PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 87 Hukuman ala Bule


__ADS_3

Pelajaran mata kuliah Dinda sudah selesai dan sekarang Dinda baru tiba di kantin.Ini adalah momen paling menjengkelkan bagi Dinda.


Bagaimana tidak?


Kantin dalam keadaan ramai.


Bagi yang mudah berteman dan memiliki teman banyak pasti dengan mudah mendapatkan tempat duduk.


Sedangkan dia?hanya sendiri.


"Woy Din."Panggil seseorang sedang duduk di pojokan.


"Eh lo bang.."Dinda menghampiri Zaki.


"Weesss yang baru lahiran kayak anak gadis aja."Nyinyir Zaki.


"Mulut lo tambah lemes aja gue tinggal beberapa bulan ini."


Zaki tidak menjawab,ia lebih memilih diam dan begitu juga Dinda.


"Lo nggak pesen bang?"Tanya Dinda karena ia ingin pesan sesuatu di kantin.


Zaki menggeleng."Bokek gue,nasib anak kos begini."


"Lo udah nggak kerja bang?"


"Udah nggak,jadi supir travel memang mencukupi tapi kuliah gue terganggu."


Seketika Dinda merasa iba,ia ingin membantu tapi ia juga memikirkan suami posesif nya.


"Sebenarnya gue punya kerjaan untuk lo bang,tapi gue ragu sama lo bisa nggak uji tes ke lakik gue."


"Kerja apa Din?gue nggak mau kerja aneh-aneh."


"Jadi supir sama jadi mata-mata seseorang."Jawab Dinda enteng kemudian ia beranjak ke etalase kantin untuk memilih makanan dan minuman untuk nya dan juga Zaki.


Dinda kembali duduk berhadapan dengan Zaki.


"Mata-mata calon pelakor bang,susah punya lakik bule tajir lagi."


"Seriusan?"


"Iya,kalau mau sebentar malam datang kerumah gue biar di interview lakik gue.Tapi tugas jadi mata-mata jangan lo aduin ke lakik gue."


"Gue nggak di gorok kan?"


Dinda hanya menggeleng menikmati makan siang nya.


"Makasih Din."


Dinda mengangguk."Di makan bang,gue traktir."


"Din,gimana hubungan lo sama cowok yang di Villa waktu itu?"


Dinda berhenti mengunyah."Gue bimbang sama perasaan gue bang,tapi mau gimana pun,gue nggak akan bisa lepas dari lakik gue.Dia sangat cinta gue bang."


"Dan dia juga sangat mencintai lo?"Tanya Zaki.


Dinda menghela nafas dengan kasar kemudian mengangguk.


"Dia masih muda,pasti bisa dapet yang lebih dari gue."


"Gue udah siap,udah gue bayar.Gue duluan ya." Dinda beranjak pergi dari kantin.


Sedangkan Zaki menatap punggung wanita yang bicara padanya tadi dengan tatapan iba.

__ADS_1


*****


"Sudah jam segini kenapa Dinda tidak mengangkat telepon nya?Dimana sebenarnya istri kecilku ini."Gerutu Toni menatap benda pipih di tangan nya.


"Maaf Tuan,sudah waktu nya meeting."Ucap Asisten kedua Toni bernama Jonathan atau Jo.


Toni bangkit menuju ruang meeting dengan wajah datar sulit di artikan.Tapi yang pasti hatinya saat ini dalam tidak baik.


Saat berada di dalam lift khusus petinggi Perusahaan ia pun mulai bertanya.


"Ada laporan anak buah mu dimana istri saya?"


Inilah yang ditakutkan Jo karena laporan anak buah nya tidak bagus.


"Nyo-nya terakhir sedang makan dengan seseorang di kantin kampus Tu-an."Jawab asisten Jo terbata-bata.


"Dengan siapa?"Toni tetap memasang wajah datar.


Asisten Jo berdehem untuk menghilangkan kegugupan."Dengan seorang pria.Dan ini foto-foto nya Nyonya Dinda Tuan."Asisten Jo menyerahkan ponsel berisikan foto Dinda saat makan bersama dengan Zaki.


Toni memijit pangkal hidung saat mendengar laporan asisten Jo.Tak di pungkiri bahwa ia sangat cemburu.Hatinya sangat takut jika Dinda akan pergi meninggalkan nya.


"Perintahkan anak buahmu untuk membawa istriku."Titah Toni seraya keluar dari lift menuju ruang meeting.


****


"Mari ikut kami Nyonya."Ucap pria berpakaian serba hitam pada Dinda yang baru turun dari angkot.


Dinda mengerutkan dahi."Kalian siapa?"


"Kami anak buah Asisten Jo."


"Asisten Jo siapa?"Dinda semakin bingung.


"Tuan Toni memerintahkan kami untuk membawa anda Nyonya."


Dinda baru teringat,pasti Toni tetap mengawasi walau ia tidak tampak.


