
Sudah jadi kebiasaan, kini papa Reza selalu memasangkan sabuk pengaman untuk Ajeng, juga melepaskannya nanti.
Itu jadi momen tersendiri yang mendebarkan hati bagi keduanya. Papa Reza yang selalu cari-cari kesempatan untuk dekat, dan Ajeng yang suka dekat-dekat dengan papa Reza.
Klik! bunyi sabuk pengaman itu telah selesai dipasang. Ajeng yang sejak tadi menurunkan pandangannya mulai melihat ke atas, perlahan menatap wajah tampan sang calon suami.
"A-ayo," ajak Ajeng dengan gagap.
Reza tersenyum dan mengangguk, dia kembali duduk di kursinya sendiri dengan sempurna. Mulai menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.
Mereka akan mengunjungi rumah utama keluarga Carter, untuk bertemu dengan Tante Jia, pemilik wedding organizer pilihan Oma Putri untuk menangani semua persiapan pertunangan dan pernikahan mereka.
Karena keluarga mereka memiliki hubungan yang dekat jadi Ajeng dan Reza tidak perlu pergi ke kantor, langsung saja menuju rumah sang WO.
Sekitar 30 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ajeng kembali terperangah ketika melihat rumah yang sama megahnya seperti milik papa Reza.
Tapi halaman rumah ini terlihat lebih luas, juga banyak bunga-bunga cantik sebagai taman di halaman itu.
Saking asiknya mengawasi, Ajeng sampai tidak sadar jika mobil sudah berhenti. Tatapannya tertuju keluar jendela.
"Sayang," panggil Reza.
Ha? Ajeng seketika cengo, menoleh dan menatap papa Reza dengan tatapannya yang menatap bingung.
"Apa?" Papa panggil apa? tanya Ajeng, lebih banyak pertanyaan di dalam hatinya.
"Ayo turun," ajak Reza, seraya condong tubuhnya ke arah Ajeng dan melepaskan sabuk pengaman.
Deg! papa tadi panggil aku sayang kan? batin Ajeng, takut salah dengar.
Tapi ingin memperjelas malah malu sendiri.
__ADS_1
Reza kemudian turun lebih dulu dan Ajeng dengan segera menyusul. Pria itu mengulurkan tangan kanannya ingin gandengan.
"Ka-kata Oma Putri jangan gandeng-gandengan Mas," jawab Ajeng lirih, antara takut pada Oma Putri dan takut papa Reza.
Dan mendengar jawaban itu Reza jadi lucu sendiri, tangan kanannya yang tidak mendapat sambutan lalu naik dan mengelus puncak kepala Ajeng dengan lembut.
"Bagus kalau kamu masih ingat, kalau kamu lupa bisa-bisa aku melakukan lebih."
"Apa? apa maksudnya Mas?"
"Sudah ayo masuk."
"Melakukan lebih apa?" tanya Ajeng sambil sedikit berlari, mengikuti langkah sang suami yang lebar untuk segera masuk ke dalam rumah tersebut.
Tapi Reza tidak menjawab pertanyaan Ajeng itu, dia hanya tersenyum lebar. Melakukan lebih, tentu artinya bisa peluk dan cium.
Menyadari pikirannya yang nyaris mesyum, Reza jadi geleng-geleng kepala sendiri.
Wanita itu nampak berumur namun tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya.
"Pagi Tante, perkenalkan ini calon istri ku," ucap Reza, memberi salam dan memperkenalkan Ajeng.
Tante Jia tersenyum, setelah berjabat tangan dia pun langsung memeluk Ajeng, gemas, lucu dan cantik.
"Perkenalkan sayang, tante adalah tante Jia."
"Ajeng Tante."
"Ayo duduk," ajak Jia pula.
Mereka semua duduk di kursi ruang tengah itu, mulut Ajeng seketika menganga dan kedua matanya berbinar, saat melihat di atas meja sudah berjejer banyak cincin yang sangat indah, mungkin jumlahnya ada 100 pasang.
__ADS_1
Toko perhiasan seperti ada di rumah ini.
Masya Allah, Ya Allah. batin Ajeng, terperangah sendiri.
"Ajeng sangat cantik, kalau menurut tante, ini cincin yang paling cocok untuk kalian. Tapi kalau mau pilih-pilih dulu silahkan," ucap tante Jia.
Ajeng tak bisa menjawab apa-apa, masih tak menyangka cincin berlian ada di hadapannya.
Sementara dulu cincin emas pemberian Erwin, dirampas oleh Elis.
"Sayang, bagaimana? kamu suka yang mana?" tanya Reza.
"Hah? su-suka semuanya," balas Ajeng gagap.
Reza mengelus puncak kepala Ajeng saking gemasnya.
Dan tante Jia yang melihat keduanya pun ikut senyum-senyum sendiri.
"Coba pakai saja Sayang, biar kamu yakin," ucap tante Jia.
Ajeng menatap ragu, benarkah dia boleh mencoba.
Reza kemudian mengambil cincin pilihan tante Jia dan langsung memasangkannya di jari manis milik Ajeng.
Cantik sekali.
Kedua mata Ajeng bahkan makin berbinar-binar.
"Cantik, seperti kamu," ucap Reza, mereka berdua saling pandang dengan intens.
Dan tante Jia rasanya ingin segera menghilang dari sana. Tidak kuat melihat pemandangan itu. Membuatnya nostalgia ketika muda. Cinta yang membuat seolah di dunia ini hanya mereka berdua.
__ADS_1