PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 21


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan nuansa abu-abu terlihat sepasang kekasih berpelukan dengan tubuh polos tertutup selimut tebal.


Saling melepas rindu selama lebih dari setahun tidak bertemu.


Dia adalah Arga dan Mira. Sepasang kekasih selama hampir tiga tahun menjalin kasih.


Sebelum mengenal Dinda, Arga sudah memiliki kekasih, Namun setahun belakangan Mira harus kembali ke negara asal yaitu Amerika karena tuntutan keluarga harus meneruskan usaha keluarganya disana. Karena hal itu sepasang kekasih ini menjalin jarak jauh.


Namun siapa sangka, hanya beberapa bulan Arga di tinggal jauh oleh kekasihnya lantas memilih menikahi seorang wanita muda,cantik,ceria,dan manja. Dinda.


Mira adalah wanita sexy dan sangat ambisius lahir di Amerika. Ia bertemu kali pertama dengan Arga saat pengunjungan club' baru di Singapura. Pada saat itu Mira berada di club' sedang mabuk berat berjalan sempoyongan tanpa sengaja menabrak Arga baru masuk ke club' baru itu.


Arga menolong Mira di bawa ke Hotel dekat club' sebab ia tidak tahu alamat Mira saat itu. Hingga waktu berjalan keduanya semakin dekat dan memutuskan menjalin kasih.


Arga dan Mira tinggal bersama tanpa ada status pernikahan selama dua tahun di Singapura.


Di tahun ketiga Mira pergi kembali ke Amerika dan Arga memutuskan kembali ke Indonesia tepatnya di Medan.


Arga mengerjap mata saat sinar Mentari bersinar terang pada gorden kamar sedikit terbuka itu.


Diraih ponsel di atas nakas melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Itu artinya aku gak pulang semalam, astaga Dinda.


Buru-buru Arga duduk membuat wanita dalam pelukan terbangun.


Mira terbangun melihat wajah panik Arga lantas bertanya. "Kamu kenapa honey?"


"Aku harus pergi."


"Pergi? apa kamu tak rindu aku?"


"Ada pekerjaan mendadak honey."


Arga turun dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan diri.


Melihat Arga sudah keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang menutupi bagian bawah tubuh kekasih nya membuat ia bergairah kembali karena ia termasuk wanita yang memiliki tingkat ***** tinggi.


Mira kembali merayu Arga untuk bertempur di atas ranjang.


"Aku harus pergi honey." mencoba untuk menahan agar tidak terpancing.


"Kau yakin menolak ku honey?" rayu Mira lagi.


"sshh aku tak tahan lagi." sargah Arga sudah terbakar gairah.


Dan terjadi lagi pertempuran di atas ranjang itu.


******


Di ruang makan


Dinda tampak cemberut di depan meja makan dalam keadaan wajah bantal bangun tidur.


Bahkan makanan di meja hanya di lihat tanpa di sentuh sama sekali.


"Kamu kenapa Din?" Tanya Toni sedari tadi memperhatikan Dinda.


"Bang Arga gak pulang." Jawab Dinda tanpa melihat kearah Toni.


Toni mendengar jawaban Dinda lantas cemburu. "Bukankah itu bagus?"


"Apa yang bagus coba? Dinda jadi tidur sendiri." jawab Dinda mulai sebal dengan Toni.


"Jadi kamu seneng tidur dengan suami kamu gitu Din? apa kamu uda jatuh cinta dengan suami kamu?" cerca Toni sudah terbakar api cemburu.


Dinda menoleh kearah Toni dengan wajah masam.


Dinda yang sedang badmood pagi inipun enggan menjelaskan.

__ADS_1


"Sudahlah, kakak gak bakal ngerti." jawab Dinda malas.


"Aku kurang ngerti apa lagi dengan mu Din? jangan beri harapan padaku bila kamu sudah ada hati dengan suami mu."


"Ck.. kakak apaan sih ngomong ngawur gitu, hubungan kita baik-baik aja, Uda diem nanti ada yang dengar."


"Baik-baik gimana kalau kamu udah ada hati dengan suami mu."


"Kak.. kamu itu-"


Belum selesai Dinda bicara, Aril datang menghampiri Dinda dan Toni.


Aril datang dengan wajah panik memandang wajah bantal Dinda.


Aril berjalan cepat memeluk Dinda yang sedang duduk.


Sontak membuat Dinda dan Toni terkejut.


Perlakuan Aril membuat Toni mengepalkan tangan dengan wajah memerah menahan amarah.


"Kamu gak apa-apa kan Din?" tanya Aril khawatir.


