
Dinda dan Toni sang pengawal duduk di tempat duduk yang di sediakan.
"Eeh tunggu, sebelum kita berbicara serius... tolong jalankan tugas kamu Toni sekarang juga."
"Tugas apa?" tanya Toni kebingungan dengan perkataan dari Nyonya nya tersebut .
"Pesankan makanan dan minuman lah apalagi." jawab Dinda dengan ketus.
"Mau pesan apa Nyonya?" goda nya .
"Iiihh nyebelin banget sih.. sama kan saja dengan kamu."
Dinda cemberut dengan wajah masam nya.
Melihat ekspresi wajah Dinda membuat Toni terkekeh .
"Jangan biarkan pelayan masuk, jadi harus kamu sendiri yang membawa makanan dan minuman nya ke sini Ton, kamu mengerti?" Memperjelas kemauan nya.
"Baik Nyonya."
Toni keluar dari ruangan privat itu untuk memanggil pelayan dan memesankan makanan dan minuman untuk nya dan majikan nya.
Di dalam ruang privat nya..
Dinda mengambil ponsel nya di dalam tas selempang nya . Di hubungi nya Dimas sang pengagum dirinya.
๐ฑDinda
*Hallo Dim..
...^^^ ๐ฒ Dimas^^^...
...*YaDin, ada apa ya??...
๐ฑDinda
*Temui aku di restoran XX sekarang
Dinda mematikan telepon nya tanpa menunggu jawaban dari Dimas.
******
Dimas yang mendengar perintah pujaan hatinya langsung bersiap untuk menuju restoran yang dikatakan pujaan hatinya tadi. Padahal, Dimas sedang mengerjakan tugas sekolah dan memeriksa pembukuan minimarket miliknya.
"Yo, Lo handle ya pekerjaan kita, gue ada perlu keluar. Gak lama kok."
"Lo mau kemana?"
"Bentaran doang, Lo gak perlu ikut. Ini perintah."
"baiklah bos. Pergi lah".
Dimas pun melajukan mobil nya menuju restoran XX yang disebut kan oleh Dinda tadi dengan hati bahagia karena baru kali ini Dinda mengajaknya bertemu.
*****
Toni masuk membawa nampan berisikan makanan dan minuman milik mereka.
Toni menyusun makanan mereka di atas meja.
"Waw.. pekerjaan mu sangat rapi Ton." puji Dinda kepada Toni karena memang rapi menyusun makanan nya.
"Tentu. Ini hal mudah untuk saya." jawab nya dengan bangga.
"Ya ya ya, padahal tadi aku berniat untuk mengerjai mu. aku mengira kamu akan kesulitan untuk hal ini."
"Tidak ada yang tidak bisa saya kerjakan Nyonya."
"Astaga ini orang ya. sudahlah, sekarang kamu duduk disitu." Dinda menunjuk depan kursi nya agar mereka duduk berhadapan.
__ADS_1
Toni menuruti nya.
"Jangan di makan, kita harus berbicara Ton."
Toni mengangguk sebagai jawaban.
"Sebelumnya, aku mau ucapin terimakasih padamu."
Toni mengerutkan dahinya. "Untuk.?"
"Untuk laporan mu kepada tuan mu itu. Kamu sudah berbohong untuk menutupi salahku."
"Ah iya tak apa."
"Oke, sebelum aku menceritakan yang terjadi tadi sore itu,. berapa umur mu?"
"29 tahun Nya."
"Ck.. seharusnya aku memanggil mu Om." Cibir Dinda dengan nada meledek karena dia masih tak terima di panggil Nyonya oleh pengawal nya itu.
"Saya belum setua itu Nyonya." jawab Toni yang sudah mulai tak sabar menghadapi istri tuan nya itu.
"Dasar Om-Om." Ledeknya lagi.
Toni hanya diam karena dia tidak ingin emosi nya meningkat.
"Sial.... kenapa sih hidup ku di kelilingi dengan lelaki tua? Suami 27 tahun pasti tua, mantan pacar 25 tahun, Laahh.. ini." Dinda menatap pengawal nya dengan tatapan kesal dan berkata lagi. "Lebih tua.. astagaaa.. dosa di masalalu membuat ku harus bertemu dengan para tetua." Dinda merutuki nasib nya dengan penyesalan .
"Ada sih yang tampan dan masih muda.. tapi justru lebih muda dia. malah aku yang tua." Dinda masih bermonolog dengan diri nya sendiri tanpa peduli pengawal nya yang juga mendengar kan keluhan Nyonya nya itu.
Ternyata lucu dan menggemaskan kan. Toni terkekeh mendengar kan keluhan Nyonya nya itu.
"Heiii.. tidak ada yang menyuruh mu bersuara disini."
"Baik Nyonya."
"Ku mohon, bila kita hanya berdua saja jangan panggil aku Nyonya. Aahh karena kamu sudah tua, dan gak mungkin juga aku panggil kamu Om kan.. Aku juga gak mau dikatain sugar baby, jadi aku akan memanggil kamu Kakak. Gimana?"
"Aku mau hanya sebutan Kakak saja.. bila harus aku akan menganggap kamu kakak lelaki ku, karena aku tak punya kakak lelaki.Boleh ya?" pinta Dinda penuh harap dengan meletakkan tangan nya di atas tangan Toni yang memang sedang berada di atas meja."
