PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 106


__ADS_3

Pagi yang cerah tidak secerah hati seorang istri sedang menyiapkan keperluan suami dan bayi nya saat ini.


Tidak seperti pagi biasa suami istri itu lewati. Jika biasa Dinda memakaikan pakaian Toni dengan senyum dan tawa karena selalu di goda Toni atau Toni yang dengan senang hati mencuri kecupan bahkan ciuman dari Dinda.


Pagi ini seakan keduanya bungkam. Tidak ada yang ingin menjelaskan atau meminta penjelasan mengapa hubungan mereka kembali dingin dan renggang.


Setelah selesai merapikan penampilan Toni, Dinda segera mengganti pakaian nya. Hari ini ia menggunakan sweater kebesaran berwarna merah dengan celana pendek berwarna hitam. Sweater kebesaran yang nyaris menutupi celana pendek nya itu.


Dengan flat shoes hitam dan kaus kaki di atas mata kaki. Tidak lupa anting dan slim bag hitam menambah tampilan nya menjadi sempurna.


Sangat menampakkan dengan jelas jika ia masih sangat muda. Ia hari ini bolos kuliah. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Rian. Dan yang pasti untuk menguatkan hati.


Ia juga tidak lupa jika nanti sahabat karib nya kembali ke Medan untuk menghadiri reuni akbar.


Ia terus tersenyum mengingat akan kedatangan Dari siang nanti. Sejenak ia melupakan badai di kehidupan rumah tangganya.


Tidak seperti pagi biasanya Dinda yang selalu bertanya "Mau buat teh atau kopi kak?"


Padahal jawabaan Toni juga selaku sama. "Kopi sayang."


Kini pertanyaan itu tidak keluar dari mulut Dinda. Ia langsung menuju dapur untuk membuatkan kopi Toni.


Toni melihat tampilan Dinda lain dari biasanya lantas bertanya. "Kuliah pakai baju begini Din?"


Bahkan panggilan kata "Sayang" telah sirna. Dinda.


"Nggak kuliah.Bolos." Jawab Dinda santai meletakkan kopi di depan Toni.


Toni mengerutkan kening mendengar jawaban Dinda. "Terus kamu mau kemana pakai celana pendek begitu? dan kenapa harus celana pendek?"


"Panas." Jawab Dinda singkat kemudian mendudukkan diri setelah mengambil sarapan Toni dan dirinya.


Toni diam tidak menjawab. Ia juga menyadari perubahan Dinda. Tapi mau bagaimana? Bukan kah benar jika cinta pertama itu sulit dilupakan? Inilah yang sedang di alami nya. Cinta pertamanya telah kembali. Ia bingung harus berbuat apa.


Aku merindukan mu. Bahkan aku lebih merindukan mu sebagai pengawal ku yang di tugaskan selalu bersama ku. Kini.. Setelah hidup bersama mu... Aku semakin takut mengenal dunia mu. Aku takut..


Dinda bermonolog pada hatinya sembari memakan sarapan. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak sanggup. Ia belum siap menerpa badai.


"Dinda udah siap. Permisi." Ucap Dinda dengan suara bergetar. Ia meraih slim bag nya dan berlari keluar rumah.


"Maaf." Ucap Toni lirih menyadari sikap Dinda berubah karena ulah nya.


*****


Pariser Platz, Berlin. Jerman.


Dimas dan Rio duduk di hamparan tanah lapang di pusat Berlin. Pariser Platz terletak di tepi Gerbang Brandenburg di ujung jalan Unter den Linden.

__ADS_1


Dimas termenung menghiraukan terik Matahari dan gerutuan sahabat nya. Ia memikirkan wanita tercinta nya. Pemilik hati. Pemilik cinta nya.


"Dim. Lo gila ya? panas Dim. Ayo dah." Gerutu Rio kesekian kalinya.


"Rio.. Gue ngerasa Dinda gak baik-baik aja. Gue khawatir." Ucap Dimas tanpa menghiraukan gerutu dan keluhan Rio.


"Terus mau lo gimana? Balik ke Indo?" Tanya Rio.


Dimas menggeleng. "Gak mungkin gue balik di saat Bella juga disana." Ucap Dimas lirih.


