PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 122


__ADS_3

Tetesan air hujan terlihat masih berjatuhan dari langit. Seorang wanita mengenakan kaos putih polos kebesaran dan celana pendek hitam, kini tengah duduk di sofa balkon kamar mewah nya. Menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa sembari menikmati wajah dan tubuhnya di terpa angin dengan mata terpejam.


Angin malam berhembus cukup kencang. Mata indahnya kini terbuka dan menghela nafas dalam-dalam kemudian terpejam kembali untuk menikmati semilir angin segar dan menyejukkan. Bayangan wajah Toni dan Merry terus hadir dalam gelapnya pejaman mata, hingga tetesan air mata tiba-tiba terjatuh lagi dari kedua sudut mata indah Dinda.


Aku gak kuat ngebayangin mereka melakukan itu. Aku gak sanggup. Aku gak bisa berbagi suami. Aku takut. Ibuu jemput Dinda Bu..


Tanda merah di lehernya itu. Tanda cinta itu? bagaimana bisa aku percaya kalau itu hanya salah paham kak? apa rumah tangga kita sudah berada di ujung tanduk?


FLASHBACK ON


Hari ini Dinda makan malam sendiri dikarenakan Toni pulang terlambat. Ia tidak mempermasalahkan hal itu karena ia juga mengerti bahwa pekerjaan Toni pasti sangat banyak karena Toni sering membawa pekerjaan nya kerumah.


Tadi Toni mengirim pesan jika ada hal penting yang ingin ia beritahukan saat pulang. Maka disini lah Dinda duduk di sofa ruang tamu seorang diri.


"Udah jam 9 kenapa kak Toni belum pulang? Sebenarnya apa yang akan dibicarakan kak Toni? Aku penasaran tapi kenapa hatiku merasa gak tenang?"


30 menit kemudian terdengar suara deru mesin mobil yang ia yakini itu adalah suara mobil Toni. Ia pun melangkah untuk menyambut nya suaminya.


"Sayang.. Kamu belum tidur?"


Dinda menggeleng. "Dinda tungguin kakak pulang. Kenapa sampai larut kak?" tanya Dinda sembari menerima tas kerja dan jas Toni.


"Maaf sayang. Tadi setelah meeting dengan klien kakak di ajak makan malam bersama. Kakak tidak enak hati jadi setuju saja. Maaf ya.."


Dinda mengangguk dan tersenyum manis. "Nggak apa-apa kak. Dinda hanya khawatir dan jadi penasaran yang kakak bilang tadi sore. Emang kakak mau bicara hal penting apa dengan Dinda?"


Toni menepuk jidat nya. "Kakak hampir lupa padahal ini akan membuat kamu bahagia dan hubungan kita akan terus baik-baik saja."


Dinda mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang dimaksud Toni. "Maksud kakak gimana?"


Toni tersenyum kemudian memeluk istrinya dengan erat. "Merry tidak akan mengganggu kita sayang.. Dia akan kembali ke Amerika."


Dinda mendongak. "Oh ya? semua akan baik-baik saja kak?" tanya Dinda.


Toni mengangguk mengecup bi bir Dinda. "Iya sayang. Semua akan baik-baik saja."


Setelah menjawab itu Toni tidak melepaskan bi bir ranum itu. Ia melahap nya penuh penuntutan.


Dinda menerima dan membalas segala yang di berikan dengan mata terpejam untuk menikmati. Kini ia sudah setengah telan jang dan Toni sedang menikmati dua benda kenyal kesukaannya itu.


Tiba-tiba Dinda mundur menghentikan aktivitas keduanya. ia diam menatap Toni tidak percaya apa yang baru di lihatnya.


"Ada apa sayang?" tanya Toni dengan tatapan kabut bergairah.


"Ada jejak wanita lain di leher kakak." kata Dinda dengan bibir bergetar.


"Apa maksud kamu sayang?" Toni masih tidak mengerti apa yang dikatakan Dinda.

__ADS_1


Dinda merapikan pakaian nya dan mengambil ponselnya mengatur kamera depan kemudian ia serahkan kepada Toni.


Toni melihat lehernya ada kissmark disana. Ia mengingat sesuatu.


"Oohh shi*t.. Ternyata ini rencana nya." Toni berbicara sendiri saat mengetahui siapa pelakunya.


Toni mencoba mendekati Dinda namun Dinda selalu memberi jarak pada Toni.


"Ini salah paham sayang.." ucap Toni mencoba meyakinkan Dinda.


"Salah paham kak? tanda percintaan itu kamu katakan salah paham? Salah paham yang bagaimana? salah paham jika itu bukan hasil percintaan kakak dengan wanita lain? itu hanya gigitan nyamuk? atau kakak bilang lagi itu gak sengaja? kakak dalam pengaruh obat? Aahh pantas saja kamu pulang terlambat ternyata sedang bercinta dengan... Merry?" Dinda sangat berusaha agar air matanya tidak luruh di depan Toni.


