
"Makan siang bersama kakak ya.." Pinta Toni saat Dinda masih memberi ASI baby El.
Dinda mengangguk tanpa melihat kearah Toni. "Tapi nanti Dinda mau beli sesuatu kak.. Boleh pakai kartu kredit kakak kan?" ijin Dinda.
Toni tersenyum. Sekali lagi ia merasakan jatuh cinta pada Dinda. Inilah yang ia suka dari Dinda jika urusan keuangan, Dinda selalu meminta ijin untuk menggunakan kartu kreditnya untuk urusan pribadi. Bukan ia pelit dan perhitungan. Tapi memang seperti itulah Dinda.
Berbeda jika kartu ATM pribadi Dinda yang selalu ia isi tiap minggunya. Dinda tidak pernah ijin untuk menggunakan nya.Ia pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu. ATM pribadinya adalah hak Dinda.Jika habis maka tugasnya adalah mengisinya kembali. Tapi sejauh ini Dinda tidak pernah menggunakan ATM pribadi nya dalam bentuk besar. Diyakini pengambilan rutin tiap minggunya sekedar untuk kebutuhan sehari-hari nya saja.
"Pakailah semaumu Din.. Itu milik mu juga."
Ada perasaan tidak tenang menyelimuti Dinda setelah kejadian malam reuni akbar waktu lalu. Seperti akan ada sesuatu yang mempertaruhkan rumah tangganya. Sehingga ia berinisiatif membeli barang-barang berharga yang dapat ia gunakan di kemudian kelak.
Ia juga sudah membuat satu folder kenangan perjalanan cinta nya dengan Toni. Di dalam folder itu juga ia membuat pengakuan atas akting koma nya di rumah sakit setelah melahirkan El.
Video bermain bersama dengan baby El juga ia abadikan di ponsel nya. Tidak lupa pula ia tampilkan wajah Toni yang sedang terlelap sambil ia kecup berulang kali di dalam video itu.
Terakhir video saat ia bernyanyi dengan gitar nya. Lagu dari Vagetoz-Betapa Aku Mencintaimu. Setiap bait yang dinyanyikan benar-benar menyiratkan isi hatinya.
Bagaimana bisa Dinda yakin ada kejadian lebih dari saat acara reuni akbar waktu lalu? Karena Toni hingga kini tidak ada membahas jika hubungan dengan Merry benar-benar telah usai. Jadi Dinda beranggapan Toni masih belum bisa melepaskan cinta pertamanya itu.
"Kakak berangkat ya sayang." kata Toni saat sudah berada di teras.
Dinda mengangguk dan meraih tangan Toni untuk ia salim.Kemudian ia mengecup pipi kanan Toni.
Toni lantas membalas kecupan di kening lalu bibir Dinda. "Hati-hati bila berbelanja." ujarnya.
"Iya kak. Dinda belanja bareng bang Zaki."
"Jangan aneh-aneh." tentu Toni cemburu pada Zaki namun ia juga tahu jika istrinya dengan supir nya itu hanya dekat sebagai teman tidak ada hubungan spesial seperti dirinya dan Dinda dahulu.
"Nggak kak.. gak akan pernah sekalipun kita nanti tidak bersama." gumam Dinda hampir tidak terdengar Toni.
Toni menghela nafas panjang. "Jangan berkata seperti itu. Jangan tinggalkan kakak." Toni mendekap erat tubuh Dinda. Ia pun berpikir bagaimana menemukan Merry. Hingga kini Merry tidak dapat di temukan.
Dinda hanya mengangguk dalam dekapan Toni. Ia melepaskan dekapan Toni. "Udah siang kak.. Berangkat sana."
Toni terkekeh. "Iya istriku yang cerewet. Kakak berangkat ya."
*****
__ADS_1
"Ohoo.. Ternyata anak itu bukan anak kandung Toni." Wanita itu menyeringai.
"Ternyata kita sama-sama ja lang mahasiswi ku. Hahaha"
Ya dia adalah Merry yang hampir sebulan ini bersembunyi. Tapi sebentar lagi ia akan melakukan sesuatu yang akan membuat rumah tangga Toni dan Dinda hancur dan akan bercerai.
"Kamu harus menjadi milikku Toni. Jangan salahkan aku jika harus menyingkirkan istrimu. Kamu sendiri yang membuat ku begini. Dari awal aku mau dijadikan kedua tapi setelah penolakan mu. Maka aku harus menjadi satu-satunya."
"Ck.. Dinda Larasati. Apa bagusnya dirimu? seorang janda beranak satu yang beruntung di nikahi Toni."