Ya.. Bella adalah nama tunangan Dimas. Tunangan bisnis untuk memajukan kesejahteraan Perusahaan Dinata's Group.


"Lo gak ingin pertunangan ini batal Dim? Lo bakal menyerah gitu aja?" Tanya Rio memastikan.


"Coba lo pikir jika lo di posisi gue. Mau lo berusaha untuk batalin pertunangan ini juga percuma jika wanita yang lo cinta masih milik orang lain."


Sejenak keduanya saling diam. Rio membenarkan apa yang di katakan Dimas. Ia semakin merasa iba pada Dimas. Hanya dirinya yang tahu bagaimana perasaan Dimas terhadap Dinda.


Ada rasa ingin mencari tahu tentang Dinda disana. Namun Dimas selalu melarang. Tapi sekali lagi ia yakin. Setiap firasat Dimas saat dia mengatakan jika Dinda sedang tidak baik-baik saja pasti disana Dinda dalam masalah. Ia juga yakini setiap Dimas merasa baik-baik saja dan lebih banyak fokus pada kuliah dan usaha minimarket nya pasti Dinda juga baik-baik saja.


Tapi sayang.. Waktu dan semesta belum mengijinkan Dimas dan Dinda bersama. Semoga ada masa itu.


*****


"Kita mampir ke apotek dulu ya bang." Ucap Dinda memecah keheningan di dalam mobil menuju tempat janjian dengan Rian.


Dinda menggeleng. "Nggak."


Zaki melihat Dinda dari kaca spion tengah masih cemas. "El sakit?"


"Nggak bang. Dinda cari obat emak-emak. Lo gak bakal ngerti."


Ting..


Satu notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponsel Dinda. Ia merogoh slim bag segera membuka isi pesan dari Rian dan ia pun tersenyum membacanya lantas langsung membalasnya.


*Rian : Abang udah di taksi menuju taman.


Dinda : Iya hati-hati. Dinda juga di jalan tapi mau ke apotek dulu.


Rian : Kamu sakit?


Dinda : Enggak bang. Dinda mau beli obat kontrasepsi*.


Dinda berpikir untuk apa menutupi nya dari Rian. Karena Rian adalah orang yang mengenal Toni dengan pasti.


*Rian : Kamu nunda hamil?

__ADS_1


Dinda : Yup. Kasihan El masih kecil dan juga perut Dinda belum pulih beneran. Abang udah sarapan?


Rian : Belum. Begitu sampek langsung naik taksi ke taman.


Dinda : Nanti kita sarapan bareng. Mau?


Rian : Oke. Mau sarapan apa?


Dinda : Lontong pecal Mpok Atik. Dekat taman.


Rian : Abang ikut aja*.


Dinda terus tersenyum membalas pesan Rian. Begini kah jika memiliki seorang abang? Pecal Mpok Atik... Sudah lama rasanya ia tidak memakan lontong pecal apalagi buatan Mpok Atik langganan Dinda dan Sari.


Rindu masa sekolah.


Dinda keluar mobil saat sudah terparkir di depan apotek. Dinda bertanya banyak pada pihak apotek.


Cara pemakaian.


Keuntungan dan kerugian menggunakan pil kontrasepsi.


Efek samping dari pemakaian pil kontrasepsi.


"Terimakasih mbak." Ucap Dinda ramah.


"Sama-sama mbak cantik."


Dinda masuk mobil kembali dan Zaki segera melajukan mobil menuju taman Marelan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menjajaki jalanan renggang.


"Hari ini lo free bang. Lo bisa kencan atau putusin cewek-cewek lo." Titah Dinda tanpa mendongak kepala. Karena ia asyik berbalas pesan dengan Rian dan Sari.


"Beneran Din?" Jelas Zaki senang karena selain jam kuliah kosong, ia free tugas antar jemput Dinda dan pastinya mobil sport Dinda pasti ia yang bawa.


"Ya tinggalkan gue di taman Marelan aja. Jemput gue jam 12."


"Baik Bos."


"Jangan asal baik doang. Inget jam 12. Kita akan jemput sahabat gue di Bandara."


"Siap Bos."



🌸


TBC

__ADS_1


__ADS_2