PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 57 Membentengi hati agar tak tersakiti


__ADS_3

"Maaf rumah kami sangat kecil untuk mbak Rahma."Ucap Bapak Dinda.


"Oh sama sekali tidak masalah,dulu sebelum saya menikah juga saya tinggal di rumah seperti ini di Panti Asuhan."Mama Rahma tersenyum tulus.


"Bahkan saya sangat suka seperti ini,sangat ramai.Tidak seperti sekarang,anak hanya dua. Satu gila kerja..Satu lagi kabur dari mansion tahu-tahu sudah menikah." Keluh sang Mama.


Dinda mendengar itu hanya menunduk,ia tidak tahu harus berbicara apa,karena ia belum pernah merasakan bagaimana harus bersikap pada seorang mertua.


"Sudah akting nya ma.."Ucap Tara dan Toni bersamaan.Mereka tahu,tanpa keduanya berada di mansion sudah ramai dengan suara sang mama.


Mama hanya berdecak sebal."Menantu Mama mana Toni?"


"Ini sebelah Toni ma."


"Sini sayang."Titah Mama Rahma.


Dinda menoleh kearah Toni,tampak Toni mengangguk.Dinda pun beranjak menghampiri mertua nya.


Dinda mencium punggung tangan Mama Rahma salam takzim.Tentu itu membuat mama Mama Rahma,kedua orang tua Dinda dan Toni tersenyum.Ia tahu Dinda memang manja namun sopan santun tetap melekat di diri Dinda.


Mama Rahma memeluk Dinda,ia menangis memeluk Dinda.Ia sangat berterima kasih atas kehadiran Dinda di kehidupan anak bungsu nya.Ia sangat tahu bagaimana hancur nya sang anak di masa lalu.


Dinda terkejut di peluk tiba-tiba bahkan semakin terkejut kala pundak nya terasa basah karena isak tangis mertua nya ini.


"Terima kasih nak,terima kasih banyak.Terima kasih karena kamu telah hadir di kehidupan anak mama." Ucap Mama Rahma.


Dinda melepas pelukan menatap mama mertua sudah berderai air mata."Ma..jangan berterima kasih pada Dinda, seharusnya Dinda lah yang berterima kasih pada Mama karena sudah melahirkan laki-laki baik seperti kak Toni."


Seluruh keluarga melihat itu semua terharu melihat mertua berterima kasih pada menantu.Bukankah hal itu jarang terjadi?


"Jangan menangis lagi ma.."Ujar Toni.


Mama Rahma menghapus air mata nya dan air mata Dinda."Oh ya..Anak Mama itu baik sama kamu kan Din?"


"Sampai sekarang baik Ma,belum tahu di lain waktu."Dinda menjawab dengan enteng.


"Sayang,bagaimana bisa kakak sakiti kamu jika kamulah hidup kakak."Toni menghampiri Mama dan istrinya.


Dinda mengangguk."Dinda tahu itu."Dinda tersenyum pada Toni.


Semoga secepatnya hati ini mencintaimu suamiku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat.Dan disinilah waktu perdebatan di mulai jika keluarga besar berkumpul di satu rumah.Selalu berebut untuk tidur di kamar.

__ADS_1


Kamar utama adalah kamar Bapak dan Ibu dengan kedua anak mbak Kinanti,kamar kedua untuk nenek,kamar ketiga untuk mama mertua,kamar ke empat untuk Bu'de Siska mama Nita dan suami,dan kamar kelima untuk salah satu paman Dinda beserta istri dan anak.


Sisa nya tidur di ruang tamu.Tara dan asisten Ali sudah pergi mencari penginapan 1 jam lalu. Asisten Rian tetap berada di dekat Tuan nya dan ikut tidur di karpet bulu di ruang tamu.


Para bodyguard berada di luar untuk menjaga rumah.Sedangkan para pelayan ikut bergabung.Awalnya mereka ingin tidur di dapur tapi Dinda mengajak untuk tidur bersama.Dan hal itu membuat hati para pelayan bahagia karena istri Tuan Muda kedua mereka tidak sombong.


"Sayang..kamu yakin ikut tidur disini?"Tanya Toni khawatir karena Dinda harus tidur di lantai berlapis karpet bulu.


"Iya kak,sudah lama sekali Dinda gak ikut kumpul keluarga dan tidur bareng begini,ayo kita tidur.Semua orang sudah tidur,bahkan asisten kakak udah tidur."


Dinda dan Toni memilih tempat pojokan untuk tidur.Dinda tidur berbantal lengan Toni.


2 jam kemudian, Dinda tidur dalam keadaan gusar.Kehamilan nya sudah membuat ia susah tidur dengan nyaman.Toni merasakan Dinda membolak-balik badan merasa terusik.


"Kenapa sayang?"Tanya Toni dengan suara khas baru bangun tidur.


"Susah tidur kak.."Rengek Dinda dengan manja.


