PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 134


__ADS_3

Toni merasa gemas pada anak kecil itu. Ia benar-benar tidak tahu jika anak kecil itu adalah baby El.


"El..." Panggil Dinda yang masih menggendong baby Zima.


Toni mendengar suara yang sangat di kenalnya. Sangat di rindukan nya langsung berdiri. Ada rasa gugup mendera dirinya. Setahun tidak bertemu dengan sang istri yang tampak lebih cant,ik dan menawan. Tampak lebih dewasa dengan balutan makeup.


Begitu juga dengan Dinda. Ingin sekali ia masuk kedalam pelukan sang suami. Meminta maaf dan meminta ampun pada Toni atas kesalahannya.


Keduanya saling pandang dengan tatapan rindu. Tubuh mereka seakan terpaku dalam satu titik tersebut. Tidak mampu bergerak.


"Din." Panggil Andi menyusul Dinda.


Dinda pun tersadar. "Eh iya."


Andi yang tidak menahu dengan apa yang terjadi pun dengan santai menggendong baby El kembali.


"Mau bareng ke pelaminan?" tanya Andi.


Dinda celingukan mencari Zaki dan Maya belum juga terlihat.


"Boleh. Tolong gendong El ya.."


Toni melongo melihat Dinda yang acuh pada dirinya. "Anak kamu Din?" tanya Toni sebelum Dinda pergi.


Dinda tampak diam. "Iya. Ini a-" belum selesai ia menjawab sudah terpotong dengan perkataan Toni lagi.


"Oh sudah punya suami lagi ya? Selamat." saat Dinda menjawab iya membuat hatinya hancur kembali. Tidak ada harapan.


Mata Dinda terbelalak. Apa tadi? suami? salah paham lagi. Dinda melangkah menuju pelaminan. Ia melihat asisten Ali disana. ia akan menanyakan Rian dimana pada asisten Ali.


Dinda teringat kunci kamar hotel dengan nomor 1220. Baiklah. Tanpa menunda lagi.


"Tunggu aku disana." titah Dinda dengan menyerahkan kunci kamar hotel tersebut.


Dinda melenggang ke atas pelaminan dengan menggendong baby Zima diikuti Andi menggendong baby El.


"Mama.. Dinda kangen." ucap Dinda menghampiri mertuanya itu.


Mama Rahma memeluk Dinda dengan sayang.


"Kenapa baru datang Din?"

__ADS_1


"Hehe.. biasa lama dandan dan harus dandani mbak Maya dulu tadi." jawab Dinda cengengesan.


Dinda beralih ke asisten Ali. "Kemana bang Rian?" tanya Dinda.


"Dia ada urusan sebentar katanya."


Padahal sebenarnya Rian sedang menghindari acara malam ini karena akan melihat Dinda dan Toni akan kembali bersama. Dan ia tidak sanggup untuk melihat itu.


Toni melihat Dinda dari tempat ia tadi. Ia merasa heran mengapa Mama Rahma tidak ada bertanya kemana saja Dinda selama ini padahal ia sedari tadi sudah di marahi habis-habisan.


Ia pun menyusul Dinda ke pelaminan yang sedang asyik tertawa dengan mama Rahma dan juga Hartini istri Tara. Mereka tampak akrab.


Saat ia sudah berada di pelaminan mendadak suasana hening. Tidak ada yang membuka suara.


"Daddy." panggil baby El yang sekarang sudah berada di tempat duduk pengantin.


"Yes El." jawab Toni sembari menggendong baby El.


Toni berkali-kali mengecup pipi baby El. Anak yang ia rawat sejak dalam kandungan Dinda. Tapi ada rasa kecewa dihatinya mengetahui Dinda sudah bersama pria lain. Bukankah Dinda masih istrinya?


"Kenapa kesini?" tanya Dinda.


"Tidak ada. Hanya rindu anakku saja." jawab Toni padahal sebenarnya ia sangat merindukan Dinda juga.


Sebenarnya ingin sekali ia mencabik dan menarik rambut mantan dosen nya itu. Tapi sekali lagi ia harus bersikap semanis mungkin. Biar urusan Merry di tangani oleh Rian.


"Lebih baik kita foto bersama." ucap Tara.


Semua setuju dengan mama Rahma berada di tengah di himpit sebelah kanan Tara dan Hartini sedangkan sebelah kiri terdapat Dinda menggendong baby Zima dan Toni menggendong baby El.


