
Disinilah Dinda di ruang tunggu menunggu giliran untuk memeriksa kandungan nya.
Ia duduk sendirian namun ada dua makhluk yang setia berdiri di belakang nya.
Dinda melihat sepasang suami-istri di depan nya dengan tatapan sendu.
Indah nya.. beruntung sekali wanita itu bisa di dampingi suami nya . Sedangkan aku? Didampingi ayah janin ini, namun aku adalah majikan nya.. Dinda menghela nafas panjang.
Aril dan Toni yang melihat Dinda pun merasa iba.
Aril membungkuk kan tubuh nya, Dia membisikkan sesuatu ke telinga Dinda.
"maafkan aku, sekarang kita periksa anak kita bersama-sama ya." bisik Aril.
Dinda mengiyakan dengan mengangguk.
Terdengar bisik-bisik membicarakan Dinda .
*Wah siapa suami nya itu? sebelah kanan atau kiri?
zaman sudah berubah, sekarang memiliki dua suami bukan dua istri lagi
ck.. kedua nya sama tampan nya*.
Dinda hanya menundukkan kepala, air mata nya menetes mendengar itu.
Hati nya sakit.. luka yang lama belum hilang semakin ditambah luka yang baru.
Tidak bisakah hati ini memiliki sedikit ruang untuk kebahagiaan ?
Mengapa hanya ada luka memenuhi ruang hati nya?
Seorang suster keluar dan memanggil nama nya.
"Ny.Dinda Lestari"
Dinda yang mendengar namanya dipanggil mengusap air mata nya.
Semua pasien diruang tunggu melihat kearah nya.
Dinda menyadari itu, ia langsung menggandeng lengan Toni dan Aril.
Sekarang ia berada diantar lelaki tampan .
Ia tak peduli lagi apa yang akan dikatakan mereka.
Aril dan Toni mendapat perlakuan seperti itu hanya mengikuti perlakuan Dinda karena Dinda adalah majikan nya.
Mereka bertiga masuk kedalam ruang dokter.
Dokter kandungan bernama Dr.Lita itupun terkejut melihat pasien nya masuk dengan dua orang lelaki.
"Dengan Ibu Dinda Lestari?" tanya Dokter Lita.
"Saya belum Ibu-ibu Dokter." Protes Dinda karena ia memang tak ingin menerima panggilan untuk umur yang sudah tua itu.
"Ah iya maafkan saya Nyonya Dinda Lestari." mengubah panggilan lagi untuk pasien nya ini.
"Jangan panggil Nyonya dong Dok.." Dinda mulai kesal kepada sang Dokter.
Dua lelaki itu saling pandang, seakan tahu akan terjadi sesuatu yang buruk bila majikan nya sudah dipanggil dengan sebutan Nyonya akibat nya mereka berdua lah terancam dari amarah Tuan nya.
Dinda sudah cemberut di dalam ruangan itu,
"Maafkan saya Nyonya, saya menghargai setiap pasien saya maka dari itu saya memanggil pasien saya Ibu atau Nyonya, bukan bermaksud mengatai anda sudah tua." Jelas Dr.Lita sopan.
"Tuh kan Nyonya lagi." Dinda benar-benar kesal dengan sebutan itu.
ia ingin marah, tapi ia juga ingin menangis .
Saat hamil seperti ini ia menyadari bahwa dirinya kembali manja seperti dulu. Namun ia juga menyadari ia berlebihan untuk hal sepele seperti ini. Ia hanya tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Dinda mengambil ponsel di tas selempang mini nya. Ia hendak menelpon suami nya.
Dengan sigap Toni merebut ponsel Dinda memutuskan sambungan telepon itu dan memasukkan kembali ponsel Dinda kedalam tas mini milik Dinda.
Aril juga mencoba menenangkan Dinda.
"Dinda, sudah dong jangan marah.. kita lihat anak kita saja ya.. nanti cantik kamu berkurang loh.." Rayu Aril berusaha menenangkan Dinda.
Tetapi perkataan itu membuat Dinda salah paham. "Jadi aku sudah tidak cantik gitu?" Tanya Dinda dengan wajah memerah menahan amarah.
"Bu-bukan be-begitu Din.." jawabnya gugup.
"Woy pengawal.. tolongin gue dong." mohon Aril.
"Ck... baiklah."
Dokter dan suster yang berada di ruang pemeriksaan itu pun hanya bisa diam menonton pertunjukan dari tiga orang didepan mereka.
"Din.. Uda dong, masih banyak pasien ngantri di luar loh, waktu dokter terbuang sia-sia karena kamu.." bujuk Toni berharap Dinda mengerti.
