Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 75 - Pemandangan Yang Begitu Indah


__ADS_3

Hari pertama menjalankan misi.


Papa Reza sudah membuka pintu kamarnya di pagi-pagi buta, berulang kali mengintip melihat apakah Ajeng sudah naik ke lantai 2 untuk mendatangi kamar sang anak.


Jam 5 kurang 15 menit, Ajeng belum terlihat.


Jam 5 tepat belum juga nampak.


Reza melihat jam di pergelangan tangannya, lalu melihat juga jam di dinding. Angka menunjukkan jam 5 lewat 5 menit.


Reza kembali melihat keluar dan saat itu bibirnya langsung tersenyum lebar, seseorang yang sejak tadi sudah dia tunggu kedatangannya akhirnya menampakkan diri.


Buru-buru Reza keluar dan memanggil, menghampiri ...


"Ajeng!"


Deg! Ajeng langsung tersentak ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara seram yang tak asing.


Baru menoleh dia sudah melihat papa Reza berdiri tepat di hadapannya.


Reza yang awalnya ingin tersenyum lebar, seketika menggagalkan niatnya itu ketika teringat pesan sang anak untuk tetap bersikap natural saja.


Jadi Reza akan tetap menunjukkan wajahnya yang seperti biasa, wajah datar tanpa senyum berlebihan.

__ADS_1


Yang berbeda dari pria itu kini hanya satu, tatapannya terlihat lebih teduh. Tidak setajam dan sedingin biasanya.


Tapi bagi Ajeng, tatapan itu tetap sama. Tetap mengerikan dan terasa mengintimidasi.


"Selamat pagi Pa," sapa Ajeng, dia juga menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Ehem!" Reza berdehem sebelum bicara, karena mendadak gugup, bingung bagaimana mulainya. Jantungnya pun berdebar tak karuan.


Reza sungguh tidak ingin, Ajeng mengetahui tentang kegugupannya tersebut.


"Ada ... ada yang ingin aku katakan padamu Jeng," ucap papa Reza, ada jeda yang dia ambil. Berusaha membalas tatapan Ajeng yang kini membuatnya lemah.


Sementara Ajeng terus menatapnya dengan lurus.


'Ya Allah, apa yang ingin papa Reza katakan. Apa dia akan memecat ku jadi pengasuhnya Sean. Batin Ajeng.


"Aku ingin meminta maaf padamu," ucap papa Reza dengan begitu tulus, untung lah saat mengatakan kalimat tersebut dia bisa bicara dengan lancar.


Bahkan sebelum Ajeng sempat menanggapi permintaan maafnya, Reza sudah lebih dulu menjelaskan perihal apa dia meminta maaf.


Tentang perlakuan kasar yang pernah dia lakukan ketika mereka berada di apartemen Mona.


Reza mengaku sangat bersalah atas tindakan kasarnya itu.

__ADS_1


Sementara Ajeng yang mendengarkan semua penjelasan Papa Reza, seketika merasakan hati yang terasa hangat. Bahkan kedua matanya pun berangsur panas, sudah menggenang dengan yang namanya air mata.


Hati Ajeng begitu lembut, ketika diingatkan kembali tentang kejadian tersebut tentunya merasa sedih. Bahkan Ajeng masih ingat dengan jelas ketika malam itu Dia memanggil ibunya dalam sepi dan berkata ingin pulang ke kampung.


Saat Ajeng berkedip, air mata itu jatuh begitu saja. Dia buru-buru menunduk tidak ingin papa Reza melihatnya menangis.


"Maafkan Aku Jeng, ya?" pinta papa Reza.


Ajeng hanya bisa mengangguk, tak kuasa bicara karena tenggorokannya tercekat.


"Kamu menangis?" tanya Reza, karena Ajeng menunduk dia tidak bisa melihat wajah Ajeng.


Dan kali ini Ajeng menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Coba angkat wajah mu," titah papa Reza pula.


Ajeng yang tak bisa berkilah pun buru-buru menghapus air matanya sendiri dan mengangkat wajah. Menunjukkan wajahnya yang lembab.


"Maafkan aku," ucap papa Rez lagi, entah sudah berapa kali dia mengatakan kalimat tersebut.


Dan lagi-lagi Ajeng hanya bisa mengangguk.


Mereka tidak sadar, jika Sean mengintip dari balik pintu kamarnya.

__ADS_1


Bocah itu terkekeh pelan, melihat pemandangan yang begitu indah.


Jalan menuju keluarga utuh terasa begitu jelas di depan mata.


__ADS_2