Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 60 - Mendadak Lupa


__ADS_3

Aku harus jadi wanita dewasa yang cantik dan elegan, bukan yang cengeng dan baperan. Batin Ajeng lagi. Bibirnya mencebik mengutuk dirinya sendiri.


Asik bicara pada di dalam hati seraya terus mengikuti langkah kaki papa Reza untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Terus jalan sampai akhirnya tiba di bawah tangga.


"Jeng, kamu istirahat lah juga, biar aku sendiri yang menidurkan Sean di kamar," ucap Reza.


Ajeng pun mengangguk, tidak bicara karena takut suaranya membangunkan Sean.


Reza lantas segera naik ke lantai 2.


Sementara Ajeng menuju kamarnya, namun kemudian langkah kaki gadis mungil itu seketika terhenti saat dia mengingat satu hal.


Lupa bahwa surat undangan dari sekolah Sean masih ada di dalam tas kecilnya. Sementara surat ini harus segera disampaikan pada orang yang berhak.


Papa Reza harus segera tahu agar dia bisa menyesuaikan jadwal, agar saat acara ini dimulai Papa Reza bisa menghadiri.


"Astaghfirullah, lupa, aku harus segera berikan surat undangan ini pada papa," gumam Ajeng, dia berbalik dan langsung berlari mengejar papa Reza.


akhirnya ikut naik lantai 2 dan menuju kamar Sean. saat dia tiba di dalam kamar tersebut papa Reza sudah membaringkan sang anak asuh di ranjang.


Mendengar ada suara yang datang papa Reza pun menoleh ke belakang dan melihat Ajeng sudah berdiri di sana.


Ajeng masuk lebih dalam, sementara Papa Reza masih diam di tempat dan memperhatikan sampai akhirnya mereka saling berdiri berhadapan.


"Maaf Pa, tapi aku harus memberikan ini. Ada surat undangan dari sekolahnya Sean," terang Ajeng.

__ADS_1


Dia mengulurkan sebuah undangan berwarna putih yang sudah dikeluarkannya dari dalam tas.


Tanpa banyak bertanya, Reza mengambil undangan tersebut. Lalu berjalan menuju sofa di kamar itu dan membuka surat undangannya.


Sementara Ajeng sudah kembali pamit untuk keluar.


Hari minggu besok akan ada perayaan ulang tahun sekolah, kedua orang tua Sean diundang dalam acara tersebut dan diharapkan kedatangannya.


Membaca surat undangan tersebut ada sesak di dalam hati Reza yang sedikit dia rasakan.


Karena tiap kali ingat penolakan Mona untuk memiliki anak selalu berhasil membuatnya benci.


Reza lantas meletakan undangan itu di atas meja, sementara dia masih duduk dan memperhatikan sang anak yang tertidur pulas.


Sean pasti ingin kamu datang Rez. bisik hati Reza.


Sean pasti mengerti keadaan ini, Sean pasti tidak akan menuntut apapun. Tidak masalah jika yang datang Ryan atau Rilly. bisik hati itu lagi.


Bukannya kamu ingin memperbaiki hubungan dengan Sean? kalau begitu datanglah.


"Ya Allah," gumam Reza, dia mengusap wajahnya perlahan.


Buntu jadi memutuskan untuk keluar dari sana. Entah apa yang terjadi, namun Reza pun tidak tahu kenapa kini malah mencari Ajeng.


Satu-satunya yang dia pikir bisa memberi solusi hanyalah Ajeng.


Reza turun ke lantai 1 lagi, tidak langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Bi, panggil Ajeng kesini," titah Reza pada salah satu pelayan yang dia temui. Reza duduk di ruang tengah.


"Baik Pak."


Tak lama kemudian, Ajeng pun datang. Dia baru saja selesai shalat dhuhur. Wajahnya nampak berseri karena habis wudhu. Ajeng juga mengikat rambutnya karena tidak ingin terlalu basah.


Reza yang melihat pemandangan seperti itu malah seketika kehilangan semua ingatannya, dia jadi lupa kenapa tadi memanggil Ajeng.


Mendadak lupa.


"Kenapa Pa?" tanya Ajeng, setelah berdiri tepat di hadapan Reza. Mereka hanya terhalang oleh meja. .


Tapi pria yang ditanya tidak langsung menjawab, karena Reza sungguh lupa dengan apa yang ingin dia katakan.


Ajeng seperti mengalihkan semua perhatiannya. Jadi hanya tertuju pada wajahnya yang berseri.


Kenapa lihatnya gitu banget sih? batin Ajeng.


Apa papa marah?


Ya Allah, apa gara-gara ikat rambutnya ku pakai lagi ya? kata papa Reza kan ini jelek.


Iya, pasti gara-gara itu.


Tidak ingin papa Reza semakin marah, Ajeng pun mengangkat tangan kanannya dan melepas ikat rambut itu.


Melepas secara perlahan.

__ADS_1


Tapi Reza malah semakin terpesona, dia seperti sedang melihat iklan rambut hitam berkilau secara langsung.


__ADS_2