
Dinda terpaku mendengar pernyataan Kiki di depan panggung.
Apa? Tunangan? 5 bulan lalu? itu artinya yang kemarin menemui ku Dimas udah terikat? pantas dia berbeda. Aku senang kamu sudah dapat pengganti ku. Tapi kenapa hati ini masih merasakan sakit? Nggak. Ada kak Toni di hidupku.
Dinda diam tanpa kata dan tanpa senyuman setelah mendengar apa yang di sampaikan Kiki. Hal itu tidak luput dari pandangan Toni. Lagi. Ia sadar jika di hati Dinda masih ada Dimas.
Sebegitu cinta nya kah kamu terhadap Dimas Din?
Toni melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi masih terpaut. Cukup. Hingga kini ia masih belum bisa terima kenyataan hati istrinya.
Dinda sadar jika tangannya tidak lagi di genggam Toni. Ia menyadari kesalahannya. Waktu yang tidak tepat untuk mengenang masa lalu sekarang.
Kini Dinda meraih tangan Toni. Menggenggam nya dengan erat hingga Toni menoleh ke arah Dinda.
"Maaf."
Toni mengangguk. Ia sadar bukan waktu nya lagi untuk cemburu. Bukankah posisi nya sudah aman sekarang? Dimas sudah bertunangan. Itu berarti tidak akan merebut Dinda darinya.
"Oke ya.. kita lanjut acara selanjutnya yaitu acara yang kita tunggu. Acara suka dan duka kita.. Nah peraturan nya adalah.. Harus ada mewakili setiap jurusan harus tampil ke depan ya.. Kita mulai dari kelas X dan harus siap-siap jawab setiap pertanyaan pastinya. Mana ini perwakilan kelas X IPA?"
Pertunjukan dan pertanyaan terus berlangsung meriah pada acara reuni malam ini. Tapi tidak dengan suasana hati Dinda.
"Dinda ke toilet ya."
"Kakak antar ya.."
Dinda mengangguk. "Ayo kak."
Dinda dan Toni berjalan beriringan saling menggenggam. Saat berada di depan toilet umum khusus wanita, Toni mendorong Dinda ke sudut lorong toilet. Ia sudah tidak bisa menahan. Dengan segera ia membungkam mulut Dinda.
Dinda akui mau bagaimana keadaan hati Toni, suaminya itu sangat pandai membuat ia tidak berdaya. Dinda pun membalas dan mengimbangi lidah Toni yang sudah berkelana semaunya.
"Kamu sangat mengujiku malam ini sayang." bisik Toni saat melepas pangutan.
"Maaf sayang.." Hanya itu yang bisa ia katakan karena ia mengakui hal itu.
Dinda melangkah masuk ke toilet di ikuti Toni berjalan kemana Dinda pergi. Saat Dinda mencuci tangan seraya bercermin terperanjat mendapati Toni di belakangnya.
"Kak..Ini toilet khusus perempuan tahu.." Pekik Dinda membalik badan.
"Aku menginginkan mu sayang.." Ucap Toni yang sudah berkabut oleh gairah.
Dinda mengangguk. Bohong jika ia tidak menginginkan juga. "Disini kak?"
Toni mengangguk kemudian mengangkat tubuh ramping Dinda ke sebelah wastafel. Ia memulai pemanasan dengan gerakan menuntut.
"Tempo cepat ya kak.."
Toni hanya mengangguk karena ia sedang sibuk menikmati permainan yang membawa Dinda menari-nari di atas awan.
__ADS_1
Dan terjadilah penyatuan yang dirindukan keduanya. Mempercepat langkah menuju puncak keindahan mendamba.
*****
"Ah sial.. Kemana Dosen pelakor itu? Bagaimana bisa dia menghilang?"
"Apa dia masuk ke Ballroom? Gawat Dinda dalam bahaya. Aku harus ngabari Dinda."
Zaki pun mengirimkan pesan WhatsApp pada Dinda. Ia benar-benar tidak ingin terjadi apa-apa pada Dinda dan hubungan nya dengan Toni.
Zaki : Hati-hati. Dosen kita sepertinya berada di Ballroom juga. Aku akan berjaga di sini. Jangan panik adikku.
*****
45 menit kemudian..
Dinda dan Toni sudah kembali ke acara reuni dengan senyum terus mengembang. Dinda senang bisa membuat Toni tersenyum menawan seperti itu.
"Kakak puas?" Dinda menatap Toni.
"Belum. Baru sekali. Tapi kakak senang, tempat kunjungan kita bertambah satu lagi. Kakak berpikir, di alam terbuka sepertinya menyenangkan. Lebih menantang."
