
Pukul 7 malam tampak seluruh keluarga sudah berada di ruang tamu yang disulap menjadi ruang makan dengan duduk di lantai.Asyik bukan?
Dinda dan juga Toni tampak disana,namun Toni tampak bingung mengapa makan duduk di lantai?apakah bersih?
"Why do you have to sit on the floor? (Kenapa harus duduk di lantai?)" Tanya Toni setengah berbisik.
"Sitting at the dinner table is not enough for all of us, and eating sitting on the floor is fun. (Duduk di meja makan tidak cukup untuk kita semua, dan makan dengan duduk di lantai itu menyenangkan.)" Dinda tersenyum,ia yakin pasti suami nya ini tidak pernah makan di lantai.
Saat pemimpin doa,Suami Ibu Nita sebagai orang tertua memimpin doa makan.Tampak seluruh keluarga makan dengan khidmat memakai tangan tanpa sendok,Dinda juga tampak makan dengan tenang.
Hanya Toni belum memulai makan.Ibu Dinda mengetahui itu lantas bertanya."Toni,kenapa tidak makan?apa makanan nya tidak cocok untuk mu?" Ibu Dinda juga khawatir jika benar makanan yang disediakan tidak cocok di lidah menantu Bule nya itu.
Dinda menatap sang suami hanya diam.Ia lupa jika suami nya ini harus di layani dan ia juga tahu jika suami nya pasti tidak pernah makan langsung dengan tangan tanpa menggunakan sendok.
"Tidak Bu,saya suka makanan Indonesia."Jawab Toni tapi tetap diam.Ia juga tidak mau merepotkan sang istri tengah asik makan.
"Mau Dinda suapi?"Tawar Dinda.
Toni menggeleng."Kamu masih makan sayang."
Ia tidak ingin makan Dinda terganggu olehnya.
"Kita makan bareng kak,Mau di piring Dinda atau piring kakak?"
"Piring Dinda ya."Toni tersenyum,ia teringat saat pertama kali Dinda melayani Arga mantan suami sang istri saat makan.Ia merasa menang karena Dinda menyuapi dirinya sedangkan Arga hanya diambil kan makanan nya.
"Iya deh pengantin baru.."Celetuk Mbak Kinan.
Sontak membuat semua yang ada disana tertawa.Dinda tersipu malu mendengar celetukan Mbak Kinan.Dinda hanya menunduk menyembunyikan rona merah di wajah.
"Kenapa malu hem? Jadi suapi kakak tidak Din?"
"Jadi,ini aaa.." Dinda menyodorkan sesuap nasi beserta lauk dan sayur nya.
"Makanan nya enak,tapi karena di suapi kamu jadi sangat enak." Puji Toni karena merasa dicintai sang istri.
"Jangan gombal kak.."
"Benar sayang,di suapi kamu jadi tambah enak."
30 menit kemudian,acara makan malam bersama telah usai.Kini mereka kembali berkumpul di ruang tamu,membentuk kelompok.Para Bapak-bapak tampak ada yang bermain catur,ada bercengkrama,ada yang bermain kartu domino dan jocker.
__ADS_1
Para Ibu-ibu kebanyakan bercengkrama menceritakan si A dan si B,Ada yang bercerita harga perhiasan naik turun.
Sedangkan para pemuda-pemudi sepupuan juga membuat perkumpulan.Ada yang bermain kartu domino dan jocker dengan taruhan siapa kalah maka bersiap wajah di coret dengan lipstik.Entah dari mana lipstik itu mereka dapat.
Ada juga sedang asik bermain game di ponsel masing-masing.Sedangkan yang masih balita bermain boneka dan mobil mainan.
Edo masuk ke ruang tamu,Ia tadi dari teras rumah bermain ponsel dengan sepupu seumuran Edo.
"Pak,ada orang serem di depan ."Ucap Edo tampak pucat.
"Orang serem?"Tanya Bapak.
Dan semua orang melihat ke arah Edo seolah bertanya siapa..
"Ada 5 mobil pak,mereka pakai baju hitam semua selain ada 1 Ibu-ibu pakai baju putih ada di luar pagar."
"Siapa ya..?" Tanya salah satu anggota keluarga.