"Enggak, cuma jatuh sekali doang."


"Ehemm.." Toni berdehem agar kedua orang di depan nya sadar jika ada yang melihat keduanya.


Dinda mendengar deheman Toni langsung melepaskan pelukan Aril.


Toni dan Aril sudah mengetahui kendaraan Mira dan Arga tidak pulang malam tadi membuat Aril khawatir dengan Dinda tidur sendirian.


Aril sudah tahu kebiasaan Dinda ketika tidur sendiri pasti terjatuh dari tempat tidur.


Aril tidak memperdulikan deheman Toni.


"Jatuh? ada terluka?"


"Enggak, jangan khawatir."


Dan Dinda mengerti Toni cemburu.


"Dinda itu punya kebiasaan kalau tidur sendiri di ranjang pasti jatuh kalau gak ada bantal guling." Dinda menjelaskan namun tidak menyebutkan nama dengan siapa ia bicara.


Namun Toni mengerti ucapan Dinda itu adalah untuknya.


"Pantas saja kalau tidur selalu peluk-peluk." Gumam Toni manggut-manggut mengerti.


"Pantas apa Ton?" Tanya Aril mendengar gumaman Toni kalimat depan saja.


"Ah tidak.. pantas Istri tuan kita seperti ini tampilan nya." Jawab Toni sengaja menyindir Dinda.


"Ck.. Biarpun seperti ini, banyak yang suka dengan Dinda bahkan tergila-gila."


"Percaya diri sekali."


"Jelas.. perlu Dinda sebutin gak orang-orang nya?" Dinda tersenyum menatap kedua pria itu.


"Gak usah." Ucap Aril dan Toni berbarengan.


Dinda tertawa melihat wajah memerah kedua pria sedang bersamanya .


Setelah berhenti tertawa Dinda berdehem menetralkan suasana di ruang makan.


"Kalian berdua udah sarapan belum?


"Belum." jawab keduanya kompak kembali.


"Kompak niyeee .. udah ah Dinda mau makan, kalian mau makan tidak?"


"Baiklah."

__ADS_1


Kedua pria itu duduk dan mengambil makanan di atas meja.


"Bang Arga kenapa gak pulang Ril?"


Aril baru menelan makanan lantas tersedak mendengar pertanyaan Dinda.


"Ada pekerjaan penting."


"Sesibuk itukah pemilik club'?"


Dinda menatap kedua pria sedang makan tidak berniat menjawab pertanyaan Dinda.


Dinda pun hanya mengangkat kedua bahu acuh meneruskan makan.


Ditengah-tengah saat sarapan, terdengar seseorang berjalan menuju meja makan.


"Pagi sayang..."


Ketiga orang sedang menikmati sarapan menoleh kesumber suara.


Harus akting manis lagi.gumam Dinda.


Memuakkan.gumam Aril.


Menjijikkan. gumam Toni.


"Pagi.." Dinda memberikan senyuman terpaksa.


Dinda berdiri mendongak menatap wajah suami baru pulang.


Tunggu. Dinda memicing melihat ada sesuatu di leher suaminya sedikit tertutup kemeja.


Mata Dinda terbelalak saat penglihatannya tidak salah.


Kissmark? Seriusan? gak salah lihat mata ini kan? gilaaa.. Arga selingkuh? tunggu, apa wanita bernama Mira itu selingkuhan suami ku? berarti Mira Uda kembali.


Dinda berdehem menetralkan keterkejutan melihat kissmark di leher suami nya itu.


"Baru pulang bang? kemana aja?"


"Maaf, Abang banyak pekerjaan. Abang sayang kamu." Arga memeluk Dinda di depan kedua bawahannya.


Berhentilah bersikap manis suamiku, ini sangat tidak nyaman.


Dinda menepuk-nepuk pundak Arga dan melepas pelukan Arga.


"Abang udah mandi?"


"Belum." jawab Arga singkat.


"Abang mandi ya.. Dinda mau lanjut sarapan."


"Baiklah, Abang ke atas ya."


Dinda hanya mengangguk memperhatikan Arga sudah menaiki tangga menuju kamar.


Dinda menatap tajam kedua pria di sebrang meja juga menatap Dinda.


"Dinda butuh kejujuran kalian berdua." Ketus Dinda.


Kedua pria itu menelan saliva mendengar ucapan Dinda.


Mereka sangat tahu jika Dinda tidak suka di bohongi.


Dan mereka tahu jika mereka ikut andil akan ada hukuman untuk mereka.


🌸


🌸

__ADS_1


bersambung


__ADS_2