"Dan bodohnya aku menunggumu pulang sedangkan kamu sedang asyik bercinta."


Toni merasa tidak terima di tuduh seperti itupun terpancing emosi.


"Kamu menuduh ku Dinda. Jaga bicara mu." bentak Toni tanpa sadar telah menyakiti hati Dinda lagi.


Dinda terlonjak kaget mendengar bentakan dari Toni. Ini adalah bentakan kali kedua untuknya yang di berikan suaminya itu. Namun ini adalah bentakan yang lebih keras dari bentakan Toni saat Rina berbuat ulah dulu di kantin kantor Toni.


Akhirnya air mata itu luruh juga.


Ia marah.


Ia kecewa.


Malam ini adalah malam putusnya harapan Dinda untuk cintanya.


Dinda merebut ponselnya dari tangan Toni kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Dinda.. Kamu salah paham. Maaf kakak tidak bermaksud untuk membentak mu." ucap Toni menatap Dinda berlari menaiki anak tangga.


Toni mengacak rambut nya dengan asal. "Ku pastikan kamu tidak akan hidup lagi Merry."


Di dalam kamar Dinda menangis pilu.. Siapa pun yang melihat Dinda saat ini akan merasakan sakitnya.


Masih dengan tangisan Dinda beranjak menuju lemari nya. Ia keluarkan koper putih miliknya. Ia memasukkan baju beberapa helai, kemudian semua perhiasan nya. Lalu ia beranjak ke lemari perlengkapan baby El.


Ia masukkan segala keperluan baby El. Dari alat pompa ASI, pakaian, alat mandi, segala printilan milik baby El ia masukkan ke dalam koper.


Kemudian mengambil ponsel menghubungi seseorang.


"Abang beneran akan ikut Dinda kemana pun bersama El?"


(....)


"Baiklah. Ulah tahun Dinda 3 hari lagi. Usahakan kita pergi sebelum hari itu."

__ADS_1


(....)


"Iya Dinda gak akan sedih lagi sekarang. Cukup rasa sakit ini bang."


(....)


"Iya kita pikirkan akan kemana. Udah dulu ya. Siapkan segalanya bang."


Dinda memutuskan panggil telepon tersebut. Ia beranjak ke ranjang dimana ada baby El sedang tertidur pulas disana.


"Maaf mommy El. Maaf kamu hadir karena kesalahan mommy dan sekarang karma telah menghukum mommy. Jangan benci mommy jika suatu saat kamu sudah mengerti dan tahu masa lalu mommy yang buruk." Dinda kembali terisak sembari memandang wajah baby El tertidur dalam damai.


FLASHBACK OFF


****


Di dalam kamar sederhana tanpa AC hanya ada sebuah kipas angin kecil sebagai pendingin ruangan.


Tampak seorang pemuda sedang duduk termenung di sandaran kepala tempat tidur.


Terdengar ponsel nya berdering.


"Dinda? Tengah malam begini?" tanyanya sendiri sambil menekan tombol hijau.


(....)


"Iya abang akan ikut karena sudah berjanji pada diri abang sendiri untuk melindungimu."


(....)


"Oke. Jangan bersedih Din."


(....)


"Baiklah.. Abang akan persiapkan segalanya. Tapi kita mau kemana?"


(....)


Zaki memandang ponselnya. Bukan hal mudah jika harus berurusan dengan Toni Sanjaya. ia pun berpikir keras bagaimana caranya agar pergi tanpa harus ketahuan oleh pihak Toni.


Bukan ia mendukung Dinda agar pergi dari suaminya. Tapi ia harus mengikuti Dinda kemanapun Dinda pergi karena Dinda bukan lah wanita kuat yang bisa hidup mandiri. Dinda hanya wanita manja sedari kecil dan beruntung mendapatkan suami yang memanjakan nya.


Apapun masalah rumah tangga Dinda dan Toni. Fatal atau tidaknya. Patut di maklumi atau tidak. Sekali lagi kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk tetap bertahan. Karena apa? Karena hanya suami dan istri yang menjalaninya. Jika dipaksa untuk tetap bertahan, sanggup kah ia hidup di atas luka tersebut? bisakah ia bahagia di atas luka yang tidak berdarah itu?


Tentu tidak. Karena apapun yang di paksakan tidak akan menghasilkan bahagia.


🌸

__ADS_1


Reader? emak bingung untuk bab 120-121 kenapa di kasih tanda 21+ ya? padahal gak ada adegan 21+ nya 🙈🙈


__ADS_2