Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 67 - Ada Apa Sih?


__ADS_3

Pembicaraannya dengan Ryan membuat papa Reza semakin menyelami hatinya sendiri. Tentang sebuah rasa yang selalu tertuju untuk Ajeng.


Benarkah itu suka?


Lalu apakah salah jika dia menyukai pengasuh anaknya sendiri?


Sepanjang perjalanan Dia menaiki anak tangga menuju lantai 2, Reza terus memikirkan Ajeng, Ajeng dan Ajeng.


Wanita bertubuh mungil itu telah benar-benar menguasai pikirannya, Bagaimana tidak karena tiap kali membayangkannya seperti ini saja jantungnya sudah berdegup penuh debar.


Senyumnya, rambutnya, leher jenjangnya. Saat dia tidur, saat dia makan, entah kenapa Reza merekam jelas semua gerak-gerak wanita itu.


Bahkan kejadian di taman saat mereka mengejar Malvin pun kini bukan lagi menjadi kenangan yang menyebalkan, malah terkesan lucu untuk duda satu anak ini.


Jika Ajeng adalah wanita yang setara dengan dia mungkin Reza akan dengan mudah menerima perasaan ini. Tapi karena tidak seperti itu dia jadi butuh waktu.


Kata pelayan di bawah tadi, Ajeng sedang menemani Sean mandi. Jadi Reza berencana untuk langsung mendatangi kamar sang anak.


Dan Ryan yang melihat kakaknya hendak menuju kamar Sean, dia jadi mengurungkannya untuk pergi ke sana. Ryan putuskan untuk langsung masuk ke kamarnya sendiri.


Membuka pintu kamar Sean, Reza langsung melihat Ajeng yang berdiri di depan pintu kamar mandi, sementara dari dalam kamar mandi tersebut terdengar suara gemericik air.

__ADS_1


Dan Ajeng yang melihat papa Reza datang, seketika berdenyut hatinya. Langsung ingat tentang telepon marah-marah tadi.


"Sean sedang mandi Pa," jelas Ajeng saat Reza sudah berdiri di tengah-tengah kamar ini, menatap ke arahnya.


Tatapan yang lurus, tatapan yang selalu membuat Ajeng gemetar, namun dia harus selalu membalas tatapan pria dingin itu.


"Aku tau," balas Reza, entalah kenapa malah 2 kata itu yang keluar dari mulutnya.


Padahal sumpah, sejak tadi Reza sudah memikirkan banyak kata-kata yang ingin dia ucapkan untuk Ajeng. Hanya sekedar membuat hubungan mereka tidak canggung.


Tapi apa yang terjadi sekarang, dia malah menjawab Aku Tahu saja, membuat kedaan cepat sekali jadi hening lagi.


Jadi mereka hanya saling tatap tanpa kata-kata.


Sungguh, Ajeng sangat berharap Sean segera keluar dari dalam kamar mandi tersebut, tapi entah kenapa dia merasa kali ini Sean mandinya jadi lamaaaaa sekali.


"Ehem!" Reza sampai berdehem.


"Hari minggu besok aku akan datang ke acara ulang tahun sekolah Sean," ucap Reza, hanya pembahasan tentang ulang tahun sekolah itu saja yang terlintas jelas di benaknya.


Berhadapan dengan Ajeng, Reza tak pernah menyangka jika dia bisa merasakan gugup. Merasakan bingung mau bicara apa lagi.

__ADS_1


"Alhamdulillah ka-kalau begitu," balas Ajeng dengan cepat, bahkan sepertinya dia menjawab sebelum papa Reza menyelesaikan ucapannya.


Hingga membuat hening kembali mengambil alih.


Ya Allah, kenapa jadi absurd giniiii? batin Ajeng, rasanya saat ini juga dia ingin berlari kabur.


Tapi tatapan papa Reza itu seperti meranttai kedua kakinya. Dia tidak bisa kemana-mana.


Tanpa diketahui oleh Ajeng, jika Reza pun bingung juga dengan keadaan seperti ini.


Sama seperti saat menghadapi Sean, kini Reza pun bingung bagaimana caranya menghadapi Ajeng.


Kedua orang itu sama-sama menghembuskan nafasnya lega saat akhirnya pintu kamar mandi terbuka.


Sean keluar.


Alhamdulillah. Batin Ajeng dan papa Reza bersamaan.


Sean jadi yang kikuk, kenapa mbak Ajeng-nya dan papa Reza langsung menatap ke arahnya intens.


Ada apa sih? batin bocah kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2