Di kediaman keluarga Dinda saat ini di hadiri Kakak dari Bapak Dinda beserta suami dan seorang anak yaitu keluarga Nita.Dua orang adik perempuan Bapak Dinda beserta suami dan dua orang anak perempuan seumuran Cantika dan dua anak laki-laki seumuran Edo.Tiga adik laki-laki Bapak Dinda beserta istri dan 3 anak laki-laki seumuran Cantika dan 2 orang anak perempuan seumuran Edo.
Dari keluarga Ibu Dinda ada Nenek Dinda, Dua abang laki-laki Ibu Dinda beserta istri dan 2 orang anak perempuan seumuran mbak Kinanti dan dua orang anak laki-laki seumuran Dinda dan Cantika.
Ditambah keluarga Bapak Dinda sendiri ada Ibu,mbak Kinanti beserta suami dan dua anak perempuan berumur 5 dan 3 tahun,Cantika,Edo, Dinda dan Toni.
Bapak dan Ibu Dinda keluar rumah untuk melihat siapa orang yang di maksud Edo.
"Siapa ya Pak?"
Toni dan Dinda menyusul keluar rumah karena Toni merasa jika itu sang Mama dengan kehebohan nya.
"Mas,bukain pagar gih."Titah sang Bapak pada salah satu keponakan yang sedang bermain ponsel di teras rumah.
Tampak 5 mobil Lamborghini Veneno memasuki halaman rumah Bapak Dinda yang tidak terlalu luas itu.
Para orang tua ikut keluar karena saling berbisik mempertanyakan siapa yang datang.
Toni sudah mengetahui dari mobil yang memasuki adalah mobil keluarga nya.
Toni berjalan mendekati mobil ketiga yang terparkir di halaman,ia yakin sang Mama ada di mobil ketiga.
Asisten Rian dan seorang laki-laki di kursi penumpang depan keluar dari mobil segera membuka pintu mobil di kedua sisi.
__ADS_1
Turunlah seorang wanita paruh baya masih tampak cantik, dan seorang laki-laki dewasa dengan setelan jas hitam tampak gagah dengan wajah Bule.Kemudian di ikuti mobil lain nya keluar dua laki-laki dan dua perempuan keluar di masing-masing mobil.
Toni berdecak sebal,selalu saja Mama dan kakak nya itu jika keluar pasti heboh dengan membawa banyak pengawal,dan kali ini juga membawa pelayang mansion dari Jakarta.
Para Asisten pribadi,bodyguard,dan para pelayan membungkuk tanda hormat pada Toni sedang berjalan ke arah sang Mama dan Kakak nya.Tara.
"Ma..kenapa selalu buat keramaian sih?"
Sang Mama hanya diam tidak menjawab.
"Keluarkan seserahan yang kita bawa." Sang Mama memberi titah.
"Baik Nyonya besar."Asisten Rian membungkuk hormat.
Delapan bodyguard dan delapan pelayan wanita membawa seserahan mengikuti Nyonya besar berjalan ke arah teras rumah orang tua Dinda.
"Selamat malam besan.."Sapa Mama Toni girang.
Ibu Dinda gelagapan mendengar sapaan Mama Toni karena ia masih tercengang atas kedatangan besan nya.
"Ah iya malam juga,silahkan masuk."
"Tunggu."Bapak Dinda mencegah.
"Kenapa Pak?"tanya sang Ibu.
"Kenapa Nyonya membawa seserahan?"Tanya Bapak.
"Panggil Rahma saja Pak,ya saya bawa seserahan ini karena saya yakin,anak saya yang kurang ajar itu pasti belum memberi seserahan kan?" Ah memang filing seorang ibu itu tiada dua nya.
"Sudah kita masuk saja dulu,kita bicara di dalam."Usul Ibu di sela-sela obrolan besan itu.
Saat berada di ruang tamu, tampak begitu ramai.Mengetahui ada tamu, para anak-anak pergi keluar dari ruang tamu, anak-anak perempuan berada di dapur untuk membuat teh untuk tamu.Para anak laki-laki pergi ke taman belakang untuk meneruskan bermain game.
"Maaf rumah kami sangat kecil untuk mbak Rahma."Ucap Bapak Dinda.
"Oh sama sekali tidak masalah,dulu sebelum saya menikah juga saya tinggal di rumah seperti ini di Panti Asuhan."Mama Rahma tersenyum tulus.
"Bahkan saya sangat suka seperti ini,sangat ramai.Tidak seperti sekarang..
🌸
__ADS_1
🌸
TBC