
"Jangan dong.. Baiklah.. Ini yang baik-baik. Pertanyaan keempat kapan kakak merasakan jatuh cinta pada suami kakak?"
Mendengar pertanyaan MC seperti itu Toni langsung menatap Dinda juga sedang menatapnya.
"Nah gitu dong.. Awalnya aku gak sadar, lebih tepatnya belum mengerti kalau itu di katakan jatuh cinta. Kakak ingat saat pertama kali kakak bawa Dinda ke apartemen kakak? saat itu lah Dinda telah jatuh cinta. Maaf Dinda terlambat menyadari itu."
Toni tersenyum.Kemudian ia mengangguk. Tentu ia merasa bahagia akhirnya Dinda mengakui perasaan nya pada dirinya.
"Kalian so sweet banget sih? Pngen nikah deh aku.."
Huuuuu... Emang dasar..
"Isshh baiklah.. pertanyaan terakhir ya kak.. Pesan apa yang ingin kakak sampaikan ke suami tercinta kakak?"
Kalimat yang di ucapkan Dinda menohok hatinya. Berulangkali ia sudah menyakiti Dinda karena ada wanita lain.
"Ehem.. Apa ya.. Cuma satu pesan dan permintaan Dinda kak.. Setialah selamanya. Hanya itu." Ucap Dinda tegas menatap Toni.
Terdengar tepuk tangan riuh di ruangan untuk Dinda.
"Permintaan yang sederhana namun penuh ujian. Baiklah.. Kini waktunya kakak menyumbang kan suara kakak. Silahkan kakak cantik.." Kiki mempersilahkan Dinda untuk bernyanyi.
"Lagu apa ya.. Ada gitar gak?"
Panitia pun memberikan gitar, kursi, dan tiang microphone untuk Dinda. Tidak lupa ia mengatur letak ponsel nya yang masih siaran langsung.
Dinda memainkan petikan gitar.
"Ehem... Jangan salah kan aku yang gak mau berhenti nyanyi ya woy.."
"Oke lanjut.."
Petikan gitar mulai terdengar. Ruangan mendadak hening. Semua baru menyadari jika siswi dari kelas paling ujung, kelas yang di anggap buruk itu memiliki bakat juga.
Bukan kah Allah itu adil? Menciptakan manusia dengan paras tampan atau cantik tapi jika di hadapkan dengan pelajaran akademis ada yang mampu dan ada yang tidak. Jika di hadapkan dengan non akademis juga ada yang mampu ada yang tidak. Namun jika ada yang mampu keduanya maka syukuri dan jangan tinggi hati.
Hadirlah dirimu
Berikan suasana baru
Kau mampu tenangkan aku
Disaat risau dalam hatiku
Suara merdu itu menghipnotis seisi ruangan. Hanya Sari dan Toni yang tahu suara Dinda sangat merdu.
Toni memang pernah mendengar Dinda bernyanyi dulu sewaktu mengunjungi club' Arga, Dinda meminta karaokean disana. Hanya itu saja.
Tapi tidak dengan Sari. Mereka saling kenal dari kecil saat masih ingusan. Tentu Sari tahu Dinda luar dalam. Termasuk bakat terpendam ini. Dahulu ia dan Dinda sangat suka bernyanyi, tapi setelah mereka terjerat dunia gelap dan memang mereka berada di kelas yang tidak pernah terlirik oleh pihak sekolah, semua nya sirna menjadi terpendam.
Lembutnya sikapmu
Meluluhkan hati ini
Terbuai aku terlena
Oleh dirimu oleh dirimu… Woo…
****
"Dinda... Maafkan aku.. Aku yakin kamu sudah mencintai suami kan? Maafkan aku telah ingkar janji. Keadaan membuatku berkhianat."
"Lo harus berusaha melupakan Dinda Dim. Lihat lah! Dia sudah bahagia bersama suami nya. Sudah waktu nya lo menerima Bella."
Dimas menggeleng. "Gue gak bisa Yo." Ucapnya sambil menonton siaran langsung Dinda.
"Terus mau lo apa Dim? Apa istimewanya Dinda? dia istri orang Dim. dan sekarang lo juga udah tunangan. Lupakan Dinda dan terima kenyataan kalau kalian berdua gak jodoh."
Dimas terdiam. "Aarrgghh..." Ia mengerang sebagai bentuk kemarahan nya.
Bolehkah aku mengatakan jika Tuhan tidak adil untukku? Orang yang ku cinta telah bahagia. Dan dia? tunangan ku? bahkan dia jauh lebih buruk dari wanita malam.
