PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 102 Dinda Larasati


__ADS_3

Aku Sudah Tidak Perawan


Apa yang harus dilakukan ketika aku sudah mengecap janji manis laki-laki, aku telah terjatuh dalam rayuan dan hanyut dalam janji kosongnya. Aku telah dijamah sebelum dihalalkan.


Kehilangan kehormatan adalah hal yang menyakitkan, ketika ia telah direnggut paksa atau mungkin karena khilaf semata. Akan tetapi menangisinya pun percuma, karena ia tidak akan pernah kembali. Meratap atau bersedih terlalu lama juga hal yang sia-sia.


Aku terus meyakinkan diriku bahwa kehilangan kehormatan bukanlah akhir dari segalanya. Aku memang kehilangan hal yang berharga, tetapi saat Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri maka inilah kesempatan yang Tuhan berikan untuk berubah.


Mencoba tenang, karena aku masih menjadi perempuan seutuhnya. Jadikanlah pelajaran apa yang telah terjadi kemarin. Yang berlalu tak mungkin aku dapat ulang kembali. Sesali ia dengan benar-benar memperbaiki diri lebih baik, dengan penyesalan yang sungguh-sungguh. Sebab bila tidak begitu kemungkinan aku akan jatuh lagi pada lubang yang sama cukup besar terulang untuk kesekian kali.


Aku tidak mengkhawatirkan laki-laki mana yang akan menerimaku kelak, cukup fokus pada perbaikan diri yang dilakukan setiap hari. Karena laki-laki yang mencintaiku dengan tulus, ikhlas, akan menerimaku dan juga masa laluku.


Dan akhirnya aku menemukan laki-laki yang menerimaku,menerima masa laluku, dan yang terpenting dia menerima anak ku.


Untukmu Suamiku.


Terimakasih.


Aku Dinda Larasati. Seorang wanita sejuta masa lalu kelam penuh penyesalan. Aku tidak ingin lagi menceritakan perjalanan masa lalu ku. Aku hanya ingin menjalani masa kini, memperbanyak kenangan indah bersama dia. Ya dia suami ku. Toni Sanjaya.


Aku mengenal dia dari mantan suami ku. Bahkan hingga kini aku tidak tahu alasan mengapa mantan suamiku harus menghadirkan pengawal untukku.


Apa mantan suami ku itu tidak berpikir bahwa cinta dapat hadir karena sering bersama? Mengapa ia malah membiarkan aku selalu bersama dengan pengawal ku itu.


Setelah kejadian kali pertama itu sesaat aku menikmati permainan yang di kuasai Pengawal tampan ku, Aku tidak tahu jika permainan pengawal ku bisa memuaskan ku atau karena aku sudah lama tidak di sentuh mantan suami ku.


Ada rasa bersalahku dengan mantan suamiku. Apa aku takut ketahuan?


Sangat. Aku sangat takut.


Aku bersalah. Aku berdosa.


Tapi aku terjerat lagi.


Aku mengulang kembali.


Bahkan kali kedua ini aku juga menginginkan.


Aku merindu nya. Bukan hanya sentuhan saja. Tapi aku merindu perhatian nya, aku merindu tatapan cintanya.


Apa aku jatuh cinta padanya? Jawaban nya adalah aku tidak tahu.


Jujur. Semenjak aku di tinggal nikah dengan orang itu. Orang yang menabur janji dan dengan mudah aku terlena.


Aku tak lagi mengenal cinta. Aku salah menilai cinta hingga aku sendiri tidak mengerti isi hatiku. Tak ku pungkiri bahwa aku nyaman bersama dia. Apa itu bisa disebut cinta? Entahlah.


Hingga ombak menerpa pernikahan kami, aku salah langkah lagi. Tidak seharusnya aku mengasingkan diri sendiri.


Aku harus berhadapan lagi dengan seseorang telah lama menyembahkan hati padaku.

__ADS_1


Jujur ku katakan.Aku mengagumi nya. Ketampanan dan ketulusan yang di berikan padaku membuat aku goyah.


Siapa yang ku cinta?


Dan siapa yang ku pilih?


Pengawal ku atau dia most wanted sekolah?


Maka kali ini aku menjawab adalah Pengawal ku.


Bule Gila ku.


