Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 152 - Dia Cemburu


__ADS_3

Pagi itu papa Reza membuat heboh satu perusahaan. Pria berwajah dingin itu datang dengan menenteng sebuah kotak bekal berwarna merah muda.


Di antara rasa takut semua karyawan, mereka pun jadi mengulum senyum.


Masih tidak menyangka jika pria mengerikan itu akan tunduk pada istri kecilnya.


"Ya Allah, pria kalau sudah bucin ya seperti itu," gumam seorang wanita. Beberapa orang yang mendengar pun langsung terkekeh pelan.


"Aku juga mau punya suami seperti pak Reza, dia kelihatan sekali menyayangi istrinya."


Semua orang dibuat gemas oleh petinggi perusahaan Aditama tersebut.


Meski sudah kembali menikah, tapi pesonanya tidak meluntur. Malah jadi semakin menjadi-jadi.


Di tempat lain.


Ajeng telah tiba di sekolah sang anak. Baru sejenak dia memarkirkan mobilnya di seberang sekolah, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik yang tak asing turun dari dalam mobil berwarna putih.


Deg!


Itu adalah mama Mona.


Ajeng memang tidak menghafal mobilnya, tapi wajah cantik itu terekam jelas di dalam ingatan.


Ternyata benar, mama Mona datang lagi. Mengisyaratkan bahwa wanita itu memiliki maksud tersendiri. Jika hanya rindu, mungkin sekali bertemu akan terobati.


Tapi jika punya maksud lain, maka Mama Mona akan datang setiap hari menemui Sean.

__ADS_1


tanpa direncanakan, tiba-tiba hati Ajeng jadi sedih sendiri.


Sumpah, sebenarnya dia merasa sangat ikhlas ketika Sean bertemu dengan ibu kandungnya. Tapi entah kenapa, sekarang ternyata dia cemburu juga.


Deri melirik sekilas melalui kaca di atas kepalanya, melihat apakah sang nyonya baik-baik saja melihat pemandangan tersebut.


"Bagaimana Bu, mau turun?" tanya Deri, semenjak Ajeng menikah dengan pak Reza, kini Deri pun memanggilnya dengan sebutan ibu Ajeng.


"Tidak usah Om, kita lihat dari sini saja dulu," jawab Ajeng. ketika menjawab itu kedua matanya tetap tertuju lurus ke arah sekolahan, tidak berpaling sedikitpun meski hanya untuk menatap sang supir yang mengajaknya bicara.


Hatinya seperti ditusuk-tusuk sebuah jarum, sakit tapi sedikit-sedikit.


Sekitar 15 menit menunggu akhirnya Ajeng melihat mama Mona yang keluar dari sekolah tersebut.


Ajeng masih saja merasakan sesak di dada, mungkin perlahan dia akan berubah jadi egois. Perlahan tidak rela jika Sean kembali bersama ibunya.


Hari itu Ajeng menunggu di ruang tunggu dengan hatinya yang galau. Jadi bertanya-tanya apa tujuan mama Mona.


Dia menunggu di kursi yang sama disaat dia masih menjadi pengasuh. Tapi sekarang sedikit ada pembeda.


Guru penjaga memberinya sebuah botol air mineral.


Sean saat itu tidak tahu jika mama Ajeng menunggu, jadi saat dia keluar dari kelas dan melihat mama Ajeng duduk di sana Sean langsung berlari dengan riang.


Bahkan meninggalkan Sherina yang tadi berjalan di sampingnya.


"Mamaa!" panggil Sean.

__ADS_1


Ajeng bangkit dan langsung menyambut pelukan sang anak.


"Mama menunggu ku? apa sudah lama?" tanya Sean bertubi.


"Mama baru saja tiba," bohong Ajeng. Tanpa disadari selalu banyak kebohongan-kebohonhan kecil seperti ini. Hanya untuk menyenangkan orang-orang yang kita cintai.


"Ayo pulang," ajak mama Ajeng, Sean mengangguk dengan antusias.


Tapi kemudian tatapan Ajeng tertuju pada sebuah benda yang dibawa oleh sang anak.


Entah apa itu, yang jelas bukan yang disediakan olehnya.


"Sean, itu apa ditangan mu?" tanya mama Ajeng, diantara langkah kaki mereka keluar dari sekolah.


"Oh ini, aku belum lihat isinya. Tadi mama Mona datang lagi dan memberiku ini, katanya robot Batman," jawab Sean apa adanya.


Dan makin sendu lah perasaan Ajeng ketika mendengar itu.


Ini hari pertama.


Sampai hari ke 5 Ajeng mengawasi, mama Mona terus mendatangi Sean.


Meski tiap kali Sean bertemu dengan sang mama selalu menceritakan kepadanya, tapi tetap saja Ajeng merasa sedih.


Dia cemburu.


Ya Allah, batin Ajeng, menyentuh daddanya yang sesak.

__ADS_1


__ADS_2