
Toni sibuk dengan iPad nya melakukan rapat visual. Ia tampak gagah nan wibawa disana. Dinda berdecak kagum melihat Toni.
Betapa beruntungnya aku di miliki kamu Kak.. Maafkan aku yang pernah menyakiti mu. Maafkan hatiku yang pernah mendua. Dinda
Dinda duduk di sisi kanan meja makan dengan pandangan mengarah ke Toni. Ia tersenyum melihat Toni sedang berbicara disana. Ia terus menatap Toni dengan menopang dagu.
Toni sesekali mencuri pandang pada Dinda dan semua itu tak luput dari pandangan Dinda. Ia baru menyadari sudah 5 hari Dinda tidak mencium Toni. Dan Dinda selalu menghindar bila Toni akan mencium nya.
Dinda terus menatap Toni dengan senyum mengembang. Ia bahagia di cintai pria dewasa di depan nya. Ia pun memberikan kecupan jauh saat Toni menatap nya.
Tampak wajah Toni bersemu merah. Hal itu membuat Dinda tertawa kecil.
"Aku menunggu mu."
Dua puluh menit kemudian Toni mengakhiri rapat visual.
Toni melipat kedua tangan di dada sembari membalas tatapan Dinda.
"Ada apa hm?" Tanya Toni.
"Jadi temenin Dinda ke Rumah sakit?"
"Ya. Kakak hari ini kerja di rumah saja."
"Ke butik juga kan?" Tanya Dinda ragu-ragu.
"Apa harus hadir ke acara reuni? bagaimana kalau ada Dimas? aku cemburu." Toni menghela nafas. Ia merasa heran hingga kini masih takut di tinggalkan Dinda karena ada Dimas di antara mereka.
"Ya ampun.. Bahkan Dinda nggak sampek kepikiran bakalan bertemu Dimas kak.. Dinda ingin bertemu Sari. Dia balik ke Medan kak.."
"Kalau kakak takut, kakak bisa ikut hadir." Sambung Dinda.
"Oke kakak ikut." Jawab Toni dengan pasti.
"Tapi Dinda yang cemburu kalau kakak ikut." Ucap Dinda lirih.
"Kenapa begitu sayang?"
"Siapa yang tidak tidak tahu pemilik Sanjaya Hotel di Medan ini? Apalagi tidak ada yang tahu kalau kakak udah nikah. Pasti kalau kakak datang, banyak yang kecentilan di depan kakak. Apalagi bule tampan kayak kakak."
Sontak pengakuan Dinda membuat Toni tertawa.Ia selalu senang jika Dinda cemburu padanya. Karena pada kenyataannya ia yang lebih sering cemburu pada Dinda.
"Kok ketawa sih?" Dinda berdiri berkacak pinggang
"Biarkan saja mereka begitu, kamu tahu siapa yang ada di hati kakak.Hanya kamu." Toni ikut berdiri dan menarik pinggang dinda mengikis jarak antara keduanya.
Dinda mendongak menatap mata Toni mencari kebohongan disana.Namun hanya ada kebenaran dan tatapan cinta untuknya.
"Kenapa kakak begitu mencintai ku? Kenapa begitu bo*doh nya kakak mengejar cinta Dinda yang punya masa lalu buruk."
"Karena aku tidak punya alasan untuk tidak mencintaimu."
Seketika darah mendesir mendengar jawaban Toni. Hati nya menghangat. Sebahagia inikah ketika kita di cintai seseorang?
Dinda berjinjit mengalungkan kedua tangan di leher Toni dan tersenyum menatap Toni.
"Apa kamu masih belum mau kakak cium hm?" Tanya Toni karena saat ini jarak wajah keduanya sangat dekat.
Cup
Satu kecupan Dinda berikan untuk Toni.
__ADS_1
Toni pun tersenyum kemudian dengan lahap ia melu mat bibir Dinda. Ia tidak perduli Dinda sempat melawan karena serangan tiba-tiba.
"Kak.. Pasti bibir Dinda bengkak ini." Rengek Dinda setelah bibir nya di lu mat lumayan lama.
Toni terkekeh mendengar rengekan Dinda.
"Ngamar saja yuk sayang."
"Dinda lagi datang bulan loh. Kita sarapan sekarang?"
"Pantas tidak mau di sentuh. Iya sekarang saja."
"Sebentar ya.. Dinda ke dapur panggil bi Jubeh."
*****
Di dapur.
"Jangan sentuh yang di piring itu nak Zaki.. Itu milik Tuan dan Nyonya." Tegur bi Jubaidah karena Zaki terus memandangi lauk dan sayur khusus untuk Majikan.
