PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 118


__ADS_3

"Wanita murahan dasar *****.." Dinda menghempaskan tubuh Merry ingin menghajar nya lagi tapi Toni sudah mencekal tangan Dinda.


Dinda berbalik langsung bibirnya di raup oleh Toni.Kasar dan rakus gerakan nya.


Merry sudah di pegang Zaki duduk di sofa kamar itu. "Ck.. Dosen tapi pelakor."


"Ada apa dengan mu kak?" Dinda merasa aneh dengan kelakuan Toni tidak seperti biasa.


Toni tidak menjawab, ia membuka slim jas dan kemeja nya dengan kasar membuat Dinda semakin bertanya-tanya.


"Kayaknya lakik mu dalam pengaru Din." Terang Sari melihat gelagat Toni.


Dinda mengangguk mengerti. Bukan waktunya meminta penjelasan pada Toni jika dalam pengaruh obat.


Dinda menerima semua perlakuan Toni. Membantunya menuntaskan segara rasa yang membara dalam dirinya.


Sari menatap elang pelakor berselimut dosen itu. "Tante gak malu pengen ngerebut suami Mahasiswi sendiri?"


"Emang apa yang buat tante yakin bakal bisa rebut bang Toni dari Dinda?" Sambung Sari.


"Umur udah banyak tante, lebih baik cari laki-laki single atau duda jangan suami orang. Tapi tunggu.." Sari menyeringai mendekati Merry.


"Pegang yang kuat bang."


"Ah iya-iya." Jawab Zaki gugup karena konsentrasi nya buyar ulah Dinda dan Toni sedang bersenggama di balik selimut kamar itu.


"Kita lihat. Tante masih pera wan atau sama kayak kita."


Merry berontak saat di perlakukan memalukan seperti itu. "Kurang ajar. Jangan sentuh saya." teriak Merry pada Sari.


Dengan cepat Sari menarik ****** ***** Merry. Mungkin jika Dinda yang berada di saat ini pasti Dinda tidak akan tega. Tapi tidak dengan Sari. Ia berani melawan, ia berani berulah, ia akan bertindak jika ia di injak.


Sekuat tenaga Sari membuka lebar kedua paha pelakor berselimut dosen itu. Ia masukkan jari tengah pada in tiMerry.


"Ck.. Longgar."


Zaki melihat itu hanya bisa menelan saliva. Ia pria normal. Dua pertunjukan sekaligus membuat pertahanan nya melemah.


Sari memasukkan 2 jari masih longgar, 3 jari masih juga, dan 4 jari baru terasa sempit.


"Gilaaa.. Tante udah pernah melahirkan ya sampek longgar begitu." ejek Sari sembari mengelap tangan bekas inti Merry di gaun dosen itu.


"Kurang ajar. Aku akan membalas kalian semua." Merry keluar karena tangannya tidak lagi di pegang Zaki.


Sari menatap Zaki yang sudah berkabut gairah.


"Lo kenapa bang?"

__ADS_1


Zaki menggeleng. "Gue butuh pelepasan. Pertahanan gue runtuh."


Sari tersenyum miring. "Tahan. Gue tahu Lo sering ngalamin ini karena ulah sahabat gue kan? Perlu gue bantu?"


Munafik jika Sari tidak menginginkan hal itu juga. Sedari tadi ia menjadi saksi pergumulan Dinda dan suami. Suara desa han dan erangan bersahutan membuat ia merindukan sentuhan itu.


"Gue gak bisa ngerusak lo. Apalagi Dinda sahabat lo dan dia udah gue anggap adik gue sendiri." Tolak Zaki secara halus kemudian melangkah ke kamar mandi. Ia lebih memilih bermain solo daripada harus bersama wanita yang bukan istrinya.


Andai masih ada laki-laki seperti itu. Tapi mana ada yang mau sama gue janda anak satu. Sari


Pagi harinya Toni meraba-raba sisi tempat tidur dengan mata terpejam. Ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Terpaksa ia membuka mata untuk melihat di sekeliling. Ia bangkit memegang kepala yang terasa pusing kemudian ia teringat kejadian malam tadi.


Lagi. Ia bersalah pada istrinya. Bagaimana bisa ia menganggap Merry adalah Dinda?


oh shi*t!!!


Toni beranjak mencari keberadaan Dinda. Ia mulai panik saat tidak mendapati Dinda di kamar dan kamar mandi. Satu tempat yang belum ia datangi.Balkon.


Toni tersenyum tatkala melihat Dinda disana. Segera ia peluk istrinya dari belakang. Menghirup aroma tubuh Dinda yang sudah menjadi candu. Dari pertama mereka bertemu hingga kini Dinda tidak pernah merubah harum tubuhnya. Harum dari sabun dan lulur itu sama persis. Harum vanilla.