****
Jantung pun bergetar
__ADS_1
Saat engkau ada didekatku
mungkinkah diriku
Telah jatuh cinta pada dirimu… Woo…
Petikan gitar Dinda benar-benar menghipnotis seisi ruangan. Banyak yang ikut bernyanyi. Suara indah nan merdu. Tangan yang lihai memetik senar gitar. Mampu menyampaikan isi lagu di tujukan pada seseorang yang terkasih.
Toni terus menatap istrinya penuh kekaguman. Sekali lagi ia merasakan jatuh cinta pada orang yang sama.
Sebisa diriku
Mencoba untuk melupakanmu
Namun ku tak bisa
Kau pun slalu ada dalam hatiku
Dan biarkan semua
Mengalir apa adanya
Ku yakin kau pun pahami
Perasaanku… perasaanku… Woo…
"Sekali lagi bareng-bareng ya.." Ujar Dinda.
Jantung pun bergetar
Saat engkau ada didekatku
mungkinkah diriku
Telah jatuh cinta pada dirimu… Woo…
Lagu pun berakhir. Dinda menyerahkan gitar pada panitia yang menghampiri nya.
"Udah kan.. Terimakasih..." Dinda hendak melangkah namun di hentikan oleh Kiki.
"Iya.. Tamboh-tamboh..."
Dinda menatap suaminya meminta persetujuan. Tampak Toni mengangguk.
"Baiklah. Kita joget ya gaes... Kopi dangdut untuk kita semua.. Musik.."
Ruangan kembali hening. Ada yang menikmati lagu, ada yang berselancar di dunia maya, ada yang menikmati makanan dan minuman yang tersaji.
Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut
Bait pertama sudah mengalun. Banyak para alumni mulai bergoyang mengikuti irama lagu.
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Irama kopi dangdut yang ceria
Menyengat hati menjadi gairah
Membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
__ADS_1
Detak jantungku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Dag-dig-dug, detak jantungku
Ser-ser-ser-ser-ser, bunyi darahku
Dag-dug-dug-dig-dug, detak jantungku
Ser-ser-ser-ser-ser, bunyi darahku
Na-na-na, mengapa kamu da-datang lagi menggodaku
Dulu hatiku membeku bagaikan segumpal salju
Ku tak mau peduli biar hitam, biar putih
Melangkah berhati-hati, asal jangan nyebur ke kali
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Di tengah lagu Dinda di tarik seseorang. Hingga nyanyian Dinda di sambung oleh Kiki.
"Apa sih bang?" Sungut Dinda kesal pada orang yang menariknya.
"Dasar ceroboh, gue udah kabari lo untuk hati-hati jagain lakik lo. Lihat lakik lo kabur."
Dinda celingukan mencari keberadaan Toni yang tidak ada di tempat duduknya.
"Ke toilet kali bang."
Zaki menjitak kepala Dinda dengan gemas.
"Dasar bege. Lakik lo kabur sama dosen pelakor."
Deg
Dinda menatap Zaki dengan intens mencari kebohongan disana. Dan ia tidak menemukan itu.
"Bagaimana bisa? Sekarang lo tahu kemana mereka pergi bang?" Dinda mulai tidak bisa mengontrol diri.
"Udah. Kunci kamar juga udah gue dapet hasil nyuap itu resepsionis pakek ATM lo. Mungkin firasat seorang istri bener. Buktinya bermanfaat ATM lo."
Dinda diam sejenak mengumpulkan keberanian,kesiapan,dan tenaga untuk menghadapi dua orang yang sedang kenikmatan di dalam kamar.
Dinda berdiri tegak melangkah ke panggung mengambil ponsel dan ia menuju meja berisikan minuman. Ia teguk segelas wine yang tersaji.
Ini adalah pengalaman kali pertama ia meminum minuman beralkohol itu. Sekejap ia merasakan pusing. Tapi ia harus lawan. Ia harus dalam keadaan setengah sadar untuk menghajar dosen nya. Jika ia dalam keadaan sadar, maka ia akan menangis bukan marah-marah.
Sari melihat Dinda dalam keadaan tidak baik-baik saja pun keluar mengikuti Dinda dan Zaki.
Beruntung ruang yang mereka tuju masih dalam satu lantai.
"Buka bang." titah Dinda.
Ketika pintu terbuka, mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat.
"Kurang ajar..." Dinda beranjak menghampiri orang yang di carinya.
Dengan emosi yang sudah mendidih, Dinda menjambak rambut Merry kemudian mendarat kan satu tamparan di pipi kanannya.
Plak!
"Wanita murahan dasar *****.." Dinda menghempaskan tubuh Merry ingin menghajar nya lagi tapi Toni sudah mencekal tangan Dinda.
Dinda berbalik langsung bibirnya di raup oleh Toni.Kasar dan rakus gerakan nya.
Merry sudah di pegang Zaki duduk di sofa kamar itu. "Ck.. Dosen tapi pelakor.
__ADS_1