..."Iya Bi.. Aku kan cuma lihat doang."...
"Bi.. Rumah ini jadi adem kan kalau Dinda sama Tuan Toni udah baikan." Ucap Zaki sambil memakan tempe goreng yang di cocol ke sambal terasi.
"Iya..Den El juga jadi nggak rewel lagi. Waktu Tuan dan Nyonya masih saling mendiami, den El selalu rewel kalau siang. Tapi saat Tuan dan Nyonya di kamar bareng pasti den El jadi tenang."
Zaki manggut-manggut.
"Hati anak sangat tahu ya Bi."
Dinda tersenyum mendengar pembicaraan dua orang di dapur itu.
Dinda berjalan ke dapur biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bi..Siapkan sarapan ya.. Dinda mau buat kopi dulu."
"Baik Nya." Jawab bi Jubaidah singkat.
"Bibi udah sarapan?"
"Sudah Nyonya di rumah belakang tadi."
"Gue yang belum sarapan Din." Celetuk Zaki.
"Kok bisa bang? kita masuk pagi loh.." Tanya Dinda sambil mengaduk kopi.
"Gue bangun kesiangan. Tugas gue dari Bu Merry baru kelar jam 3."
"Gue kira kelas gue aja yang banyak tugas dari Bu Merry ternyata kelas lo juga. Udah ayo sarapan bareng kami aja."
"Ogah ah. Takut gue sama lakik lo."
"Udah gak apa-apa."
Dinda berjalan mendahului Zaki dengan segelas kopi untuk Toni.
"Ini kopi nya sayang."
"Terimakasih ya." Toni tersenyum pada Dinda.
"Zaki ikut sarapan sama kita ya bang." Pinta Dinda pada Toni.
__ADS_1
Toni menatap Zaki yang masih berdiri. Dan Toni mengangguk.
"Duduk lah. Ah iya saya hampir lupa. Segera lamar suster Maya." Titah Toni dengan wajah datar nya.
Dinda dan Zaki terperanjat mendengar titah Toni. Dinda pun bertanya ragu-ragu.
"Maksud kakak apa?"
"Kakak sering melihat Toni bersama dengan suster Maya di taman belakang sambil menjaga El."
Dinda melotot ke arah Zaki. Bisa-bisanya Zaki pacaran dengan suster Maya saat masih menjaga El.
Zaki pun mengangkat tangan dengan jari membentuk huruf V itu.
"Sorry."
"Sudah lah. Ini sarapan kakak. Urusan Zaki biar Dinda yang urus."
Ketiganya makan dalam diam. Saling menikmati hidangan yang tersaji.
"Kakak akan ikut ke kampus." Ucap Toni memecah keheningan.
Uhukk..uhuk..
Dinda dan Zaki tersedak berbarengan.
"Tumben kak." Ucap Dinda setelah minum segelas air.
"Kakak harus lihat sendiri bagaimana kamu di kampus setelah bebas dari kakak." Ucap Toni sembari menyuapi Dinda yang masih terdiam.
Dinda menerima suapan Toni sembari mengangguk. "Oke nggak masalah. Tapi bagaimana Zaki kak?"
"Kita bertiga naik mobil kakak. Kamu bisa kendarain mobil saya kan?" Tanya Toni beralih melihat Zaki sedang makan.
Setelah selesai sarapan kini Dinda dan Toni sedang berada di taman depan dengan baby El. Sembari menunggu Zaki menyiapkan mobil, Dinda menggendong baby El yang sudah berumur 3 bulan.
Toni mengajak bicara El yang sudah mulai menanggapi apa yang di lihat dan di dengarnya.
"El mau punya adik berapa?" Tanya Toni sambil mengelus tangan mungil baby El.
"Kak..El masih kecil loh.." Tegur Dinda.
"Tapi kakak ingin kamu hamil anak kakak sayang.."
"Iya tapi kan El masih kecil.."
Seketika wajah Toni berubah menjadi senduh. Dan itu terlihat jelas di mata Dinda. Ia menjadi tidak tega.
"Nanti kita konsultasi ke Dr.Lita ya.. Apa sudah boleh Dinda hamil atau belum." Jawab Dinda menenangkan Toni.
Wajah Toni berubah menjadi ceria kembali saat mendengar ucapan Dinda.
"Apa kamu sudah siap hamil anak kakak?"
Dinda tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
*Jika itu membuat mu bahagia dan yakin akan cinta ku maka akan aku lakukan .
🌸
TBC*
__ADS_1