Dinda mendelik mendengarnya. Sekali lagi, Dinda kagum dengan fantasi suaminya. Dan ya.. Hal itu mengajari jiwa nya semakin liar.
"Oke gaes... Setelah tadi kelas XII IPA udah di wakil kan abang ketua OSIS kita.. Sekarang waktunya kelas XII IPS."
Seketika banyak yang berteriak menyebut nama Dinda.
Dinda pun berbalik untuk protes namun suara Kiki membuat ia akhirnya menyetujui nya.
"Ayo lah kak Dinda.. Kasih satu lagu untuk suaminya.."
Dinda menatap suaminya yang mengangguk setuju. Dinda memberikan kecupan singkat dipipi Toni.
Cup
"Sebentar ya kak.."
Dinda melangkah dengan sorak-sorai untuknya. Saat sudah berada di panggung Dinda menerima microphone dan meminta panitia untuk meletakkan ponsel nya di stand holder handphone.
"Gaes... Gue siaran langsung ya..Hehehe Fix ya suamiku.. Jangan marah oke.." Ucap Dinda menggunakan microphone.
" Oke siap ya kak.. Mau pilih di tanya-tanya dulu atau nyanyi dulu?"
Dinda diam berpikir mana yang lebih dahulu ia pilih. Dan ia lebih memilih pertanyaan lebih dahulu.
"Tanya-tanya dulu deh."
"Ini yang kita tunggu kan gaes.. Ini pertanyaan gak sama kayak suami kakak ya.. Ini berbeda. Siap?"
__ADS_1
Seketika perasaan Dinda tidak enak. Susah payah ia menelan saliva. "Siap." Jawab Dinda lirih.
"Waahh udah takut kak Dinda nya." Sontak semua alumni tertawa.
Dinda menatap wajah Toni seperti ada rasa penasaran di matanya. Ia menatap Sari dengan wajah pias.
"Oke pertanyaan pertama ya kak.. Sebelum bertemu suami kakak, Berapa cowok yang udah berhubungan sama kakak?"
Dinda menelan saliva nya lagi. "Ada 3 cowok. Jangan aneh-aneh Ki.. Bakalan ada perang dunia ke tiga nanti." Peringatan Dinda berikan untuk Kiki. Jangan lupakan siaran langsung yang masih berlangsung di ponsel Dinda.
"Waw... Kak Dinda nakal juga ya.. Iya gak eneh-aneh kok." Jawab Kiki santai.
"Lanjut lagi ya... Dari 3 cowok itu, siapa yang teristimewa di hati kakak."
Deg
Haruskah ku jawab? Itu mata suamiku kenapa serem banget sih..
"Ki.. Please.. Lo gak lihat mata lakik gue udah begitu? Apa gak ada pertanyaan lain?"
Sari melihat Dinda di depan juga merasakan apa yang di rasakan Dinda. Ia tahu jika Dimas masih ada di hati Dinda walau sekarang di hati Dinda lebih di dominasi oleh nama suaminya.Toni.
"Jawab dong kak.."
"Ada yang ketiga. Puas?"
Toni tidak lagi melihat Dinda di depan panggung. Ia lebih memainkan ponsel. Ia tidak ingin mendengar apa pun jawaban Dinda. Karena ia tahu siapa yang di maksud oleh Dinda.
Dimas. Dialah orang yang di maksud istrinya.
Segitu penting kah? segitu istimewa kah? Apa aku penghalang dari cinta kalian? Jika aku menyerah sekarang apa kamu tidak semakin sakit? Bahkan dia sudah tunangan.
"Asik... Pertanyaan ketiga. Pernah berhubungan dengan cowok ketiga itu setelah menikah?"
"Kenapa pertanyaan mu seakan ingin membuat hubungan ku kacau Kiki.." Dinda menghentak kaki kesal. Dan hal itu malah membuat para alumni tertawa.
"Jawab dong kak.. Ini peraturan nya loh.."
"Pernah bulan lalu dan sekarang nggak akan pernah lagi karena dia udah punya pengganti ku. Puas? lama-lama turun ni aku nya."
"Jangan dong.. Baiklah.. Ini yang baik-baik. Pertanyaan keempat kapan kakak merasakan jatuh cinta pada suami kakak?"
Mendengar pertanyaan MC seperti itu Toni langsung menatap Dinda juga sedang menatapnya.
"Nah gitu dong.. Awalnya aku gak sadar, lebih tepatnya belum mengerti kalau itu di katakan jatuh cinta. Kakak ingat saat pertama kali kakak bawa Dinda ke apartemen kakak? saat itu lah Dinda telah jatuh cinta. Maaf Dinda terlambat menyadari itu."
Toni tersenyum.
🌸
__ADS_1
TBC