
"Sus.Kamu udah makan siang?"Tanya Dinda sedang merasa lapar.
"Be-belum Nyonya." jawab suster Maya takut-takut.
"Ya ampun sus.. Kenapa nggak bilang dari tadi? kalau tahu begini kan kita bisa makan lebih dulu tadi."
"Saya tidak berani Nyonya."
"Kita pesan delivery aja ya."
Suster Maya hanya mengangguk sebagai jawaban.Ia teramat segan dengan Dinda sebagai majikan.
"Sus.Ngapain duduk bawah? sofa disini masih lebar loh.." Dinda heran dengan para pekerja selalu saja begitu. Padahal Dinda sudah mengatakan bila tidak ada suaminya jangan terlalu hormat dan memandang status.Ia tidak ingin seperti itu.
"Biar saya di bawah saja Nyonya."
"Naik sus. Jika tidak mau duduk satu sofa dengan saya juga bisa duduk di sofa single itu."
"Dan jangan formal deh ngomong nya. Lidahnya kaku ngomong formal." Sambung Dinda lagi.
"Ba-baik."
Terdengar suara bel Apartemen bunyi.
"Biar saya saja Nyonya."
Dinda hanya mengangguk.Ia kembali teringat kejadian di kantor Toni.
*Pantas aja waktu Rina datang minta makan malam kak Toni tidak mengusir nya ternyata mereka sangat dekat ketika di Kantor. Apa Rina salah satu dari wanita malam kak Toni? Aku takut. Aku takut hatiku salah mencintai seseorang.
Apa aku salah berharap waktu berputar kembali? Aku ingin pergi jauh dan menerima penawaran Dimas dulu saat ia mengajakku pergi bersamanya.Bolehkah hatiku bimbang?
Kak..Benarkah kata-kata cinta mu itu?Aku takut..
Bapak..Dinda kangen..
Ibu..Dinda butuh pelukan saat ini*.
Dinda meraih ponsel di atas meja.Ia bermaksud menelepon Ibu Ayu. Saat panggilan terhubung ia meng-klik tombol loudspeaker karena ia menelpon sambil makan.
*Dinda: Assalamualaikum Ibu..
Ibu Ayu: Waalaikumussalam nak.Gimana kabarmu?
Dinda: Dinda baik mu.Kami semua baik*.
Dinda tidak dapat menyembunyikan kesedihan nya.Ia bicara dengan suara bergetar menahan tangis. Dan tentu Ibu Ayu tahu hal itu.
*Ibu Ayu: Kamu kenapa? berantem sama si Bule?
Dinda: Tidak Bu. Dinda hanya kangen Ibu.
Ibu Ayu: Bener? Jika ada masalah di selesaikan dengan kepala dingin.Jangan saat emosi yo yo ndok. Jangan kabur-kaburan.
__ADS_1
Dinda: Ibu... Dinda nggak kabur. Hanya tenangin hati dan pikiran Bu.
Ibu Ayu: Jadi kamu lagi kabur? Ya ampun Dinda... wes duwe anak kok yo ora berubah toh ndok.. Mau di tarok di mana muka Ibu ndok..
Dinda: Dinda nggak kabur Bu...
Ibu Ayu: Sekarang kamu pulang. Kasihan menantu ibu punya istri yang sukanya kabur-kaburan.
Dinda: Ibu...Kok bela kak Toni sih.. Kak Toni yang jahat bukan Dinda.
Ibu Ayu: Tapi gak harus kabur Dinda.. Kan sudah ibu bilang, bicarakan baik-baik bukan kabur menambah masalah itu namanya. Cepat pulang dan minta maaf pada suami mu.
Dinda: Ya udah. Maksud nelpon Ibu karena kangen dan lupa sebentar sama kak Toni malah di repetin. Assalamualaikum*.
Dinda mematikan telepon tanpa mendengar jawaban salam dari Ibu Ayu.Ia menjadi kesal.
"Bisa-bisanya Ibu bela si Bule sialan tukang selingkuh itu."Dinda memanyunkan bibir nya.
Terdengar suara kekehan kecil dan Dinda tahu itu suara siapa.
"Jangan menertawakan ku sus."
"Tapi benar yang di katakan Ibu Nyonya."
