Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 57 - Tidak Boleh Berpaling


__ADS_3

Reza benar-benar tidak ingat jika hari ini dia yang akan menjemput Sean pulang sekolah.


Dipikirnya seperti hari-hari kemarin, bahwa Deri lah yang akan menjemput sang anak.


Reza lupa jika pagi tadi dia sudah menelpon Deri dan mengatakan bahwa dia saja yang menjemput Sean.


Louis pun tidak tahu tentang hal, itu jadi dia tidak bisa mengingatkan sang Tuan.


Sesuai jadwal, di jam 10 pagi ini Reza masih bertemu dengan kliennya. Mereka bertemu di ruang meeting salah satu hotel bintang 5 di kota Jakarta, yaitu Lin Luxurious Hotel.


"Pembukaan perkebunan yang baru sudah memasuki tahap 80 persen. Tenaga kerja juga sudah siap. Kita hanya tinggal menunggu proses ini semua rampung. Perkiraan selesai dua bulan lagi," terang klien Reza, Lukman namanya. Dia lah yang memegang proyek ini. Mereka bekerja sama. Reza sebagai pemikir sementara Lukman si penggerak.


"Ku rasa lebih baik kita tinggal di sana selama 1 atau 2 minggu setelah kantor perkebunan itu selesai dibangun," ucap Lukman lagi.


Sementara Reza masih betah diam, mendengarkan sekaligus melihat proses pembangunan kantor dan perkebunannya yang baru. Banyak laporan foto-foto di atas meja mereka.


"Aku masih bujang, tidak terlalu masalah untuk menginap di sana beberapa hari. Tapi bagaimana dengan kamu? Sean pasti marah kan?" tanya Lukman lagi, dia terkekeh pelan. Sejak tadi asik sendiri tak peduli meski Reza hanya diam.


Reza melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, angka sudah menunjukkan jam 10.30 menit.


Di jam seperti ini pasti sang anak sudah tiba di rumah.


Deg!


Menyadari itu, Reza langsung mendelik matanya. Seketika ingat tentang dia yang harus menjemput sang anak.


"Astaghfirullah Man, aku harus pergi," ucap Reza dengan tergesa.


"Katakan berapa uang yang harus diberi untuk para warga di sekitar perkebunan pada Louis. Aku harus pergi sekarang," putus Reza pula.


Dia pun dengan segera meninggalkan ruang pertemuan tersebut, sementara Louis tetap tinggal di sana. Uang itu hanya bentuk kompensasi karena semua warga menyetujui tentang pembangunan perkebunan tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah lebar dan buru-buru, Reza segera turun ke lobby.


Petugas Valet hotel telah menyediakan mobilnya di depan pintu lobby tersebut. Jadi Reza bisa segera pergi dari sana tanpa perlu menuju basement.


Setelah mobil melaju Reza mengambil ponselnya di saku jas. Ponsel yang selalu dia matikan ketika sedang bertemu dengan klien.


Ternyata ada 2 panggilan tidak terjawab dari Ajeng.


"Ya Allah," gumam Reza.


Saat itu juga dia pun coba untuk menghubungi sang pengasuh Sean.


Terhubung dan terdengar bunyi Tut Tut Tut yang teratur, lalu tak lama kemudian panggilannya pun mendapatkan jawaban ...


"Halo Pa," jawab Ajeng, dan begitu Rez begitu lega ketika mendengar suara kecil itu.


"Kamu dan Sean dimana?"


"Masih di sekolah, katanya papa mau jemput."


"Katakan pada Sean sebentar lagi papa tiba," balas Reza. Setelahnya dia pun memutus sambungan telepon itu secara sepihak.


Dia tidak sadar ketika menyembut dirinya sendiri dengan sebutan Papa saat sedang bicara dengan Ajeng.


Bahkan gadis itu di ujung sana pun sampai sedikit tercengang ketika mendengarnya. Karena biasanya di antara mereka selalu menggunakan bahasa aku dan kamu.


"Apa kata papa Mbak?" tanya Sean, mereka berdua duduk berdampingan di kursi tunggu yang ada di depan sekolah tersebut.


Seorang penjaga keamanan pun masih setia di sana menunggu Sean dan Ajeng dijemput.


Sean tahu bahwa yang menelpon barusan adalah papa Reza, sebelum mbak Ajeng menjawabnya, mbak Ajeng lebih dulu mengatakan pada dia bahwa yang menelpon adalah papa.

__ADS_1


"Kata Papa dia sebentar lagi sampai," jawab Ajeng apa adanya, mereka berdua sudah menunggu hampir 1 jam.


"Mbak Ajeng mau minum? nih minum air punya ku saja," tawar Sean pula, ada botol minum di kantong sisi kanan tas Sean.


Ajeng menggeleng dengan tersenyum.


"Tidak usah Sean, mbak Ajeng tidak haus."


"Tapi lapar ya? aku juga lapar, tapi makanannya sudah ku makan saat di kelas tadi." Sean tadi membawa 3 potong sandwich.


Tapi sekarang sudah habis.


Ajeng mengangguk, dia juga lapar.


Jam 11 lewat entah berapa menit, barulah terlihat mobil hitam milik papa Reza berhenti di depan mereka.


Ajeng dan Sean pun bangkit, namun belum sempat melangkah lebih jauh papa Reza sudah lebih dulu menghampiri.


Berjongkok persis di hadapan sang anak.


"Maafkan papa Sean, papa terlambat."


"Kata mbak Ajeng terlambat tidak apa-apa, yang penting datang," balas Sean.


Ajeng mendelik, pasalnya dia tidak pernah bicara seperti itu.


Sementara papa Reza langsung menatap ke arah Ajeng. Entah apa jadinya jika tidak ada Ajeng di samping Sean.


Pasti anaknya akan kembali berulah seperti dulu.


Dan tatapan papa Reza itu, selalu berhasil membuat jantung Ajeng berdebar, sementara dia tidak punya pilihan untuk berpaling.

__ADS_1


Kini kata papa Reza, mereka harus saling menatap.


Ya Allah, udah dong lihatnya. Batin Ajeng, merana.


__ADS_2