Belum ada yang ingin berbicara lebih dulu antara Dinda dan Toni. Mereka masih sama-sama merasa gugup saat berdekatan kembali setelah satu tahun terpisah.


"Tunggu aku di kamar itu saja." kata Dinda akhirnya membuka pembicaraan.


Toni mengangguk. "Baiklah." jawab Toni menurunkan baby El seraya melangkah menuju kamar yang di maksud.


*****


Rian termenung duduk di taman depan hotel dimana acara pernikahan Tara dan Hartini berlangsung. Ia sudah menyiapkan mental jauh hari. Tapi tiba malam ini ia tidak sanggup membayangkan Dinda kembali pada Toni.Suami Dinda.


Ia tahu perasaan ini salah. Mencintai istri orang. Saudaranya pula. Tapi bukankah cinta tak pernah salah? kita sendirilah yang salah mengizinkan cinta itu menyelimuti hatinya hanya untuk satu nama.Dinda.

__ADS_1


Ia teringat ucapan Dinda. Kenapa ia begitu bodoh mencintai dalam diam? kenapa tidak diutarakan sebelum ia menikah? padahal ia jatuh cinta pada Dinda sebelum pacaran dengan Aril. Ya dia memang bodoh sadarnya.


Bahkan ia sadar lebih bo doh dri Dimas. Ia hanya diam mengamati dari jauh. Menikmati tingkah lucu Dinda. Bukan tidak ingin menunjukkan cintanya. Tapi ia pesimis dengan umurnya yang selisih jauh dengan Dinda. Dan ternyata sekarang Dinda mencintai Toni bahkan di atas umurnya. Menyesal. Itulah yang dirasakan nya.


Mengapa dikatakan lebih bodoh dari Dimas? karena Dimas lebih berani mengutarakan cinta pada Dinda. Sedangkan ia hanya diam. Bahkan Dinda mengetahui perasaan nya karena Dinda bertanya langsung padanya.


"Jangan duduk sendiri disini." ucap seorang gadis yang di kenal Rian.


"Kenapa tidak masuk? temui mbak mu." kata Rian.


"Sudah. Tapi sebentar aja terus kesini karena lihat abang."


"Aku tahu melupakan cinta pada seseorang itu sulit. Perasaan abang salah telah mencintai mbak ku." Gadis itu adalah Cantika adik dari Dinda.


Rian diam tidak bereaksi tapi ia membenarkan perkataan Cantika.


"Mau tahu cara melupakan rasa cinta itu?"


"Ya." jawab Rian.


"Berkencan lah denganku."


Cantika tidak bodoh untuk mengorbankan perasaan demi kebahagiaan Dinda. Bukan hanya itu. Tapi sedari awal ia bertemu Rian diacara 7 bulanan Dinda. Ia sudah memperhatikan Rian bagaimana ia menatap Dinda dengan tatapan cinta dan luka.


Miris !


Dan ia merasa tertarik pada Rian dan juga kagum. Rian tampan dan lebih tenang di banding Toni,Tara,dan juga Ali dari hasil pengamatan nya kala itu.


Tapi bukan berarti ia langsung diam menanti keberuntungan menghampiri nya untuk mendekatkan dirinya dengan Rian. Memang dia menunggu juga tapi sembari menunggu ia juga berpetualang cinta yang lain.


"Jangan gila. Kamu masih kecil dan adik Dinda." tolak Rian tegas.


"Enam bulan. Mari berkencan selama enam bulan. Jika abang gak juga jatuh cinta padaku maka aku gak akan menggangu abang. Tapi kalau abang jatuh cinta padaku, setelah wisuda nikahi aku." tawar Cantika lagi.


Rian mengernyitkan dahi. Cukup berani pikirnya. "Aku pria dewasa."


"Aku tahu, tapi aku yakin kamu tidak akan macam-macam dengan ku. Buktinya kamu tidak melakukan apapun di luar batasan dengan mbak Dinda. Padahal pasti banyak sekali kesempatan itu dalam setahun ini." Ya hanya Cantika yang tahu dari keluarga Dinda jika Dinda kabur selama setahun.


Rian kembali terdiam setuju apa yang dikatakan Cantika. Ia membenarkan segalanya. Bersama Dinda berdua di dalam mobil sering sekali menyiksa kejantanan nya.


"Diam mu adalah jawaban iya untuk ku. Baiklah.. Minggu depan kita kencan." kata Cantika sembari melangkah masuk ke Hotel.

__ADS_1


"Eh.."


Rian menggeleng melihat Cantika yang pergi.


__ADS_2