"Iya saya tahu sus,tapi saya sakit hati dengan Tuan kalian itu.Saya hanya butuh waktu sendiri."
*****
Ponsel berdering membuat Toni yang fokus pada tumpukan dokumen buyar seketika. Ia mengambil ponsel di atas meja tersebut.
Ia klik tombol hijau di layar ponsel Toni.
Toni:*Hai Ma..
Mama Rahma: Dasar anak kurang ajar..
Toni: Kok Mama marah-marah sih Ma?
Mama Rahma: Kamu apakan menantu dan cucu Mama*?
*Toni: Tidak ada Ma..
Mama Rahma: Kalau tidak ada kenapa Dinda pergi dari rumah bawa cucu Mama haa? Kalau sudah tidak ingin Dinda bersama mu antar Dinda ke rumah Mama*.
Toni terkejut mendengar ucapan Mama Rahma jika Dinda pergi membawa baby El.
*Toni: Mama tahu dari mana kalau istriku pergi?
Mama Rahma: Dari Ibu mertua mu. Sekarang pulang cari menantu dan cucu Mama. Kamu sebagai suami seharusnya lebih sabar terlebih lagi Dinda masih sangat muda dari umur mu. Jika ada masalah di bicarakan baik-baik bukan malah buat istrinya kabur dari rumah.
Toni: I-ya iya Ma.
Mama Rahma: Jangan hanya iya doang. Cepat cari dan minta maaf pada istri mu*.
__ADS_1
Mama Rahma memutuskan panggilan secara sepihak.
"Dinda pergi dari rumah bawa El? benarkah?"
"Aku harus menghubungi Zaki."
Toni pun segera menghubungi Zaki.Namun nomor ponsel Zaki tidak dapat di hubungi.
"Sial..Kenapa ponsel nya tidak aktif. Biarkan saja, Dinda yang salah kenapa aku yang harus mencarinya."
Toni melanjutkan pekerjaan tanpa memikirkan ucapan Mama Rahma.
Tepat pukul 5 sore Toni sudah sampai di rumah. Hal yang paling ia rindukan adalah Dinda menyambut dirinya bersama dengan baby El. Dinda selalu melakukan hal itu walau ia dalam keadaan marah.
Tapi kali ini berbeda. Bukan Dinda ataupun baby El yang menyambut melainkan Bi Jubaidah.
"Istri dan anak saya kemana Bi?" Tanya Toni merasa heran tidak mendapati Dinda dan baby El.
"Itu anu Tuan." Bi Jubaidah menunduk merasa takut menjawab pertanyaan Toni.
"Anu apa?" Toni mulai merasa cemas.
"Nyonya pergi ke rumah teman nya Nyonya."
"oh shi t. Kenapa aku bisa lupa jika Dinda suka kabur jika ada masalah?" Toni berjalan menaiki tangga menuju kamar.
"Aku yang salah, Dinda sudah sering mengajakku bicara tapi aku yang tidak mau."
Toni terus menyalahkan diri sendiri.
"Tolong jangan tinggalkan aku Din. Maafkan aku yang terlalu cemburu. Aku tidak rela wanitaku di sentuh orang lain apa lagi sampai berciuman seperti itu."
"Bibir mu milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh nya selain aku."
"Aku cemburu."
******
"Nyonya..Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Dinda melihat jam di dinding kamar Toni.Ia menghela nafas panjang.
"Saya masih sakit jika mengingat kejadian di kantor tadi sus." Jawab Dinda sambil memakaikan baju baby El yang baru selesai mandi.
"Apa Bi Jubeh ada menghubungi suster?" sambung Dinda lagi.
"Ada Nyonya. Tuan sudah pulang menanyakan Nyonya dan den El."
Dinda diam saja. Ia marah,cemburu,kesal menjadi satu. Dan ia sangat marah pada Rina sudah berani terang-terangan mendekati Toni dan ia marah pada Toni masih saja bersikap baik pada Rina.
Ia juga kesal pada dirinya yang sangat cepat jatuh cinta pada Toni. Ia berpikir baru memulai hubungan dengan saling mencintai sudah ada terjal menghadang. Dan parahnya ia tidak bisa memantau terjal itu setiap waktu.
"Aku bingung."
__ADS_1
🌸
🌸