Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 114 - Tidak Ada Niat Untuk Menolong


__ADS_3

Malam itu juga ponselnya Reza disita oleh Oma Putri, jadi yang menghubungi Ajeng malam itu adalah Oma Putri bukan papa Reza.


Tapi Ajeng paham yang namanya dipingit, jadi dia tidak merasa keberatan sedikitpun malah sangat mematuhi perintah oma Putri tersebut.


"Iya Oma, aku mengerti," jawab Ajeng, setelah Oma Putri menjelaskan panjang lebar bahwa mulai saat ini dia tidak bisa berhubungan dengan Reza lebih dulu, toh nanti mereka akan menikah. Setelah itu tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka berdua.


Dan mendengar jawaban sang calon menantu Oma Putri pun bisa bernafas lega, dia tersenyum dengan sangat hangat.


"Ya sudah, kalian tidur lah, besok Oma dan yang lain datang sekitar jam 8 ya?"


"Iya Oma," jawab Ajeng dan Sean bersamaan.


Telepon itu adalah panggilan video call, pakai ponselnya papa Reza.


Setelah saling mengucapkan salam, akhirnya telepon itu pun terputus.


Pagi datang.


Pagi-pagi sekali Sean sudah heboh ingin bermain di sungai belakang. Bukan sungai sih, itu hanya seperti aliran air kecil saja, mungkin tingginya hanya sebatas lututnya Sean.


Jadi sehabis sarapan, Ajeng dan Sean langsung pergi ke sungai tersebut.


Nia tidak ikut karena dia harus sekolah.


Sementara pak Wandi dan ibu Tri pergi ke lapangan sebentar untuk mulai melihat keadaan disana, seluruh keluarganya pun mulai membersihkan lapangan tersebut.


Erwin pun ikut juga.

__ADS_1


Sedangkan Elis tetap diam di rumah, tidak ingin ikut dalam persiapan pernikahannya Ajeng, malas.


"YE!! aku senang sekali!!" teriak Sean ketika dia sudah melihat sungai kecil tersebut, airnya jernih sekali.


Disini tidak ada katak, mungkin kataknya sedang pergi.


Tapi ada ikan-ikan kecil dalam sungai tersebut.


"Aku mau tangkap ikannya!" ucap Sean, saking semangatnya dia seperti membentak-bentak.


"Tuh kan lain lagi, katanya cari kodok!" kesal Ajeng.


"Kan kataknya tidak ada Ma! cari saja yang ada!"


"Di sini banyak nyamuk! sebaiknya kita pulang."


Anak dan calon mama itu jadi adu mulut, Sean bahkan dengan wajah liriknya langsung masuk ke sungai tersebut, tanpa persetujuan sang mama.


"SEAN!!" pekik Ajeng, dia menggaruk kepalanya frustrasi.


Meski statusnya sudah naik jadi calon mamanya Sean, tapi tetap saja Ajeng merasa takut Oma Putri dan papa Reza akan marah padanya jika tidak bisa menjaga Sean dengan baik.


Takut Sean digigit nyamuk terus demam.


Takut Sean terkena cacing dan cacingan.


Tetap saja banyak takutnya.

__ADS_1


"Hii!! Seru, serronok serronok!" ucap Sean, mengikuti cara bicaranya serial kartun kesukaannya, si kembar-kembar nakal.


Dan Ajeng makin frustrasi saja.


"Ehem!" dehem seseorang sampai membuat Ajeng dan Sean sama-sama terkejut.


Lalu melihat wanita hamil menghampiri mereka berdua, Elis.


"Cih, ternyata selera mu tidak berubah ya Jeng, masih suka main di kebun!" ucap Elis dengan sinis.


Ajeng terdiam, tak menyangka jika dipertemuan mereka kali ini Elis masih bersikap sombong seperti itu, bukannya meminta maaf.


Sean juga mengerutkan dahinya, mana terima dia mamanya dimaki seperti itu.


"Kasian keluarga Aditama mempersunting kamu, yang ada malah bikin malu," ucap Elis lagi, makin bengis ucapannya.


Ajeng lalu tersenyum.


"Sabar ya Lis, liat kebahagiaan ku ini, kamu nikmati saja mas Erwin mu itu, jangan minta diangkat jadi karyawan tetap lo ya," balas Ajeng, dia tersenyum miring.


Elis geram sekali, dia hendak menampar Ajeng, namun belum sempat tangannya terangkat, Sean sudah lebih dulu melempar ikan belut di tubuh wanita hamil tersebut.


"KYA!! Ular!!" pekik Elis, dia kelojotan merasa takut, sampai jatuh dan tangannya menyentuh eek ayam yang entah sejak kapan ada disini.


"ARGH!!" kesal Elis.


Ajeng dan Sean tertawa, tidak ada niat untuk menolong.

__ADS_1


__ADS_2