
Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka.
"Suami Nyonya Dinda.."
Toni berdiri."Saya dok."
Dari raut wajah Dr.Lita tidak menyiratkan semua baik-baik saja.Hal itu sangat tampak jelas.
"Mari kita bicara keruangan saya."
Toni hanya mengangguk dan mengikuti Dr.Lita. Ia hanya berharap istri dan anak nya selamat dan sehat.
Dr.Lita duduk di kursi kebesaran nya dan Toni duduk di hadapan Dr.Lita.Tampak Dr.Lita menghembuskan nafas panjang.
"Nyonya Dinda mengalami kejang setelah melahirkan bayi nya mengakibatkan Nyonya Dinda koma."Kata Dr.Lita.
Duaarr..
Bagai di sambar petir di siang bolong, Bagaimana bisa?
Toni mengusap wajah dengan kasar,ia sangat takut sekarang.
"Bagaimana bisa terjadi dok?" Dengan suara serak menahan tangis.
"Nyonya mengalami hipertensi sejak memasuki kehamilan trimester ketiga,makanya saya sering ingatkan pada Nyonya jangan setres karena stres salah satu pemicu hipertensi saat hamil."Terang sang Dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Anak Tuan selamat,tapi harus berada di inkubator karena bayi Tuan prematur.Tapi beruntung berat badan,organ tubuh anak Tuan cukup jadi tidak akan lama berada di inkubator."
"Berapa lama istri saya koma dok?"
"Dengan berat hati saya mengatakan tidak dapat di prediksi Tuan.Bisa 1 hari,1 Minggu,1 Bulan,atau bisa Nyonya tidak dapat di selamat kan."
"Jaga bicara anda Dokter,tidak mungkin istri saya pergi tinggalkan kami."Bentak Toni saat dokter mengatakan hal itu.
"Maafkan saya Tuan,tapi seperti itulah keadaan Nyonya.Tapi sebelum Nyonya kejang,Nyonya memanggil-manggil "Kakak" Tuan.Mungkin Kakak itu bisa membantu untuk menyemangati Nyonya.Alam bawah sadar Nyonya ingin Nyonya tetap koma."
"Benarkah begitu dok?" Toni tahu siapa kakak itu,dirinyalah kakak yang di maksud sang istri.
Dokter mengangguk.
"Bisakah saya menemui istri saya Dok?"
"Bisa setelah Nyonya di pindahkan di kamar rawat inap."
"Saya permisi dok."
Toni berjalan lunglai keluar ruangan Dokter, Semangat hidupnya sedang berjuang disana.
"Tuan."Panggil Asisten Rian.
__ADS_1
"Ya."Jawab Toni Singkat.
"Nyonya Dinda sudah di pindahkan ke kamar rawat inap."
"Antar aku keruang bayi lebih dulu untuk mengadzankan anak ku setelah itu antar aku kesana Rian."Toni berjalan dengan tatapan kosong.
Sama hal nya dengan Rian,ia sungguh menyesal telah menuruti kemauan Dinda untuk menjalankan rencana itu pagi tadi.
Saat sudah berada di dalam kamar rawat Dinda, Toni dan Rian mematung melihat tubuh Dinda tergelak di atas brankar,Lemas tak berdaya dengan banyaknya alat medis tertancap pada tubuh Dinda,alat bantu pernapasan juga ada disana.
Rian melihat itu meringis,ingin rasanya ia memeluk Dinda kecilnya.Tapi ia bisa apa? Hanya berdiri ruangan itulah yang bisa ia lakukan. Semoga rencana ku berhasil.
Toni mendekat dengan tubuh bergetar,ia pandangi wajah pucat istrinya.Wajah cantik yang menghiasi hari-hari nya beberapa bulan ini.Tubuh mungil yang sudah menemani nya tidur hampir dua bulan ini.
Cup
Di kecup kening Dinda cukup lama.
"Sayang bangun..Ini kakak,Jangan tinggalkan kakak sayang.."Ucap Toni dengan suara bergetar menahan tangis.
Toni duduk di sisi kanan brankar Dinda.
"Kamu marah sama kakak?Ayo kita bicara Din.Jangan hukum kakak seperti ini,lebih baik hukum kakak dengan batas bantal di tempat tidur kita sayang..Baiklah,seperti yang kamu bilang pagi tadi,malam ini dua bantal pembatas kita kan?Kakak akan turuti dan kakak tidak akan membuang bantal itu lagi asal kamu bangun sayang.." Toni menangis lagi,ia merasa benar-benar takut kehilangan.Bahkan rasa takut ini melebihi saat kehilangan mantan tunangan nya.