"Apa Tuan marah Pak? kasih bocoran dong Pak."


Kedua pria serba hitam itu mengangguk.


Dinda hanya menelan saliva dengan kasar memikirkan bagaimana Toni marah padanya.


****


"Bagaimana bisa para pegawai ku kewalahan membagi waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut? Kita memang tahu bahwa semua deadline di tumpahkan pada karyawan.Tapi kamu sebagai Manager seharusnya bisa memberi solusi pada karyawan."Toni mengamuk saat Manager melaporkan bahwa beban karyawan dirasa terlalu berat.


Keadaan ruang meeting seketika hening namun mencengkam seperti akan ada lagi bom atom yang akan meledak.


Seseorang mengetuk pintu ruang meeting.Asisten Jo membuka pintu tampak anak buahnya dan seseorang yang menjadi akar permasalahan Toni hari ini.


"Akhirnya pawang Tuan Toni datang juga."Ucap Asisten Jo.


"Hah?Pawang?"Dinda bingung apa yang dikatakan asisten Jo.


Toni menoleh kearah pintu.Toni berdiri melihat jam tangan. "Kita lanjutkan meeting dua jam lagi."


Para pejabat tinggi di Perusahaan Sanjaya Group berdiri keluar ruang meeting seraya mengucapkan kata terimakasih pada Dinda.


"Terimakasih Nyonya sudah datang.Terimakasih sudah menyelamatkan kami."


Dinda hanya mampu tersenyum.


Iya kalian selamat dan aku?matilah aku..kenapa aku tetap takut dengan tatapan mata suamiku sih?

__ADS_1


"Masuk."Titah Toni.


Dinda tetap diam.Ia merasa ngerih berhadapan dengan Toni.


"Dinda masuk."Sekali lagi Toni berbicara dengan tegas.


"Tapi jangan marah."Dinda menunduk.


"Masuk Dinda.."Suara Toni sudah naik satu oktaf.


Dinda pun dengan cepat melangkah menghadap Toni.Dinda menggigit bibir bawah tatkala mendapati Toni masih memandang nya dengan tatapan tajam.


"Kak,Dinda tadi makan bareng Zaki karena kasian dia nggak ada uang untuk makan.Jadi Dinda traktir.Selesai makan Dinda langsung kesini."Dinda mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya.


"Tapi tidak harus mengabaikan telepon dari kakak kan?"


"Ponsel Dinda ketinggalan dirumah."Dinda cengengesan saat menyadari kecerobohan nya lagi.


"Kenapa masih ceroboh Din?"


"Karena kakak nggak ingetin tadi."Jawab Dinda santai.


"Kak,Dinda duduk ya."Sambungnya lagi.


"Tetap berdiri disitu."Toni berdiri bersandar pada meja di ruang meeting.


Toni saat ini sudah merasa bergairah saat dekat dengan Dinda.Ia sering merasa bingung,setelah menikah hanya Dinda yang membuatnya bergairah.


Dulu sebelum mengenal Dinda,dengan mudah ia celup sana-sini pada wanita panggilan.Bahkan saat dengan mantan tunangan nya.


Tapi setelah bertemu Dinda,saat melakukan hubungan in tim, ada yang berbeda dari Dinda,


Tubuh Dinda menimbulkan fantasi baru untuknya.


"Kamu harus di hukum."


"Hukum?


"Ya,kamu pilih hukuman lembut,cepat,atau kasar?"


Dinda berpikir dengan cepat agar Toni tidak marah."Cepat kak."


"Bagus,karena waktu kita sisa 1 jam 45 menit."


Toni pun langsung menyambar bibir Dinda.Di ruang meeting mereka beradu kasih untuk kali pertama mereka melakukan permainan panas.


Tidak ada ranjang atau sofa.Dinda dan Toni bermain di meja meeting,bersandar di dinding,hingga menghadap keluar jendela kaca sebagai dinding ruangan itu.


Tidak di biarkan Dinda menjadi pemimpin permainan.Toni benar-benar menghukum Dinda.Ia ingin mengalahkan Dinda saat ini.


Hingga pada akhir permainan di menangkan oleh Toni.Dengan senyum mengembang Toni mengecup kening Dinda.


"Terimakasih, bagaimana?masih mau di hukum?"


Nafas Dinda masih tersengal-sengal hanya mampu tersenyum.


"Dinda capek kak.Permainan kakak kali ini sangat gila."


Toni tertawa.Memang benar permainan kali ini berbeda.Perasaan emosi,kesal,dan cemburu yang ia alami tersalurkan pada permainan nya.


"Istirahat lah di ruangan kakak,setelah meeting selesai kita pulang."Toni mengecup kening Dinda dan membantu merapikan rambut Dinda.


Setelah dirasa cukup rapi,Dinda segera turun dari meja yang mereka gunakan untuk bermain.


"Dinda ke ruangan kakak ya.."Satu kecupan ia berikan di pipi Toni.

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2