Dinda kembali salah paham kepada kedua anak buah suaminya itu.
Dinda diam tidak berkata lagi. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
Tuutt..Tuuttt...
Telepon Dinda pun diangkat dari seberang sana, Dia adalah Arga, belum juga menyapa keadaan istri nya itu sudah Menangis membuat ia khawatir.
📲Arga
"Hei.. ada apa Din?" tanya Arga panik.
Dinda melihat kedua anak buah suami nya itu.
📱Dinda
"Hiks..hiks. hikss... Abang... "
Kedua lelaki itu saling pandang lesu..
📲Arga
*Dinda kenapa? apakah terjadi sesuatu?
📱Dinda
*Temani Dinda periksa anak kita bang..
Masih dengan nada tersedu-sedu.
📲Arga
*Loh.. Aril dan pengawal kamu kemana Din?
📱Dinda
*Lupakan mereka berdua... (Dinda diam sejenak menatap kedua lelaki yang saat ini di hadapan nya dengan wajah memucat.)
*Pecat aja mereka. Dinda tunggu bang.
Arga yakin terjadi sesuatu disana.
📲Arga
*Iya, tunggu Abang disana. Kamu tenang disana ya..
Arga mematikan sambungan telepon mereka.
ia langsung berangkat kerumah sakit.
Sedangkan di ruangan bernuansa putih itu Dinda kembali duduk di depan sang Dokter.
__ADS_1
"Maafkan Dinda ya Dokter." Dinda tersenyum manis setelah manangis mengaduh dengan sang suami.
"iya tak apa." jawab dokter itu .
Toni mendekat ke arah Dindaencoba jurus rayuan nya.
"Din.. kamu gak berniat untuk menyuruh Tuan Arga memecat kakak kan?"
"Biar saja kakak di pecat jadi tidak harus mengikuti ku lagi." Jawab Dinda berakting serius.
"Jangan begitu, hukum saja kakak tapi jangan dipecat.. kakak tak mau kembali ke Jakarta." Toni memang tidak ingin kembali ke Jakarta karena ia akan teringat dengan tunangan nya yang telah tiada.
Ck... Dinda hanya berdecak.
Aril juga mencoba mendekati Dinda .. Ia sedikit membungkuk sehingga tubuh mereka berdua berdekatan.. Seketika harum tubuh Aril tercium oleh Dinda..
Dinda memejamkan matanya.. ia menikmati harum tubuh Aril.. Sangat nyaman ya nak.. rasanya mommy ingin memeluk papamu ini. gumam Dinda dalam hati.
Saat Dinda menyadari jarak mereka sudah terlalu dekat, Dinda langsung berbicara lagi sebelum Aril berbicara .
"Baiklah kalian berdua hanya ku hukum aja."
"Baiklah" Jawab mereka berdua serempak.
Tiga puluh menit kemudian
Arga baru saja berada di dalam ruang dokter kandungan istrinya itu.
"Maafkan istri saya dokter, Dia lebih sensitif setelah hamil ini."
"Tidak apa-apa Tuan. Saya mengerti. Istri anda sangat menggemaskan. Istri anda bisa membuat dua lelaki tampan itu ketakutan." Dr.Lita terkekeh melihat pasien nya.
"Baiklah kita periksa janin Dinda ya.."
Dinda bangkit dan berbaring di bantu suster.
Perut Dinda diberikan gel dan alat itu di gerak-gerak kan oleh dokter.
Arga mendampingi Dinda sedangkan Aril dan Toni berada di depan meja sang dokter, di meja itu juga terdapat komputer yang terhubung dengan alat USG disana.
"Wah.. anak nya sangat sehat, dengarkan detak jantung janin sehat, berat badan juga normal 140 gram, dan tinggi sudah 13cm."
Dinda dan Arga tersenyum, "Terimah kasih Din.."
Aril yang melihat gambar janin di layar monitor di depan nya segera mengambil ponsel nya dan memotret nya.
Toni yang mengetahui hal itu hanya diam walau sebenarnya ia curiga..
Setelah selesai memeriksa, berkonsultasi, dan menebus vitamin untuk Dinda, Arga pamit pergi bersama Aril.
"Kak.. main kemana gitu kak.."
"Kemana?"
"Tak tau lah.. tapi aku lapar" jawab Dinda ketus menggunakan logat bicara orang Medan.
"Mau makan apa Din?"
"pengen seafood masakan kakak." jawab Dinda santai
"ck.. yang lain.. kakak gak bisa Dinda.."
"apa yang bisa aja deh."
"Yaudah, kita ke apartemen kakak sekarang."
*****
🌸
🌸
__ADS_1
Jangan lupa di like ya
TBC