dia bangkit dan tertawa lagi.
Berjalan menuju ranjang dan tertawa lagi.
Geleng-geleng kepala lagi.
Menikmati hati yang sedang kasmaran.
"Ajeng Ajeng," gumamnya pelan, lalu tertawa lagi.
Entah sudah berapa banyak pria berwajah dingin itu mengeluarkan suara tawanya hanya gara-gara sang pengasuh anak.
Bahkan saat Reza sudah berada di dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dia pun tertawa lagi.
Dan tertawa lagi saat keluar dari dalam kamar mandi tersebut.
"Ku rasa aku benar-benar gila," gumamnya.
Karena setelah mandi, dia jadi ingin buru-buru keluar untuk melihat wajah gadis mungil tersebut.
__ADS_1
Nah kan, Reza tertawa lagi.