
Uhuk!! Ajeng sampai tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Papa Reza tersebut.
Batuk Ajeng makin jadi dan Sean buru-buru mengambil botol minumnya di pinggiran tas, lalu segera menyerahkannya kepada sang calon mama.
Sementara Reza memperlambat mobil mereka dan memilih jalur santai agar tidak mengganggu pengendara lain. Sementara di dekat-dekat sini tidak ada tempat untuk berhenti.
Kawasan dilarang stop.
Ajeng pun segera menerima botol minum yang diulurkan oleh Sean, dia meminumnya hingga tiga kali tegukan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya papa reza dengan cemas, tanpa sadar tangan kirinya terulur untuk mengelus puncak kepala Ajeng dengan lembut. Sungguh, dia sangat cemas.
Tapi perlakuan itu malah makin membuat keadaan Ajeng jadi parah. Jantungnya berdegup tak karuan, pikiran gamang dan rasanya nyaris ingin pingsan.
Lama-lama sikap papa Reza seperti diluar nalar Ajeng, harusnya tidak begini!
Ajeng bahkan refleksi mundur untuk menghindari sentuhan papa Reza tersebut.
Dan mendapatkan penolakan itu, Reza langsung sadar kalau Ajeng merasa tidak nyaman.
Saat Reza menoleh dan menatap gadis itu, wajah Ajeng nampak pias.
"Kamu terkejut dengan ucapan ku barusan?" tanya papa Reza.
__ADS_1
Dalam keadaan seperti ini, Sean tahu dia harus diam. Harus seolah tak ada disini dan membiarkan kedua orang dewasa tersebut menyelesaikan pembicaraannya.
Jadi Sean bergerak menyingkir, jadi duduk tepat di belakang kursi mbak Ajeng hingga keberadaannya tidak dilihat oleh 2 orang itu.
Dan mendengar pertanyaan papa Reza yang ini, Ajeng pun langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Rasanya ingin tak percaya kalimat itu, tapi Ajeng mendengar dengan jelas saat papa Reza mengajaknya pacaran.
Astagfirullahal Azim, Ya Allah, Ajeng bingung dan takut sekaligus.
"Tidak perlu terkejut, karena yang kamu dengar adalah benar. Mulai sekarang kita akan pacaran," terang papa Reza.
Tanpa ragu sedikit pun dia mengucapkan kalimat itu, sebuah kata-kata panjang yang makin membuat kedua mata Ajeng mendelik.
Tentang cinta, Reza yakin dia bisa membuat gadis ini mencintai dia. Lagi pula ini hanya pacaran, bukan menikah, jadi tak masalah jika harus memaksa di awal, pikir Reza.
"Pa-papa Jangan bercanda!! mana bisa mempermainkan seorang gadis seperti itu!!" balas Ajeng, saking gugupnya dia jadi bicara membentak.
Reza sangat paham tentang kebiasaan Ajeng ini.
"Aku tidak bercanda Jeng."
"Ka-kalau begitu sadar lah!! Mana bisa kita pacaran! aku itu pengasuhnya Sean! Pa-papa harus sadar diri!!" bentak Ajeng lagi.
__ADS_1
Sekarang malah dia yang harus membuat papa Reza sadar diri. Mana boleh mempermainkan wanita seperti ini, ini termasuk kriminal bagi Ajeng.
Perasaan dibuat candaan. Apalagi Ajeng begitu mudah jatuh cinta pada pria tampan.
Dia yakin akan kalah dalam pertarungan ini.
"Kami tidak sedang bercanda Mbak, aku dan Papa sudah sepakat untuk menjadikan mbak Ajeng sebagai mama baru," ucap Sean, yang tiba-tiba kepalanya menongol diantara Ajeng dan papa Reza.
Niat awalnya tak ingin menampakkan diri, tapi papa Reza makin tersudut hingga dia harus keluar.
Ajeng tercengang mendengar ucapan sang anak asuh, pikirannya kembali mundur ke beberapa waktu lalu saat Sean berulang kali memintanya untuk jadi Mama.
Dan sekarang Sean sudah bersekutu dengan papa Reza.
Ajeng seperti kehilangan semua kosa kata, dia tidak sanggup bicara sepatah kata pun.
Papa Reza kembali bicara bahwa sekarang mereka mulai pacaran, tidak perlu cemaskan apapun, kalau masih ragu anggap saja ini perintah.
Ajeng tergugu.
Sampai akhirnya mobil yang meraka naiki masuk ke dalam area sekolah Sean dan berhenti di tempat parkir.
Saat keluar dari dalam mobil itu statusnya Ajeng jadi bertambah, bukan hanya jadi pengasuhnya Sean tapi Ajeng juga jadi pacarnya papa Reza.
__ADS_1