Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 39 - Menyingkir Lah!


__ADS_3

Perlahan-lahan Ajeng menurunkan pandangannya jadi menatap lantai, dia tak akan sanggup berlama-lama bersitatap dengan papa Reza.


Jantungnya sendiri jadi tidak aman.


Ajeng hanya wanita baperan, ditatap seperti itu kedua pipinya sudah terasa panas. Dia yakin jika warnanya sudah berubah jadi merah merona.


Dan benar kekhawatiran Ajeng itu.


Papa Reza melihat dengan jelas kedua warna di pipi tersebut.


"Kenapa wajah mu jadi merah? kamu demam?" tanya papa Reza. Bicara dengan raut wajahnya yang masih setia datar.


Tak ada sedikitpun gurat kecemasan meski pertanyaan mengandung perhatian.


"Ti-tidak kok Pa, aku tidak demam, aku baik-baik saja."


"Jangan bohong, kalau sakit ya bilang sakit. Lalu berobat, jangan ditahan dan nanti jadi bertambah parah. Oma Putri bisa saja menyalahkan aku." Reza bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Ajeng yang sejak tadi duduk di hadapannya.


Mereka hanya terhalang oleh meja sofa itu.


Deg deg! deg deg! jantung Ajeng makin tak karuan saat melihat papa Reza berjalan mendekat ke arahnya. Matanya mendelik.


"Pa-papa mau apa?" tanya Ajeng gagap.

__ADS_1


Reza hanya diam saja, dia terus berjalan sampai akhirnya berdiri tepat di hadapan gadis ini.


Reza lantas mengulurkan tangan kanannya coba untuk memeriksa suhu badan Ajeng melalui kening.


Tapi Ajeng yang kaget malah mundur hingga bersandar pada sandaran sofa.


Reza tidak mundur atau pun terganggu dengan posisi itu, dia malah semakin merunduk dan benar-benar menyentuh keningnya Ajeng.


Nyes! Darah Ajeng terasa mendidih saat itu juga, dia menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan mata yang mendelik.


Tapi bukan panas yang Reza rasakan, melainkan malah terasa sangat dingin.


"Kamu keringat dingin?" tanya Reza.


"Aku baik-baik saja Pa!" balas Ajeng, kalau gugup, bicaranya jadi membentak-bentak begini.


Reza mengerutkan dahi.


"Apa perut mu sakit?" tebak Reza lagi, sungguh dia tidak ingin Ajeng kenapa-kenapa.


Karena Oma Putri sudah menitipkan bocah ini padanya. Jadi jangan sampai Ajeng jatuh sakit.


"Tidak Pa! aku baik-baik saja!"

__ADS_1


Papa yang membuat ku tidak baik-baik saja! jadi menyingkir lah!! Timpal Ajeng, tentu saja hanya mampu dia capkan di dalam hati.


"Baiklah, mungkin kamu lapar," putus Reza, menyakini pemikirannya sendiri papa Reza lantas menuju meja kerjanya, mengambil ponsel dan melakukan pemesanan makanan.


3 porsi makan siang dia pesan, harus datang tepat waktu.


Sean datang bersamaan dengan makan siang yang Reza pesan.


Bocah itu menatap mbak Ajeng-nya bingung, mbak Ajeng nampak tidak tenang dan berulang kali menghapus peluh di dahinya. Padahal ruangan ini sangat dingin.


Setelah cuci tangan, akhirnya mereka makan siang bersama. Om Louis tidak ada disini, jadi benar-benar hanya ada Ajeng, Sean dan papa Reza.


Sean memegang ayam goreng-nya, sementara Ajeng yang berulang kali menyuapi nasi. Lalu Ajeng makan untuk dia sendiri.


Reza hanya jadi pengamat keduanya, pria itu sangat jarang melihat makanannya sendiri di dalam piring.


Reza lebih banyak menatap ke arah Ajeng dan Sean.


"Aku suka sekali ayam goreng ini, pasti mbak Ajeng yang beli kan?" tebak Sean.


"Bukan mbak Ajeng Sen, papa yang beli," jawab Ajeng.


Sean lantas menatap sang ayah dengan kedua mata berbinar, sementara Reza bingung bereaksi seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2