Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 112 - Cahaya Kebahagiaan


__ADS_3

Ajeng langsung memutuskan sambungan teleponnya setelah memberi ciuman jarak jauh tersebut.


Dia buru-buru menutup wajahnya sendiri menggunakan bantal saking malunya.


Saat ini wajah Ajeng sudah nampak begitu merah, mirip seperti kepiting rebus.


Ahkk! tidak tidak tidak!! batin Ajeng, heboh sendiri.


Sementara papa Reza di ujung sana, langsung tercengang dengan jantung yang berdegup kencang.


Bibirnya yang kaku perlahan membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar.


Emuah! kecup Ajeng tadi dan hingga kini masih membekas diingatannya, Ajeng seperti baru saja mengecup bibirnya.


"Aaahh, ini sangat manis," gumam papa Reza tanpa sadar. Dia bahkan menyentuh bibirnya sendiri.


Deri yang melihat sikap majikannya itu benar-benar tercengang, sampai mulutnya menganga.


Astagfirullahal Azim, Ya Allah. Batin Deri, pak Reza seperti sedang kerasukan Jin Tomang.


Dan senyum lebar Reza itu seketika hilang, saat akhirnya dia sadar bahwa di dalam mobil ini bukan hanya ada dia sendiri.


Tapi juga ada Deri.


Kedua matanya seketika berubah jadi tajam, rasanya tidak terima jika ada orang lain yang mendengar suara kecupan sang calon istri.


Apalagi telepon tadi adalah video call, jalas suara Ajeng terdengar lebih jelas daripada telepon biasa.

__ADS_1


"Der, apa kamu mendengar pembicaraan ku dengan Ajeng tadi?" tanya papa Reza, bicara dengan suaranya yang terdengar sangat dingin.


Deg! seketika Deri tersentak, jantunnnya berdenyut seperti mendapatkan serangan lebah, mendadak takut dengan perubahan tiba-tiba sang majikan.


Dari nada bicaranya pak Reza nampak marah dan tidak suka jika teleponnya tadi di dengar olehnya, menyadari itu Deri buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Ti-tidak Pak, saya tidak dengar," balas Deri, dengan ketakutan yang luar biasa dia rasakan, bahkan mulai ada keringat dingin di keningnya.


"Benar kamu tidak dengar? jangan bohong."


"Iya Pak, saya tidak dengar, saya fokus melihat jalanan sejak tadi," kilah Deri, tak ada yang tahu jika saat ini jantungnya berdegup dengan cepat, padahal dia mendengar dengan jelas saat Ajeng memberikan kecupan.


Emuah! Astagfirullahal Azim, Deri rasanya ingin mengungsi saja dari dunia ini.


"Baguslah kalau kamu tidak dengar," balas papa Reza.


Dia sendiri bahkan tidak sadar jika sudah bersikap konyol.


Alhamdulillah, batin Deri. seketika bernafas lega ketika Pak Reza mempercayai ucapannya.


Dan untungnya lagi saat itu juga mereka telah tiba di hotel tempat menginap malam ini. Deri jadi punya banyak kesempatan untuk menjauh dari pria yang sedang dimabuk cinta itu.


Reza dan seluruh keluarganya keluar dari mobil masing-masing, pelayan dan supir yang ikut membawa semua barang. Mereka juga akan menginap di hotel ini.


Malam pun datang.


Sean benar-benar bangun kesorean, jadi dia tidak punya kesempatan untuk bermain di sungai belakang rumah sang mama.

__ADS_1


Sean sempat menggerutu dan menyalahkan mama Ajeng, karena membuatnya bangun kesorean, Sean bahkan sampai menangis saking kesalnya.


Tapi Ajeng sudah sangat biasa menghadapi kemarahan anak itu, sampai akhirnya saat makan malam mereka berbaikan lagi.


"A, buka mulut yang lebar," ucap Ajeng, dia menyuapi Sean, padahal biasanya ini anak makan sendiri.


Sean membuka mulutnya lebar-lebar.


"Besok harus cari katak ya Ma?" pinta Sean lagi, masih terus meminta sebelum keinginannya dikabulkan.


"Hem," balas Ajeng singkat.


"Jangan bohong."


"Iyaa." balas Ajeng acuh.


"Ajeng, sama anaknya kok gitu," tegur ibu Tri.


Sean terkekeh-kekeh dan Ajeng mendelik.


Nia dan pak Wandi hanya mampu geleng-geleng kepala melihat ibu dan anak itu.


Kebahagiaan nampak jelas memenuhi keluarga itu.


Sementara di rumah Erwin, cahaya kebahagiaan sudah mulai pudar. Erwin dan Elis sejak siang tadi saling mendiami.


Bahkan saat makan malam begini, mereka pun masih betah dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2