"Apa kakak bilang,kita cari penginapan saja ya.."Usul Toni benar-benar khawatir pada istrinya.


" No kakak..Ini sudah tengah malam."Tolak Dinda sambil mendudukkan tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang sebagai tumpuan tubuh Dinda.


Toni melihat sang istri duduk seperti itu lantas duduk di belakang sang istri agar sang istri bersandar di tubuhnya.


Dinda mengangguk kemudian bangkit perlahan dengan dibantu sang suami berdiri.Semenjak kehamilan Dinda memasuki usia 7 bulan,Dinda tidak segesit lalu,sekarang ia sudah mudah lelah dan sulit untuk tidur dengan nyaman.


Keduanya berjalan ke pojok ruangan di sisi lain karena sofa sudah di geser agar ruang tamu tampak kuas untuk tempat tidur.Entah bagaimana awalnya, sekarang Dinda duduk di pangkuan Toni bersandar di dada bidang Toni.


"Jangan nakal tangan kamu sayang.." Toni menahan tangan Dinda yang berada di dada bidang Toni.


"Kakak rindu gak sih sama Dinda?"Hormon kehamilan sangat menyiksa Dinda,entah mengapa ia sering sekali horny.Ataukah memang begitu seseorang jika sudah merasakan surga dunia?


"Sangat rindu sayang."Toni membelai rambut Dinda.


Dinda menegakkan tubuhnya,menatap mata Toni sangat intens."Kakak sebenarnya siapa sih?"


"Siapa gimana maksud nya?"


"Kakak bukan orang sembarangan kan?"Tanya Dinda lagi.


Toni belum menjawab sudah di tanya kembali oleh Dinda."Apa kakak itu seorang mafia kayak di novel-novel?"


"Astaga..Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" Toni tergelak di tengah malam.

__ADS_1


"Ya buktinya kakak gak pernah pergi bekerja lagi,tapi uang kakak banyak bahkan baru seminggu kita menikah tapi kakak sudah tansfer uang ke ATM Dinda 100 juta,uang sekolah Cantika dan Edo beda lagi,itu sangat mencurigakan tahu gak." Dinda merasa mulai curiga siapa suami nya ini.


"Gimana ya?Coba kamu cari di google Perusahaan Sanjaya Corp maka kamu tahu jawaban nya sayang."Toni merasa inilah waktu nya ia membuka identitas terhadap sang istri.


"Ponsel Dinda di tas kita tadi kak,tas nya ada di kamar."Dinda tampak murung karena gagal mengetahui siapa suami nya sebenarnya.


"Pakai ponsel kakak saja."Toni menyerahkan ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja.


"Serius? gak apa-apa ini Dinda pakai?"


"Iya gak apa-apa." Toni tidak keberatan karena menurut nya tidak perlu ada yang di tutupi.


Saat Dinda membuka isi ponsel Toni, ia benar melakukan tujuan nya search google Sanjaya Corp.Ia terkejut jika sang suami adalah Tuan Muda kedua di keluarga Sanjaya.


Namun ada yang lebih mengejutkan hingga menciptakan nyeri di ulu hati.Entah keberanian dari mana Dinda membuka folder galeri di ponsel mahal sang suami.


Awalnya ia merasa senang karena banyak foto candid dirinya yang di potret sang suami diam-diam.Hingga ia menemukan satu folder dengan kata "Love❤️".


Dinda penasaran langsung mengklik folder tersebut.


*Deg


Foto Kak Toni dengan tunangan nya..Sangat mesra sekali,dan sangat serasi.Kenapa hatiku sakit?Benarkah kak Toni sudah melupakan tunangan nya dan benar-benar mencintai ku?kenapa aku jadi ragu dengan cinta kak Toni?Lihatlah, sedangkan fotoku tidak terletak di folder khusus*.Aku harus menahan hatiku,aku harus membentengi hati.


Dinda mendongakkan kepala menatap sang suami sedang tertidur.Untung saja pikir Dinda.


Dinda langsung menghapus jejak penjelajahan di ponsel mahal suami nya.Ia tidak ingin sang suami tahu jika ia baru selesai menjelajahi ponsel sang suami.


Dinda turun dari pangkuan Toni dan duduk di ujung kursi.Ia ingin menjauh sebentar menenangkan hati dan pikiran dari apa yang di lihat nya tadi.Di tengah diam nya Dinda,Mama Rahma menghampiri Dinda.


"Loh,belum tidur Dinda?"Tanya Mama Rahma memegang segelas air.


"Belum ma,Dinda susah tidur."Ucap Dinda senetral mungkin.


"Ya sudah tidur sama mama yuk."Ajak Mama Rahma mengerti jika di hamil tua begini pasti sangat sulit tidur dengan nyaman apalagi tidur lantai.


Dinda mengangguk.Ia mengikuti mama mertua tanpa pamit pada Toni.


🌸


🌸


TBC

__ADS_1


__ADS_2