Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 69 - Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Kemarahan papa Reza tentang mama Mona, pukulan keras di dinding yang nyaris mengenai wajahnya.


Perkataan dingin, berulang kali bicara untuk sadar diri.


Semua itu masih Ajeng ingat jelas di dalam otaknya.


Jadi hingga kini hanya tentang ketakutan yang mendominasi tiap kali dia berhadapan dengan papa Reza.


Takut salah langkah, takut salah tindakan. Di dekat papa Reza Ajeng selalu merasa takut.


Makin pria itu mendekat, Ajeng rasanya ingin makin menjauh agar aman.


Tapi entah kenapa, Ajeng merasa kini papa Reza malah terus membuat hubungan mereka dekat. Jadi makin banyak interaksi.


Kemarin papa Reza memang bicara untuk mengajarinya agar dekat dengan Sean, tapi Ajeng pikir hanya Sean saja. Tidak termasuk dirinya.


Harusnya dalam acara tersebut, Ajeng menunggu di luar atau duduk saja di kursi tunggu.


Tapi kenapa papa Reza malah mengajaknya bermain? ada kak Rilly yang bisa menggantikan posisi tersebut.


Apalagi harusnya itu ditujukan untuk kedua orang tua Sean.


Karena tidak bisa banyak bicara, jadi Ajeng hanya kebanyakan membatin. Menebak-nebak sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Meski tidak pernah yakin tebakannya itu benar atau salah.

__ADS_1


"Mbak! kenapa melamun?" tanya Sean, hingga berhasil membuyarkan lamunan gadis cantik tersebut.


"Tolong sisir rambut ku," pinta Sean lagi.


"Iya sini, maaf ya, mbak Ajeng malah melamun," balas Ajeng.


Sementara itu di dalam kamar papa Reza, pria itu pun menghembuskan nafasnya lega ketika sudah menutup pintu dan dia bersandar di sana.


Rasanya lega sekali karena sudah bisa melihat Ajeng dan semua wajah keterkejutan wanita itu.


Reza tertawa kecil.


Melihat Ajeng yang ketakutan saat dia mengajaknya bermain bersama entah kenapa kini jadi terasa lucu.


Tawa pria itu semakin lama semakin terdengar jelas saja.


Lalu saat di ujung tawanya, dia menggeleng pelan.


"Gila, ku rasa aku benar-benar gila," gumamnya.


Reza lantas menuju sofa di kamar tersebut. Dia coba untuk menghubungi Oma Putri dan mencari kewarasannya yang nyaris hilang.


Dia tak bisa memendam kegilaan ini sendiri, Reza butuh seseorang yang membawanya ke jalur kebenaran.


Untung lah di teleponnya yang pertama, panggilan Reza langsung dijawab oleh Oma Putri.

__ADS_1


"Kenapa Rez? tumben kamu telepon Oma. Biasanya Oma terus yang harus telepon kamu lebih dulu," sahut Oma Putri dalam sambungan telepon tersebut, belum apa-apa dia sudah menggerutu lebih dulu.


khas ibu-ibu yang banyak tuntutannya.


"Maaf Oma, tapi ada sesuatu yang penting. Aku harus mengatakannya sekarang."


"Apa?" balas Oma Putri dengan cepat, malah dia yang merasa sangat penasaran.


Oma Putri bahkan langsung mematikan kompor di hadapannya, dia sedang menyiapkan makanan untuk keluarga di sana.


Oma Putri jadi memanggil pelayan untuk melanjutkan aktivitas memasaknya dan dia duduk di kursi meja makan.


Siap mendengarkan apa yang akan diutarakan oleh sang anak pertama.


"Oma, bagaimana menurut Oma jika aku menyukai seorang gadis yang biasa-biasa saja, tidak ada istimewanya sedikit pun. Dia dari keluarga biasa, pendidikan seadanya, pekerjaan yang jauh dari kata sempurna. Apa menurut Oma aku sudah gila?"


Mendengar ucapan panjang lebar Reza itu, Oma Putri malah jadi haru sendiri. Dia bahkan seperti ingin menangis.


Jujur saja, selama ini Oma Putri selalu merasa bersalah pada Reza perihal pernikahannya dengan Mona, karena dialah yang mengatur pernikahan tersebut.


Pernikahan yang berakhir trauma bagi Reza. Membuat Reza benci yang namanya wanita.


Tapi apa ini?


Tiba-tiba Rez berkata dia menyukai seorang wanita.

__ADS_1


"Tidak Rez, kamu tidak gila. Harta bisa dicari, kita dulu juga bukan orang yang berada pada awalnya. Pendidikan tidak menjamin seseorang memiliki pribadi yang baik, dan kebahagiaan tidak memandang pekerjaan. Katakan, siapa wanita itu?"


__ADS_2