"Bicaralah sayang,kakak tahu kamu marah sama kakak kan?Baiklah,seperti kebiasaan Dinda jika sedang marah maka Dinda ingin sendiri dulu kan?Dinda mau menyendiri kemana?Ke Danau Toba lagi? Ke istana Maimun?Museum Tjong A Fie Mansion?The Ke Hu Garden? Air terjun Sipisopiso? Kamu tahu kan uang kakak lebih banyak dari para barisan mantan kamu sayang?Mau berapa juta untuk liburan kamu sayang?kakak akan siapkan."
Astaga.. bagaimana bisa aku harus berakting seperti ini,Riaann rencana mu sungguh menyiksa ku.Kenapa suamiku ngelawak sih..
"Sayang..Apa kamu ingin ke Bali?Baiklah sekarang bangun,jika ingin ke Bali kakak ikut,kakak tidak mau kamu akan menemukan Bule baru."
"Sayang,maafkan kakak sempat ragu akan hati kakak.Benar kamu telah memberi warna baru dalam hati kakak.Tapi setelah kejadian ini,kakak benar-benar telah mengubur masalalu kakak.Hanya kamu dan anak-anak kita di hidup kakak,Kamu sudah melahirkan berarti masa Iddah kamu 40 hari lagi.Kita akan mengesahkan pernikahan kita dan kita akan melakukan malam pertama yang sudah kita rindukan.Kamu ingat kan?" Omongan Toni sudah melanglang buana entah kemana.
*Astagaaa kenapa mesum begini sih..
ceklek*..
Pintu terbuka tampak seseorang mengenakan jas putih dan satu orang memakai pakaian serba putih.Dia adalah Dr.Lita dan seorang suster.
"Tuan bisa keluar sekarang,Saya akan memeriksa kondisi Nyonya Dinda."
"Saya disini saja dok.Saya tidak ingin meninggalkan istri saya lagi."Ucap Toni dengan suara parau.
Pergilah kak,sebentar saja.Aku sudah tidak tahan.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?"
"Kondisi Nyonya membaik,sepertinya Nyonya merespon apa yang anda sampaikan pada Nyonya.Saya permisi."
Setelah Dr.Lita dan suster keluar ruangan.Di ruangan itu hening.Baik Toni maupun Rian hanya diam.Keduanya fokus ke arah seseorang sedang tergeletak lemah di atas brankar.
Toni menatap nanar sedangkan Rian menatap merasa lucu.
__ADS_1
****
Di ruang khusus bayi,Mama Rahma,Tara,Arga dan Mira sedang melihat bayi Dinda dari luar ruangan.Bayi Dinda belum boleh di besuk saat ini.
Ke empatnya menatap nanar bayi mungil di dalam sana.
"Maaf anda siapa ya?"Tanya Mama Rahma kepada Arga dan Mira.
"Saya Mira Nyonya istri Arga.Suami saya ini Abang angkat Dinda."Ucap Mira.
"Apa yang terjadi Nyonya? Kenapa Dinda bisa seperti ini?"Tanya Mira lagi.
"Sepertinya Dinda jatuh saat di kamar mandi.Saya tidak tahu pasti,saat sudah di temukan,Dinda sudah dalam keadaan berdarah."
Keadaan kembali hening menatap bayi di balik dinding kaca tersebut.Arga semakin kalut saat mengetahui perempuan yang masih ia cintai seperti itu.Di tambah kabar Dinda koma,ingin sekali ia berlari ke dalam kamar rawat Dinda untuk memeluknya.
"Honey,bolehkah aku melihat keadaan Dinda sekarang?"Tanya Arga berharap istrinya mengijinkan.
Mira mengangguk."Pergilah,lihatlah keadaan adikmu.Aku menunggu disini."
Dengan langkah cepat Arga masuk keruang rawat Dinda.
Arga mendekati Dinda.
"Dek.."
Gawat,bang Arga.
Toni menoleh ke sumber suara.Dan ternyata Arga.Mantan suami istrinya.
"Siapa yang ijinkan kamu masuk Arga?"Toni bertanya dengan nada tak suka.
"Diamlah,aku dan Dinda ketuk palu satu Minggu lagi,jadi aku masih berhak berada di samping Dinda."
Toni hanya bisa mendengus. "Tapi aku suami Sah Dinda."
"Aku juga masih suami Sah Dinda kalau kamu lupa."Arga tidak mau kalah kali ini.
Rian melihat adegan di depan nya berusaha menahan tawa.Bagaimama jadi Dinda yang berada di depan dua suami saling berebut istri itu.
"Maaf Tuan,kasihan Nyonya Dinda mendengar keributan disini.Sebaiknya kita bicara di luar."Ucap Rian menengahi keadaan.
Toni dan Arga pun mengalah keluar karena mereka harus berbicara empat mata.
Rian mendekati brankar Dinda.
"Din."
Dinda yakin aman karena yang memanggilnya adalah Rian.
"Kurang ajar kau Rian."
__ADS_1
🌸
🌸