Seketika tubuh Toni mematung, ia merasa jantung nya berdegub kencang. Toni memandang wajah Dinda. Ahh jantung ini, perasaan ini... ini salah Ton, kamu tak boleh begini.
Toni mencoba tersenyum menetralkan jantung nya yang sedang berdegup kencang.
"Ya baiklah."
"Dan aku akan menunggu kakak menganggap ku seorang adik. Dan tolong panggil saja Dinda . Tapi kalau di depan suami ku terserah kakak saja."
Pintu terbuka..
Dinda dan Toni menoleh ke arah pintu.
Dinda tersenyum kepada seseorang yang berjalan masuk ke arah mereka.
Toni terkejut melihat siapa yang datang . Toni menatap Dinda penuh selidik.
"Dinda.. kenapa kamu mengundang Lelaki ini?" tanya Toni sedikit ketus.
Dinda hanya tersenyum .
"Dinda.. kenapa kamu bersama lelaki lain lagi?" tanya Dimas.
Yaa seseorang yang masuk keruangan private Dinda dan Toni adalah Dimas yang memang sudah di undang oleh Dinda .
"Nanti saja aku jawab pertanyaan kalian ya.. aku lapar . Kamu sudah makan Dim?"
"Sudah, kamu makan lah."
Dinda mengangguk. "Ayo kita makan kak Ton."
__ADS_1
Dinda dan Toni makan dalam diam. hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar bunyi nya.
Toni sesekali melirik Dinda dan Dimas. Terlihat jelas bahwa Dimas memandangi Dinda penuh damba. Toni dapat melihat tatapan itu penuh cinta.
Spesial itukah kamu Din? bahkan belum sehari aku menjadi pengawal sudah 3 lelaki yang mencintai mu. Ku harap rasa kagum ku tak menjadi cinta Din. Gumam Toni dalam hati penuh harap untuk dirinya sendiri.
Setelah Makan malam usai..
Tiba lah saatnya Dinda untuk menjelaskan maksud dan tujuan nya mengundang Dimas untuk menemui nya.
Ada rasa bersalah Dinda jika ia mengatakannya kepada Dimas. Tetapi ia memang harus jujur dan bertindak tegas untuk nya dan ia sendiri.
"Dim, kenalkan ini Kak Toni pengawal pribadiku."
"Sejak kapan? apa suami mu yang memperkerjakan nya Din?"
"Iya, dan aku harus mengatakan sejujur nya kepada mu Dim. Sebelumnya aku minta maaf."
Dimas yang bingung pun bertanya lagi. "Bukan kah kamu sudah berkata jujur sore tadi. Lalu kenapa kamu minta maaf?."
Toni hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua , karena ia mengerti bahwa hal itu bukan urusan dia dan bukan kapasitas nya untuk ikut dalam urusan nya bila tidak di perintahkan oleh Dinda sang majikan nya.
"Kamu pasti akan merasakan sakit bila aku mengatakan ini Dim." Jawab Dinda semakin merasa bersalah.
"Katakanlah Din"
"Pergilah dari hidupku Dim.."
"Apa maksudmu Dinda?" tanya Dimas yang sudah mulai panik.
"Tolong pergi dari kehidupan ku Dim.. aku ingin kamu bahagia."
"Kamu kebahagiaan ku Din, kamu tahu hal itu kan?"
"Ya aku tahu itu, Tetapi itu salah Dim.. Aku tak ingin kamu seperti ini."
"Beri aku penjelasan dan alasan kenapa aku harus pergi." Ujar Dimas
"Baiklah aku jelaskan." Lalu Dinda mengalihkan pandangan nya ke arah pengawal nya itu.
"Kak Toni, Aku mohon untuk hal ini aku meminta mu sebagai Kakak ku.." pinta nya penuh harap.
"Tenanglah Din.. aku tak akan melaporkan hal ini kepada suami mu.. apa aku harus keluar dari ruangan ini?" jawab Toni seperti mengerti keberadaan nya sudah mengganggu kedua orang di hadapan nya.
"Tidak kak, tetaplah disini agar kamu juga mengetahui nya."
Toni hanya mengangguk dan tetap mempertahankan kedua nya.
Mereka bertiga terdiam. Hening sesaat dengan pemikiran masing-masing.
Dinda pun memecahkan keheningan di antara mereka bertiga .
"Dim.. aku harus tegas dalam hal ini." Dinda diam sejenak .
"Kamu pasti sudah tahu siapa lelaki pertama ku kan? yaa.. dia Aril."
Belum selesai Dinda berbicara sudah dipotong oleh Dimas.
"ya Aril mantan kekasih mu. Aku tahu itu, lalu apa hubungannya?." Dimas mulai kesal karena cemburu harus mendengar nama mantan kekasih yang sengaja terucap langsung dari bibir wanita yang di cintai nya itu.
Sedangkan Toni yang hanya mendengar kan saja itu terkejut dengan ucapan Dimas. Pantas saja Dinda diam saja saat di peluk Aril tadi.
"Benar!! Dia mantan kekasih ku Dim. Kau tahu itu."
๐ธ
๐ธ
๐ธ
__ADS_1
jangan lupa like dan komen nya ya.. juga vote nya ditunggu ๐๐๐
TBC