
Ryan jadi terus memikirkan ucapan Rilly. Rasanya ada yang sedikit mengganjal ketika dia harus bersaing dengan sang keponakan.
Kalau tentang Reza tentu Ryan tidak ambil pusing. Jelas kakaknya itu tidak akan pernah tertarik dengan Ajeng. Gadis yang sangat-sangat biasa bahkan hanya seorang pengasuh saja.
Saat pagi datang. Ryan dan Rilly sama-sama memperhatikan Sean, melihat bocah itu yang benar-benar patuh pada semua perintah Ajeng.
Interaksi diantara keduanya pun nampak berbeda, bukan seperti ibu dan anak, tapi seperti kakak dan adik.
Tidak, Sean tidak membutuhkan Ajeng untuk jadi mamanya. Sean hanya butuh Ajeng untuk selalu berada di dekatnya. Itu berarti tidak harus jadi Mama, tapi jadi Tante juga bisa. Batin Ryan, menyadari itu dia pun tersenyum kecil. Lalu kembali melanjutkan sarapannya.
Selesai sarapan semuanya pun segera beraktivitas masing-masing.
Ryan menghampiri Sean, Ajeng dan papa Reza yang hendak pergi ke sekolah.
"Mas, hari ini biar aku saja yang antar Sean ke sekolah," ucap Ryan. Beberapa hari pergi ke Jogja membuatnya rindu untuk terus melihat Ajeng.
Gadis polos yang selalu membuatnya gemas. Apalagi kalau Ajeng menangis, yang ada dia malah lucu sendiri. Ingin tiba-tiba mengulurkan sebuah permen.
"Tidak perlu, biar aku saja yang antar," balas Reza dengan suaranya yang khas, dingin tidak ada hangat-hangatnya. Bahkan saat menjawab seperti itu wajahnya begitu dingin.
Lalu tanpa menunggu balasan Ryan lagi, dia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.
Membuat senyum Ryan perlahan hilang.
Ryan lantas menatap Ajeng dan Sean, berharap di bela, berharap 2 orang itu memilih untuk diantar dia saja.
Tapi Sean dan Ajeng malah hanya diam, malah pamit pergi dan segera masuk ke dalam mobil menyusul papa Reza.
Dan saat itu akhirnya senyum Ryan benar-benar menghilang.
Beberapa hari pergi dari rumah ini dan saat pulang dia seperti merasa ada yang hilang. Seperti ada ruang kosong di hatinya yang tiba-tiba muncul.
"Ayo Mas!" ajak Rilly, karena Ryan hanya bengong dan melihat mobil Reza pergi.
Lamunan Ryan buyar, dia pun mengangguk dan segera menuju mobilnya sendiri. Ryan dan Rilly membawa mobil masing-masing.
Sementara itu di dalam mobil papa Reza. Pria itu masih menampakkan wajahnya yang dingin. Terus melihat ke arah depan menatap jalanan, sedikitpun dia tidak menoleh ke sisi kiri, dimana Ajeng dan Sean berada.
Kini Sean selalu minta dipangku Ajeng di depan, dia tidak mau lagi duduk di belakang.
Sikap papa Reza yang sangat amat dingin itu, membuat Ajeng pun selalu bingung bagaimana bersikap. Padahal kemarin dia sudah menganggap papa Reza seperti malaikat penolongnya.
Tapi sekarang, tidak lagi.
__ADS_1
Ajeng bahkan ragu untuj tertawa ketika Sean mengajaknya bercanda.
Secanggung itu.
Hingga akhirnya mobil yang mereka naiki tiba di sekolah. Ketiga orang itu turun.
"Pa, tidak bisakah nanti pulang sekolah papa saja yang menjemput aku?" tanya Sean, mereka sudah sama-sama berdiri di depan gerbang sekolah tersebut.
Beberapa murid dan orang tua murid pun lalu lalang di sana.
Ajeng terdiam, hanya jadi pendengar untuk ayah dan anak ini.
Sedangkan Reza tak langsung menjawab, dia masih nampak berpikir.
Jam 10 ada pertemuan dengan klien, siangnya makan siang bersama. Jam 3 melihat bibit baru yang akan dipakai untuk perkebunan.
Jadwalnya sangat padat.
Reza lantas menatap sang anak, melihat kedua mata Sean yang penuh harap.
Ini adalah permintaan Sean, padahal selama ini anaknya tidak pernah meminta apapun. Selalu diam, selalu acuh dan selalu marah.
Reza lantas menatap Ajeng, berharap Ajeng bisa memberi solusi dengan membujuk Sean dan memberi penjelasan bahwa dia sibuk.
Tapi gadis yang ditatap malah buru-buru menunduk.
Wajahmu memang menyeramkan, cobalah untuk tersenyum. Bisik hati Reza pula.
Tapi buru-buru menggeleng pelan.
"Baiklah, nanti papa akan menjemput kamu," balas Reza, dia harus ingat bahwa dia pun sedang berusaha untuk memiliki hubungan yang baik dengan sang anak.
Jadi sebisa mungkin memprioritaskan Sean dibanding pekerjaannya. Seperti yang diucapkan oleh Oma Putri.
Urusan di kantor nanti bisa dia serahkan pada Ryan.
"Benarkah? papa akan benar-benar menjemput ku?" tanya Sean lagi, bertanya dengan sangat antusias. Bahkan dia pun tersenyum lebar.
"Hem, papa akan menjemput kamu."
"YE!!" Sorak Sean, dia melompat-lompat lalu memeluk kaki sang ayah.
Reza pun berjongkok dan membalas pelukan itu. Dalam hatinya pun menghangat memiliki hubungan seperti ini dengan sang anak.
__ADS_1
"Sekarang masuk lah, sebelum pintu gerbang itu tertutup." titah papa Reza.
"Baik Pa!" balas Sean semangat. Dia lalu salim pada sang ayah dan berlari lebih dulu masuk ke dalam sekolah.
Lalu disusul Ajeng yang pamit.
"Kami pergi Pa," pamit Ajeng, bicara dengan menunduk.
"Apa?" tanya Reza, pura-pura tidak dengar. Dia bahkan tidak sadar kenapa melakukan hal konyol seperti ini.
"Kami pamit!" ucap Ajeng lagi, bicara dengan suara lebih tinggi. Tapi masih dengan wajah yang menunduk.
"Apa kamu sedang bicara dengan sepatu ku?" tanya Reza lagi.
Mambuat Ajeng langsung mengutuk dirinya sendiri. Jadilah Batu!
Mungkin dengan begitu dia tidak akan serba salah di mata papa Reza.
Tidak punya pilihan jadi Ajeng perlahan mengangkat wajah, memberanikan diri untuk membalas tatapan dingin pria ini.
Deg!
Mereka saling tatap, persis seperti garis lurus segitiga karena Ajeng pendek.
"Mulai sekarang, tiap bicara cobalah untuk membalas tatapan lawan bicara mu. Mengerti?"
"Ba-ba-ba-baik Pa." balas Ajeng, Reza tidak tahu betapa gugupnya dia saat ini.
Belum apa-apa kedua pipi Ajeng sudah merah merona, karena semakin ditatap papa Reza terlihat semakin tampan saja.
Astaghfirullah. Batin Ajeng.
Dia pun buru-buru lari masuk ke dalam sekolah.
Ajeng tidak lihat, saat akhirnya Reza tersenyum kecil melihat tingkahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi author:
Judul : Boy For Rent
by: Lena Linol
__ADS_1
Ajari aku berciuman dan bercinta, ucap Jeasany.