PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 9


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar Apartemen mewah itu sangat berantakan, barang-barang mewah disana tampak hancur tak berbentuk lagi. Bahkan bukan hanya di kamar milik nya, di ruang tamu juga terdapat banyak barang-barang mewah sudah hancur tak menyisakan bentuk nya lagi.


Disudut kamar terlihat seseorang dengan keadaan yang sangat kacau.


Ia hancur ...


Ia menangis seorang diri ..


Ia tak sanggup harus melakukan semua nya .


Ia kecewa..


Ia marah...


Bukan terhadap wanita nya yang meminta untuk pergi..


Bukan karena perasaan cinta nya yang terlalu dalam..


Tetapi ia marah dengan keadaan yang mengharuskan ia tak memiliki pilihan lain.


Semua demi wanita nya.


Ia tak mengapa bila harus tetap terdiam akan cinta nya.


Ia tak mengapa bila cinta nya tak terbalaskan.


Namun... wanita nya ingin meminta untuk pergi..


Wanita nya meminta untuk melupakan cinta yang sudah lama ia pendam.


Ia menyesali telah menyatakan cinta nya.


Bila waktu dapat ia putar kembali, ia akan memilih tak akan menyatakan cinta nya .


Ia lebih bahagia bila harus memendam cinta nya agar terus bisa melihat wajah cantik wanita yang ia cintai dari pada harus pergi dan tidak akan kembali..


Dimas menangis di sudut kamar nya. Ia mengambil ponsel nya di saku celana nya. ia menghubungi seseorang .


📱Dimas


*"Rio, urus pindahan kita ke Jerman. Besok kita harus sudah berangkat." ucapnya dengan suara yang serak.


...📲 Rio...


...*Lo kenapa Dim? Lo dimana sekarang?...


📱Dimas


*Gue di apartemen


...📲 Rio...


...*gue kesana sekarang...


Rio melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat mengkhawatir kan bos dan sahabat nya itu. Karena ia juga di beri tanggung jawab oleh kedua orang tua Dimas.


Lima belas menit kemudian


Rio telah sampai di lobby apartemen Dimas. ia menuju lift dan memencet tombol 12 menuju apartemen Dimas.


Setelah sampai di depan pintu apartemen ia memencet tombol sandi apartemen tersebut.


Saat memasuki apartemen Dimas, Ia sangat terkejut melihat isi ruangan tersebut sudah sangat berantakan.

__ADS_1


Rio semakin panik dengan keadaan sahabatnya itu. Ia berjalan cepat menuju kamar milik sahabat nya.


Gelap.. Lampu kamar sengaja di padamkan oleh Dimas.


Rio mencari saklar lampu dengan meraba-raba dinding kamar mewah itu.


Ia juga tak kalah terkejutnya melihat keadaan isi kamar itu.


Rio melihat Dimas terduduk disudut ruangan dengan memeluk kedua kaki nya.


Rio menghampirinya.


"Lo kenapa Dim? apa yang terjadi?" tanya Rio penuh dengan kekhawatiran.


"Dia meminta gue pergi Yo."


"Apa maksud Lo? bicara yang jelas Dim."


Dimas mendongakkan kepala nya menatap sahabatnya itu. Lalu ia pun menceritakan kejadian saat ia mengungkapkan perasaan nya dan saat di restoran saat malam tadi.


FLASHBACK ON


"Kamu harus pergi Dim, ini demi kebaikan kita berdua."


"Apa maksud kamu Dinda? aku baik-baik saja walau aku tak bisa memiliki mu." Tukas Dimas tak senang dengan perkataan Dinda.


Dinda menggeleng. "Dengarkan aku Dimas.. Aril adalah mantan kekasih ku, dan kamu tahu kami berpisah karena dia menikah dengan orang yang sudah dijodohkan untuk nya, bahkan dia mengatakan kalau dia masih sangat mencintai ku."


"Lalu apakah kamu masih mencintai lelaki b**ing*an itu Din?" tanya Dimas


Dinda terdiam sesaat menyusuri hati nya apakah masih ada Aril atau tidak di hatinya.


"Tidak. saat aku mengetahui dia meninggalkan ku karena dia menikahi wanita lain.. disaat itu aku membuang semua perasaan ku untuk nya."


"Tapi harus kamu tahu Dim.. walau cinta itu sudah tidak ada, bila sering bertemu pasti kenangan itu selalu kita ingat." Dinda menjelaskan penuh kelembutan.


"Dan kamu tahu keadaan ku, aku akan terus terhubung dengan Aril karena keadaan ku yang sekarang, Aku tak ingin kamu melihat penderitaan ku, dan aku ingin kamu bahagia Dim." Ucap Dinda penuh kelembutan.


"Kamu mau kan menuruti permintaan ku Dim? berbahagialah Dim, coba lah membuka hati mu untuk wanita lain Dim..." Dinda menggenggam erat tangan tangan Dimas untuk meyakinkan bahwa keputusan nya ini tepat.


