
Beberapa menit kemudian, Ajeng benar-benar siuman. Dia telah sadar dari pingsannya beberapa waktu lalu.
Saat ini waktu menunjukkan jam 3 sore lewat 10 menit.
Ajeng mengerjabkan matanya dan menatap asing tempat ini.
"Mama!" panggil Sean dan membuat Ajeng langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut, kedua matanya pun langsung terbuka lebar.
Melihat Sean yang langsung memeluk tubuhnya. Tatapan Ajeng lalu melebar, Melihat kak Rilly dan bi Asmi juga di kamar ini.
"Ini dimana Sean?" tanya mbak Ajeng, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya.
"Ini di kamar papa Reza Ma."
"Ha? Apa?!" Ajeng bergerak cepat untuk duduk.
"Dimana?!" tanyanya dengan suara yang lebih menggelegar.
Rilly buru-buru duduk di tepi ranjang dan menyentuh tangan Ajeng dengan lembut. Sungguh, dia tidak ingin Ajeng jatuh pingsan lagi.
Tadi Rilly sempat keluar dan bicara pada kakak pertamanya, bertanya Apa yang sebenarnya terjadi sebelum Ajeng jatuh pingsan. Dan papa Reza menjelaskan semuanya dengan rinci.
Dari cerita itu Rilly ambil kesimpulan bahwa Ajeng terlalu terkejut dengan semua yang terjadi, tentang kakaknya yang terus memberi kejutan tentang sebuah hubungan.
Tadi Rilly juga sempat bertanya-tanya pada Sean tentang semua ini dan bocah 6 tahun itu pun menjelaskan apa adanya tanpa disembunyi-sembunyikan. Termasuk rencananya dengan papa Reza untuk menjerat mbak Ajeng sebagai mamanya Sean.
Rilly sudah bertindak layaknya seorang detektif, mencari informasi dari berbagai sumber dan membuat kesimpulan.
__ADS_1
Mas Reza benar-benar keterlaluan, dia yang terlalu cinta, dia juga yang membuat Ajeng sengsara. Batin Rilly.
"Ajeng, kamu tenang dulu ya, tarik nafas buaaang," ucap kak Rilly memberi interuksi.
Ajeng yang penurut pun langsung mengikutinya begitu saja, dia menarik dan membuang nafasnya secara perlahan, berulang-ulang kali sampai akhirnya dia benar-benar jadi tenang.
"Ini benar kamar papa Reza kak?" tanya Ajeng setelah dia cukup tenang.
Kak Rilly mengangguk.
Ajeng memang belum pernah masuk ke dalam sini, kalau memanggil pun dia hanya berani menunggu di luar, mengetuk pintunya dan menunggu disana.
"Iya Jeng, sekarang kamu dengarkan aku baik-baik," jawab kak Rilly.
Ajeng patuh lagi, dia memasang wajahnya yang serius. Apalagi kak Rilly pun menatapnya dengan lekat, seolah ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting.
Sungguh Ajeng tidak ingin Oma Putri sampai tau dan berakhir dia yang akan dipecat. Bukan hanya itu, Oma Putri jelas akan kecewa padanya. Karena bukannya bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi Ajeng malah menggoda duda tersebut.
Ya ampun, hanya membayangkannya saja Ajeng sudah merinding.
"Apa yang terjadi hari ini bukanlah mimpi Jeng, ini memang nyata. Mas Reza memang mencintai kamu," ucap Rilly.
Kalimat yang lagi-lagi membuat Ajeng mendelik, gadis cantik itu malah berpikir bahwa kak Rilly sama saja dengan papa Reza, tidak beres otaknya.
"Kak Rilly kok bilang gitu sih, aku kan jadi takut," balas Ajeng, dia ingin menangis.
Rilly langsung memeluk Ajeng erat, Sean juga memeluk mamanya erat.
__ADS_1
Bocah itu bari sadar, hal yang terburu-buru seperti ini ternyata menyulitkan untuk mbak Ajeng.
Dia dan Papa Reza hanya berpikir dari sudut pandang keduanya, tanpa memikirkan bagaimana dengan mbak Ajeng.
"Mbak Ajeng, aku benar-benar serius ingin mbak Ajeng jadi mama ku," lirih Sean, kini bocah itu bahkan sudah menangis.
Sumpah, ini bukanlah tentang menjual kesedihan. Ini murni perasaan yang Sean rasakan sekarang.
"Sean, jangan menangis," balas Ajeng pula.
Kak Rilly melepaskan pelukannya dan memberikan kesempatan dua orang itu untuk saling memeluk.
"Papa Reza memang ingin mbak Ajeng jadi istrinya, bahkan dia izin dulu padaku untuk menjadikan mbak Ajeng calon mama, papa tidak pernah main-main dengan keputusan yang dia ambil Mbak," lirih Sean lagi, bicara diantara tangisnya yang masih jelas. Masih berada di dalam dekapan Ajeng.
Saat Ajeng melihat ke arah Rilly, Rilly pun menganggukkan kepalanya, tanda mengiyakan ucapan Sean tersebut.
Ajeng lantas melerai pelukannya dengan Sean, menghapus air mata bocah tampan tersebut.
"Ini tidak sesederhana itu Sean, kalau Oma Putri tahu yang ada mbak Ajeng dipecat," jelas Ajeng, itulah yang dia yakini hingga sekarang.
"Kamu tenang saja Jeng, Oma Putri tidak akan memecat kamu, aku jamin," terang kak Rilly. Yang ada Oma Putri mungkin akan memecat Reza jika berani mempermainkan wanita sampai seperti ini. Sampai membawa-bawa tentang pernikahan.
Oma Putri tidak pernah mengajarkan Reza dan Ryan untuk menyakiti wanita. Karena jika Reza dan Ryan melakukan itu, sama saja mereka menyakiti Oma Putri dan Rilly.
"Kamu tenang saja, aku akan ada dipihak mu untuk masalah ini. Lebih baik sekarang kamu tenangkan diri dan cobalah menerima papa Reza," terang kak Rilly.
Bi Asmi yang sejak tadi mendengar jadi pengamat, dialah yang akan jadi penyebar informasi untuk para pelayan yang lain agar tak terjadi simpang siur.
__ADS_1
Pak Reza mencintai Ajeng tapi cinta yang bertepuk sebelah tangan, karena Ajeng tidak mencintai pak Reza, tapi malah takut dipecat. Oalah, ngunu. Batin bi Asmi.