Dia Toni Sanjaya keturunan Amerika-Indonesia. Pria dewasa.Pria matang.Aku menyayangi mu.


Aku sungguh beruntung mendapatkan suami seorang Bule. Bukankah itu sesuatu prestasi untuk seorang wanita lokal? Paket komplit lagi. Hanya saja jika dia bicara masih menggunakan bahasa baku. Tapi tidak masalah. Terpenting dia mencintaiku.Dia menerima ku juga anakku.


Kamu berwajah datar, serem, suara bariton mu yang menakutkan dan mata elang dengan tatapan tajam meluruhkan nyali ku.


Kamu yang penuh perhatian,kesabaran,dan selalu merasa posisimu terancam dengan satu nama.Dimas.


Maaf jika hatiku pernah terbagi. Maaf jika hatiku pernah mendua. Kali ini tidak ada lagi.


Mari bersama merajut kasih.


Meluruskan benang kusut dengan cinta di hati.


Mengarungi bahtera rumah tangga yang indah.


*****


"Kak.. Dinda kangen ma-."


"Kakak juga kangen. Sudah 4 hari di anggurin." Potong Toni saat Dinda berbicara.


Dinda mendengarnya pun berdecak sebal.


"Apa sih kak.. Belum siap ngomong juga. Dinda itu kangen masakan kakak. Nasi goreng seafood bukan kangen kakak."


"Besok pagi tidak apa sayang? pagi ini kakak ada meeting penting dari pihak Perusahaan Bumi Karya." Jawab Toni tidak enak hati pada Dinda.


"Iya nggak apa-apa. Dinda siang nanti nggak ke kantor ya.."


"Tidak bisa begitu. Kamu harus ke kantor kakak." Toni tidak terima jika Dinda tidak mampir ke kantor.


"Jadwal Dinda hari ini penuh." Ucap Dinda enteng.


"Jadwal penuh? harus membantu Zaki lagi?" Tanya Toni dengan nada tidak setuju.


"Bu-bukan kak.. Dinda hari ini mau menemui Dr.Lita dan ke butik."

__ADS_1


"Dr.Lita? apa ada masalah di perut mu sayang?"


"Nggak kak.. Sebenarnya Dinda mau konsultasi masalah kehamilan." Ucap Dinda lirih.


"Kamu hamil?" tanya Toni terkejut.


"Bukan sayang.. Hanya konsultasi aja."


"Kakak ikut." Wajah Toni berubah datar karena ia mengingat sesuatu.


"Tapi kakak sibuk. Biar Dinda sendiri ya." Tolak Dinda karena ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Toni.


"Bilang saja kamu ingin mengenalkan Zaki pada Dr.Lita sebagai suami kamu kan?"


Dinda terperanjat kemudian tertawa karena ia juga mengingat sesuatu.


"Mana mungkin Dinda begitu. Ya udah kalau mau ikut. Dan Dinda minta ijin ke kakak 2 hari lagi Dinda datang ke acara reuni ya.." Dinda memasang wajah imut menatap Toni.


"Reuni?" Sejurus kemudian Toni mulai cemas mendengar kata reuni. Itu berarti Dimas juga ada disana.


"Acaranya di Hotel kakak." Dinda mulai meyakinkan Toni.


Toni diam saja beranjak keluar kamar menggendong baby El yang sudah tampan setelah ia mandikan.


Dinda menghela nafas panjang. Ia sudah yakin pasti ini akan terjadi.


"Oohh suamiku..." Dinda beranjak mengejar Toni keluar kamar.


Toni sudah duduk di ruang makan. Dinda berada di dapur saat ini sesekali mengintip Toni sedang sibuk dengan iPad nya. Tidak lupa wajah datar menghiasi wajahnya.


"Woy.. Kayak maling aja lo." Tegur Zaki saat melihat Dinda mengintip sesuatu ke ruang makan.


"Sialan. Gue ngintip lakik gue." Jawab Dinda suara berbisik.


"Kenapa lakik lo. Marahan lagi?"


"Enggak. Dia marah gue mau dateng ke acara reuni lusa."


"Karena Dimas? Lo sih jadi cewek playgirl."


"Kita satu spesies ya bang.. Dan gue udah tobat."


"Tau ah gue. Nurut kata suami lo Din."


"Iya-iya."


🌸


🌸

__ADS_1


TBC


__ADS_2