****
"Din.. Kenapa begitu banyak perhiasan? mau bukak toko perhiasan?" tanya Zaki melihat Dinda menenteng paper bag cukup banyak keluar dari toko perhiasan.
"Bukan. Berhias sambil menabung." jawab Dinda sekenak nya saja.
"Maksud mu apa sih?" Zaki semakin bingung.
"Udah ah. Perhiasan ini bakalan berguna suatu saat. Jangan banyak tanya lagi. Anter ke kantor lakikku ya bang."
"Oke. Sini abang bawakan." Zaki meraih paper bag yang di bawa Dinda. Zaki berpikir selama bekerja dengan Dinda ia sering merasa ikut seperti orang berada.
"Kita mau kemana Din?" tanya Zaki saat sudah berada di dalam mobil.
"Udah jam 11 ya.. Kita ke kantor kak Toni aja." jawab Dinda tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya.
Dinda : Lagi sibuk nggak kak?
Dinda mengirim pesan WhatsApp pada Toni.
Selang beberapa lama satu notifikasi pesan WhatsApp masuk ke ponsel Dinda.
Bule gila❤️ : Tidak terlalu. Hanya sedang rapat dengan kepala divisi saja sayang.
"Apa-apaan hanya rapat? Rapat di bilang hanya? sepele kali sama rapat itu." gerutu Dinda. Ia pun membalas pesan WhatsApp untuk Toni.
Dinda : Kok hanya sih? ya udah rapat dulu jangan di balas lagi.
Bule gila ❤️ : Apapun untukmu sayang.. Termasuk waktu kakak. Kamu dimana?
__ADS_1
Ada senyuman disaat Toni membalas pesan Dinda. Ia tahu jika cinta Toni lebih besar untuknya.
Dinda : Lagi di jalan mau ke kantor kakak. Nanti mau makan di kantor atau di luar kak?
Bule gila❤️: Di kantor saja sayang.. Kakak merindukan mu.
*****
Di ruang meeting.
"Bagaimana bisa Hotel saya tersandung masalah yang menjijikkan seperti itu hah??" Bentak Toni.
"Bagaimana bisa kalian menerima pela cur sebagai pegawai hotel saya? Apakah kalian tidak seleksi saat penerimaan pegawai hotel?"
Ya.. Saat ini salah satu hotel Toni tersandung kasus yang menyatakan salah satu hotel milik Toni menyediakan pelayanan plus-plus. Pada kenyataannya Toni tidak pernah menyediakan pelayanan plus-plus di hotelnya.
Ia begitu emosi saat mengetahui informasi yang di sampaikan Asisten Jo begitu sampai di kantor pagi tadi. Memang hal mudah menuntaskan kasus tersebut bagi Toni. Tapi yang buat ia marah adalah bagaimana jika istrinya mengetahui kasus ini. Ia tidak ingin istrinya curiga dan salah paham lagi padahal hubungan nya baru saja membaik.
Ruangan meeting itu mendadak penuh ketegangan mencekam kala Toni sudah emosi. Para direktur, Rina, dan Asisten Jo telah bersiap untuk konsekuensi yang akan mereka terima atas kesalahan mereka yang tidak teliti menerima pegawai hotel tanpa mencari tahu identitas para calon pegawai yang masuk dalam kriteria perusahaan.
Dirasa ada getaran dari ponselnya segera Toni merogoh ponsel dalam sakunya.
Mine❤️ : Lagi sibuk nggak kak?
Seketika raut wajah yang tadi tampak garang menyeramkan berubah menjadi hangat dan ada senyuman disana.
Orang-orang berada di ruang meeting itu saling pandang saat melihat pemilik Perusahaan tempat mereka bekerja terlihat tersenyum. Seketika mereka menghela nafas lega. Mereka yakini jika sang pawang sedang menghubungi harimau yang suka mengamuk.
Toni terus tersenyum saat berbalas pesan pada Dinda. Seakan lupa dengan masalah perusaan nya dan juga ia lupa jika saat ini sedang meeting dan marah-marah. Jika bersama Dinda maka emosi yang menguar menjadi menguap entah kemana.
Ia mendapat ide jahil bin mesum untuk membuat istrinya kesal.
Toni : Di kantor saja sayang.. Kakak merindukan mu.
Mine❤️ : Jangan gila kak.. mesum siang bolong. Malu sama umur.
Toni berdecak sebal saat di singgung tentang umur oleh Dinda. Selalu saja dia kalah jika Dinda sudah menyebut soal umur.
Semua kelakuan Toni di ruang meeting di saksikan oleh mereka. Dan sekarang tiba-tiba Toni berdecak dengan wajah sebal seketika membuat mereka takut kembali.
__ADS_1
Mine❤️ calling...