
Tiba di rumah Sean langsung berlari memanggil kakek dan omanya, berteriak mengatakan jika mama Ajeng sekarang hamil.
Jadi yang mendengar kabar itu bukan hanya kakek Agung dan Oma Putri, tapi juga seluruh pelayan di rumah ini.
Dan pagi menjelang siang itu, kata Alhamdulillah jadi menggema di tiap sudut ruangan.
Alhamdulillah! ucap semua orang.
Ajeng juga berulang kali mendapatkan pelukan dan ciuman dari Oma Putri.
Saking bahagianya Oma Putri dia bahkan langsung menghubungi besannya, ibu Tri. Tentang kebahagiaan ini akan dia bagi-bagi, tidak dia rasakan sendiri.
Sampai seminggu kemudian, kabar Ajeng hamil itu sudah menyebar ke semua orang.
Sampai mama Mona pun mendengarnya juga. Wanita itu kini tersenyum, ikut bahagia atas kehamilan Ajeng.
Jadi sedih saat ingat dia hamil Sean dan tidak menginginkannya. Tapi masa lalu tak bisa Mona ubah, itu akan jadi penyesalan seumur hidupnya.
__ADS_1
"Huwek!!" muntah Reza.
"Ya Allah Mas, sabar sayang," ucap Ajeng, seraya memijat tengkuk sang suami secara perlahan.
Entah apa namanya, Ajeng lupa. Tapi meski dia yang hamil, yang mengalami muntah-muntah adalah suaminya. Kata dokter Bella ini tidak masalah, karena sama saja seperti Ajeng yang sedang mengidam.
Keluar dari dalam kamar mandi setelah papa Reza memuntahkan semua isi perutnya, kini mereka duduk di tepi ranjang.
Ajeng segera mengoles perut sang suami menggunakan minyak kayu putih.
"Sabar ya Mas, kata dokter Bella mungkin, mungkin 1 bulan lagi mas Reza tidak akan seperti ini lagi," jelas Ajeng dengan raut waja yang sedih. Kini usia kehamilan Ajeng sudah memasuki bulan ke dua.
Artinya papa Reza akan mabuk 1 bulan lagi.
Tapi sungguh, Ajeng merasa tidak tega, meski katanya ini pertanda bahwa suaminya tersebut sangat mencintai dia.
Tapi Ajeng malah takut, setelah muntah-muntah seperti ini, nanti papa Reza jadi tidak mau mencintai dia lagi.
__ADS_1
Dan melihat raut wajah istrinya yang cemas, Reza jadi tersenyum, lucu sendiri. Dia kemudian menarik Ajeng untuk duduk di sampingnya.
"Aku baik-baik saja Ma, tidak perlu cemas seperti itu, aku muntah kan cuma pagi saja, setelah kamu cium juga nanti sembuh sendiri," ucap papa Reza, coba menenangkan sang istri, coba untuk menghilangkan raut wajah cemas itu di wajah cantik istrinya.
Semenjak Ajeng hamil entah kenapa di mata Reza istrinya itu Jadi terlihat semakin cantik, wajahnya berseri sekali, jadi semakin membuatnya merasa cinta.
"Tapi Mas Reza masih cinta kan sama aku? nggak kapok kan gara-gara muntah seperti ini?" tanya Ajeng langsung, inilah pertanyaan yang sudah dia pendam sejak lama.
Kedua mata Ajeng bahkan berbinar-binar ketika menanyakan tentang hal itu. Dia ingin menangis, takut suaminya kapok.
Apalagi katanya Papa Reza ingin mereka punya banyak anak, lalu bagaimana jika tiap Ajeng hamil Papa Reza terus yang akan mengalami muntah-muntah seperti ini?
Ya Allah, hanya membayangkannya saja Ajeng sudah sangat sedih sekali.
"Ya Allah sayang ku cintaku, kok ngomongnya gitu, tentu saja aku akan selalu mencintai kamu," balas papa Reza, lalu mencium bibir Istrinya agar tidak bicara ngawur.
"Lebih baik kita segera bersiap, hari ini kan Sean kelulusan," ucap papa Reza lagi.
__ADS_1
Ya, hari ini adalah hari kelulusan Sean, bocah itu akan lulus dari sekolah kanak-kanak dan siap masuk ke sekolah Dasar.
Ajeng mengangguk, dia tidak jadi menangis setelah dicium oleh sang suami.