
SIAP!!
Ucap seluruh anak-anak sekolah Kinderworld School, beberapa orang tua murid dan para keluarga pun mengucapkan hal yang sama. Tanda acara perayaan ulang tahun sekolah akan dimulai.
Pembukaan yang dilaksanakan penuh haru tak kala anak-anak bernyanyi dan mengingat tentang kenangan di sekolah. Sean pun ikut bernyanyi di depan sana.
Katua yayasan juga mengucapkan terima kasih selama ini anak murid bersikap baik dalam kegiatan belajar mengajar.
Sampai akhirnya acara perlombaan pun dimulai.
Ajeng lebih dulu mengganti bajunya agar lebih leluasa, dia ditemani oleh Rilly menuju kamar ganti, toilet wanita di sekolah tersebut.
Entah sudah berapa kali Rilly selalu bertanya tentang kejelasan hubungan Ajeng dan mas Reza, dan Ajeng selalu menjawab dengan bingung.
"Tidak tahu kak, kata papa begitu. Kejadiannya begitu cepat, aku sendiri bingung," jawab Ajeng apa adanya, menjawab sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raut wajahnya juga nampak murung.
Ingin menjawab tidak tapi dia takut salah, takut membuat Sean dan Papa Reza marah. Tapi menjawab IYA pun rasanya dia seperti orang yang tidak tahu diri.
Ajeng bingung, sangat bingung.
"Sabar ya Jeng, beranikan dirimu untuk menghadapi mas Reza," balas Rilly.
__ADS_1
"Kak Rilly tidak marah?"
"Marah kenapa?"
"Aku, aku kan hanya pengasuh."
"Bukan itu masalahnya Jeng. Selama ini yang aku tau mas Reza tidak pernah memperlakukan kamu dengan baik, dia selalu dingin dan bersikap semaunya. Aku hanya takut dia membuatmu tertekan," jelas Rilly panjang lebar, Rilly masih belum yakin tentang hubungan ini. Rilly takut kakaknya itu menjadikan Ajeng sebagai calon istri hanya gara-gara keinginan Sean.
Bukan karena cinta, bukan karena keinginan sendiri.
Rilly takut kelak kakaknya itu tidak memperlakukan Ajeng dengan baik, tidak memberikan cinta, kembali menjalani pernikahan yang kacau sama seperti Mona dulu.
Ajeng terdiam, jangankan kak Rilly, dia pun bingung kenapa papa Reza tiba-tiba jadi seperti ini.
Selesai mengganti bajunya Ajeng dan kak Rilly pun kembali ke kursi mereka.
Ajeng mengikat rambutnya tinggi hingga membuat papa Reza kembali terpesona.
Permainan pertama dimulai, Ajeng, Sean dan Papa Reza turun ke lapangan. Menggunakan baju senada mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Apalagi Sean tidak pernah canggung ketika memanggil Ajeng dengan sebutan mama.
__ADS_1
Ryan yang menyaksikan Pemandangan itu hanya mampu menatap nanar. Ada bagian di sudut hatinya yang merasa tidak rela tapi dia memang tidak bisa melakukan apapun.
Sadar jika tentang Sean dia tidak bisa berdebat. Sean yang bahagia seperti itu tidak mungkin dia sakiti.
Selama permainan itu dimulai, Tim Sean selalu kalah dan Ajeng adalah penyebab kekalahan meraka.
Ajeng yang selalu gugup selalu membuatnya hilang konsentrasi, tatapan papa Reza yang begitu dalam membuatnya tak punya kendali atas diri sendiri.
Ya Allah, Ajeng hanya bisa terus membatin seperti itu.
5 permainan yang mereka mainkan dan poinnya adalah 0.
Tapi Sean senang sekali, papa Reza bahkan berulang kali tersenyum dengan begitu lebar.
Papa Reza juga bergerak menghapus keringat yang muncul di dahi Ajeng, hingga membuat gadis itu kaku.
"Kamu pasti lelah," ucap papa Reza, dia tersenyum lagi dan rasanya Ajeng ingin mati saja.
Perubahan ini sungguh tidak nyata! entah bagaimana caranya agar Ajeng bisa percaya.
Priiit!!! peluit panjang pun berbunyi, tanda jika semua permainan telah usai.
__ADS_1