
Siang itu Oma Putri menelpon Ajeng, mengatakan bahwa dia telah tiba di desa ini dan nanti sore akan berkunjung karena Sean ingin menginap di sana.
Ajeng senang sekali, dia lalu menyampaikan kabar bahagia itu pada seluruh keluarganya.
Di rumah Ajeng sekarang sudah sangat ramai, orang-orang di desa sana menyebutkan tradisi rewang. Jadi tiap ada acara nikahan seperti ini keluarga dan para tetangga akan berkumpul untuk membuat makanan yang akan disajikan di hari H.
Tenda besar juga sudah dipasang untuk tempat memasak bersama.
Nikahan Ajeng kali ini sudah seperti pesta rakyat, apalagi tamunya sampai 10 ribu.
Ajeng buru-buru mandi setelah mendapat telepon dari Oma Putri, dipikirnya papa Reza lah yang akan mengantar Sean dan Oma Putri kesini, jadi dia ingin dandan cantik-cantik.
Sudah beberapa hari ini Ajeng juga selalu melakukan perawatan tubuh, jadi kini makin terlihat kinyis-kinyis saja gadis cantik itu. Seperti ratu Ajeng tidak pernah menyentuh yang namanya dapur.
Jam 5 sore akhirnya Ajeng telah siap, menggunakan gaun berwarna peach dia sudah menunggu.
"Masya Allah cantiknyaa," ucap Nia dengan kedua mata berbinar.
Ajeng yang malu-malu langsung memukul lengan adiknya itu.
Plak!
"Astagfirullah, sakit mbak!" kesal Nia, jadi menyesal sudah memuji.
Ajeng malah tersenyum-senyum sendiri, sudah tidak sabar mendengar papa Reza yang memanggilnya cantik.
__ADS_1
Ahhhh. hanya membayangkannya saja Ajeng sudah meleleh.
TIN! TIN!!
Suara klakson mobil mulai terdengar, Ajeng langsung berlari keluar, Nia pun mengikuti. Ibu Tri yang berada di dapur pun langsung keluar juga. Bi Ratih juga sudah pulang kesini, jadi dia ikut menyambut kedatangan Oma Putri.
"Mama!!" panggil Sean dengan antusias, setelah turun dia langsung berlari memeluk mamanya.
Ajeng pun berjongkok dan membalas pelukan itu. Kedua mata menelisik siapa yang akan turun dari pintu kursi kemudi, dia kira papa Reza tapi ternyata malah om Ryan.
Yah, berarti papa nggak ikut. Batin Ajeng, nelangsa.
"Kenapa papa tidak ikut?" tanya Ajeng pada sang anak.
"Kan sedang dipingit Ma, kata oma artinya papa harus dikurung," balas Sean, lalu tertawa. Sementara Ajeng mencebik.
Oma Putri bergabung dengan para ibu-ibu di sana, sementara om Ryan bergabung dengan para pemuda, meski berakhir dia yang diam saja.
Sean sudah di ajak masuk kamar oleh Ajeng, sebelum anak itu berisik minta main ke sungai di belakang.
"Ma, kunci pintunya," pinta Sean.
"Kenapa dikunci?" tanya Ajeng, dahinya berkerut.
"Aku dan Papa tadi sudah sepakat, tiba disini kita langsung hubungi papa di rumah," ucap Sean dengan bibir yang mengulum senyum.
__ADS_1
Sementara Ajeng langsung tersenyum lebar saat mendengar ucapan anaknya itu.
"Telepon ke siapa? bukannya hp papa dibawa Oma?" tanya Ajeng.
"Telepon ke nomor kak Rilly, aku dan Papa sudah mencuri hp kak Rilly."
"Astagfirullahal Azim," ucap Ajeng bercampur geram, bingung antara mau marah atau senang.
"Cepat Ma, Telepon nomor kak Rilly," titah Sean lagi dan Ajeng langsung menurut.
Kemarahannya kalah dengan rindu yang sudah menggebu.
Tidak butuh waktu lama setelah telepon itu tersambung, papa Reza langsung menjawabnya.
Dan berujung mereka yang saling pandang.
"Assalamualaikum Pa," ucap Ajeng malu-malu.
"Waalaikumsalam sayang," jawab papa Reza.
Ya Allah, saking gemasnya Ajeng sampai ingin melempar ponselnya sendiri.
"Heleh sayang sayang, aku tidak pernah dipanggil sayang," celetuk Sean.
Ajeng langsung menyembunyikan anaknya itu dibawah ketiak.
__ADS_1
"Mama!!" pekik Sean.
Ajeng tertawa disusul papa Reza.