"Apa kamu sudah mencintai suami mu Din?".


Dimas mengalihkan pembicaraan nya. ia masih ingin berlama-lama dengan wanita di depan nya. Karena ia akan menerima permintaan wanita yang ia cintai itu.


"Untuk saat ini belum."


"Apakah kamu berniat untuk mencintai nya?"


"Entahlah, setidaknya aku akan mencoba tapi yang pasti aku tak ingin mencintai terlalu dalam, aku takut hati ku patah kembali."


"Jika keadaan mu masih sendiri, apakah kamu akan menerima ku bila aku melamar mu Din?" tanya Dimas untuk menyakinkan hatinya bertahan dengan rasa cinta nya atau akan mencoba menggantikan dengan cinta yang lain.


"Tentu Dim, sekali lagi ku katakan. Pasti aku langsung menerima mu.. pasti dengan mudah aku jatuh cinta dengan mu. Karena aku percaya cinta mu tulus padaku. Dan jika suatu saat kamu bertanya seperti ini lagi apabila kamu masih mencintai ku, jawaban ku akan tetap sama Dim.. tetapi tolong, jika hal itu terjadi namun kamu sudah meragukan perasaan mu terhadap ku, jangan pernah tanyakan pertanyaan itu Dim, maka itu akan sangat menyakitiku.." Dinda tersenyum menatap Dimas. ia sangat percaya akan perasaan Dimas terhadap nya.


Dimas mengangguk dan menarik Dinda kedalam pelukan nya. Ia memeluk nya sangat erat. Seakan tak rela bila waktu terakhir nya ini akan berakhir..


Dimas masih memeluk Dinda. "Aku mencintaimu." Dimas mengecup pucuk kepala Dinda sangat lembut berulang-ulang.


Toni yang melihat nya pun langsung berdehem.


"Eheemm.."


Sebenernya Toni terharu akan Cinta Dimas, ingin memberikan waktu yang cukup lama untuk kedua nya namun ia tak memiliki kuasa akan hal itu, Dinda sudah bersuami . Dia harus bisa menjadi pengingat untuk Dinda.

__ADS_1


"Tuan sudah mengirim pesan agar kita segera pulang Nyonya."


"ah yaa.. baiklah.." Dinda melepaskan pelukannya menatap wajah Tampan adik kelas nya itu.


"Oke Tampan.. sudah waktunya kita berpisah, kabari aku jika kamu akan berangkat ya.. aku akan ikut mengantar mu."


Dimas mengangguk. Mereka bertiga keluar dari ruangan . Toni menuju kasir untuk membayar tagihan makanan mereka.


Dinda dan Dimas berjalan beriringan keluar restoran.


Saat sudah berada diparkiran Dinda berbicara kembali.


"Dim, berjanjilah untuk menjaga kesehatan, jangan merokok apalagi sampai kamu mabuk-mabukan ya."


"kamu cerewet sekali Din."


Mereka berdua pun tertawa bersama. Walau dihati Dimas sudah sangat hancur.


"Aku serius Dim, belajarlah dengan giat, Kuliah, bekerja keras lah untuk pasangan mu kelak." Nasihat Dinda penuh dengan ketulusan.


"Ya aku berjanji Din,,, dan kamu harus bahagia ya.. jaga Anak mu untuk ku, andai aku lebih cepat melamar mu, pasti kita sangat bahagia."


"Hei.. masih sekolah Uda mikirin nikah,"


"Umurku sudah 17 tahun, aku sudah bisa menikahimu."


"Jangan begitu... semua sudah terlambat Dim. oh iya kamu jangan sampai menjadi Playboy ya?"


"Emang nya kenapa ?"


"Aku meminta mu untuk untuk menerima cinta yang baru bukan berarti harus semua wanita kamu terima."


"Lalu bagaimana Dinda ?"


Dinda membelai pipi Dimas sangat lembut "Aku tak ingin wajah tampan Bule Medan ku ini menjadi barang obral. Kamu mengerti kan?"


Dimas terpejam merasakan belaian tangan Dinda. Sangat lembut, nyaman, bagaimana bisa aku melupakan mu Din ? kamu belum mencintai ku saja sudah sangat membuat aku berkali-kali jatuh cinta kepada mu.


"ya Aku janji Din.. dan aku juga ingin kamu kuliah Din,"


Dimas memeluk nya lagi, mengecup pucuk nya dengan lembut berkali-kali.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan mu ini." Dinda tersenyum. "Terimakasih Dim."


Toni menghampiri mereka untuk mengajak istri tuan nya pulang.


Toni membungkuk tanda hormat . "Ayo kita pulang,"


Dimas melepaskan pelukan nya. "Aku mencintaimu Din."


Dinda tersenyum tanpa membalas kalimat nya itu.


"Aku pulang dulu Dim. kabari besok jam berapa ya?"


"Iya, aku pulang ya?"


FLASHBACK OFF


🌸


🌸


🌸

__ADS_1


Mohon dukungan like komen dan vote nya ya..


TBC


__ADS_2