Dinda di peluk dari belakang hanya terdiam.Ia resapi setiap kehangatan yang diberikan Toni. Dengan mata terpejam, menetralisir segala perasaan. Perasaan kecewa,marah,cemburu,dan takut kehilangan menjadi satu.


Dengan masih mata terpejam menahan air mata yang akan mengalir. Dinda tidak dapat menyembunyikan perasaan nya.


"Satu bulan." dua kata terucap dari mulut Dinda.


"Aku kasih waktu kamu satu bulan untuk menuntaskan hubungan mu dengan cinta pertama kamu. Selesaikan. Tuntaskan. Sudah cukup Dinda kasih kakak waktu selama ini. Ternyata dia lebih nekat dari Rina. Aku sudah mulai menyerah."


"Tidak perlu sampai satu bulan. Kakak janji akan akhiri semuanya. Maafkan kakak sayang." Sesal Toni.


Dinda menggeleng. "Enggak kak, jangan janji. Kemarin kamu juga begitu tapi tetap terjadi lagi. Dinda mau pulang." Dinda beranjak meninggalkan Toni sendiri di kamar itu.


Sekali lagi ia merasa takut. Takut untuk menghadapi ujian cinta nya sendiri. Dia butuh seseorang untuk tempatnya mengaduh. Dan orang itu adalah sang Ibu. Tapi ia urungkan, cukup sudah ia berbagi kesedihan pada ibunya. Cukup kebahagiaan saja sekarang yang harus di ketahui ibunya.


****


Toni mengerang penuh amarah. Bagaimana bisa ia kecolongan. Toni pun meraih ponsel menghubungi seseorang.


*Toni : Lakukan segala cara agar Merry pergi dari Medan ini Jo.


Asisten Jo: Baik Tuan*.


Toni menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia harus cepat pulang. Tidak ingin Dinda pergi karena ia tahu kebiasaan Dinda jika sedang marah makan akan pergi dari rumah.


Jangan tinggalkan aku sayang. Tidak ada wanita lain selain dirimu. Maaf kan aku.


****

__ADS_1


Dinda masuk ke dalam mobil nya. Ia terus menangis dalam diam.


"Kita pulang bang."


"Jangan menangis Din. Ada yang bisa abang bantu? Kali aja aku bisa bantu." Ucap Zaki merasa iba pada Dinda.


"Aku?"


"Ya.. Kita bukan lagi orang asing kan? Kau adalah adikku sekarang."


Dinda mengangguk. "Urus surat pindahan Dinda ya bang."


"Pindah? Kau mau pindah kemana?"


Dinda diam sejenak. "Dinda kasih waktu kak Toni satu bulan untuk selesaikan hubungan nya dengan Bu Merry sampai tuntas. Jika belum selesai juga maka Dinda akan pergi dengan El." Ucap Dinda lirih.


Zaki terkejut dengan keputusan Dinda. "Abang ikut kalau begitu. Kemana pun abang akan ikut Din."


"Jangan bang. Gimana dengan suster Maya?"


"Kalau jodoh gak akan kemana."


Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Dinda kembali teringat kejadian tadi malam. Ternyata ia tidak bisa menerima jika suaminya bersama dengan wanita lain.


Dinda jadi teringat perkataan Rian siapa Merry dan bagaimana suaminya bertunangan dengan almarhum Siska. Rian bercerita saat Toni sudah bertunangan pun Toni masih tidur dengan wanita lain sebagai pelampiasan sakit hatinya di tinggal Merry. Bagaimana sakit hatinya Siska saat itu? pasti lebih sakit dari yang Dinda rasakan sekarang.


*Ternyata aku gak sekuat itu, aku gak setegar itu..


Ibu.. Dinda sungguh menyesal dengan apa yang Dinda lakukan di masalalu. Ternyata pernikahan tidak seindah yang Dinda bayangkan. Tidak seindah yang Dinda lihat saat Bapak dan Ibu selalu terlihat akur dan saling menyayangi.


Ibu.. Bolehkah Dinda meminta waktu di ulang kembali? Dinda tidak ingin menikah, Dinda hanya butuh El.


Bisakah Bu?


Dinda tidak akan terjerumus di kesalahan yang sama Bu..


🌸


Note :


Kenapa bicara dengan Toni pakai aku kamu? Karena udah emak bilang kalau Toni belum terlalu Pasih bahasa Indonesia maka Toni pakai bahasa baku.


Kenapa bicara dengan Sari pakai aku kau? Karena Dinda dan Sari suku Jawa kelahiran Medan. Kalau di Medan, panggilan aku kau udah biasa.


Kenapa sama Zaki pakai lo gue? Karena awalnya mereka saling ejek jadi panggilan Lo gue utk mereka yang belum akrab.


Tinggalkan jejak like dan komen ya.. Terimakasih*..

__ADS_1


__ADS_2