PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 83


__ADS_3

"Jangan nakal tangan nya."Dinda menimpuk tangan Toni yang sudah berani meraba punggung Dinda yang saat ini sudah merebahkan diri di tempat tidur.


"Sayang,inikan malam pertama kita."Rengek Toni.


"Nggak ada ya malam pertama,kakak sendiri yang buat malam pertama kita gagal,kakak jahat sama Dinda."Omel Dinda.


"Maaf,tadi kakak belum tahu cerita sebenarnya."Sesal Toni atas perbuatannya.


"Tapi nggak harus bentak dan usir Dinda juga kan?Kenapa?Apa begitu spesial Rina di mata kakak?"


"Tidak sayang,kakak dan dia tidak ada hubungan apapun selain pekerjaan.Memang kakak akui dia pernah nyatakan cinta pada kakak tahun lalu."


Dinda tertegun mendengar pengakuan Toni.Itu berarti sudah lama Rina menginginkan suaminya.


"Kak,sebelum terlalu dalam perasaan Dinda untuk kakak,jika ini terus berlanjut maka Dinda lebih baik pergi dari hidup kakak."


"Tidak,kamu tidak boleh pergi.Kakak tidak akan kuat jika melihat kamu hidup bersama Dimas."


Dinda meradang mendengar jawaban dari Toni.Bahkan ia tidak memikirkan akan hidup bersama dengan Dimas walau hatinya masih sering memikirkan Dimas.


"Apa sih ini,siapa yang mau hidup dengan Dimas?Aku mati-matian berusaha untuk mencintai mu dan melupakan Dimas malah kau berkata seperti itu?Apa menurut mu aku barang yang bisa di miliki orang banyak hingga berpindah-pindah majikan?"


Dinda memunggungi Toni,ia mulai terisak.Ia tidak mengangka di anggap semurahan ini pada Toni.


"Maaf."Toni menggeser merapatkan tubuhnya pada tubuh Dinda.Ia peluk erat Dinda yang sedang terisak oleh ulahnya.


"Pukul kakak sayang,jangan menangis ku mohon."Pinta Toni mengeratkan pelukan.


*****


Di Jakarta.


"Dasar Toni bo doh.Bagaimana bisa dia lebih percaya dari yang ia lihat."Suara bariton itu menggelegar di ruangan VIP sebuah klub terkenal di Jakarta.


"Kenapa dia belum juga berubah?Aarrgghh harus kah ku rebut istrinya itu."


"Jadi siapa yang menolong Dinda setelah pergi dari perusahaan?"Tanya orang itu pada Asisten pribadi nya.


"Mantan suami Nyonya Dinda Tuan."Cicit Asisten Ali.


Ya..Pria yang marah-marah saat ini adalah Tara.Ia sangat marah saat mendengar laporan Asisten Ali tentang kejadian di perusahaan dimana Dinda di usir oleh Toni dan sialnya adalah adiknya sendiri.


****

__ADS_1


Dinda bangkit duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan Toni mengikuti.


"Mari kita bicara."Ucap Dinda setelah ia merasa tenang.


"Alasan apa yang membuat kakak takut Dinda tinggalin?"Tanya Dinda menatap Toni intens.


"Karena kakak mencintaimu melebihi apapun dan kakak takut kamu memilih Dimas daripada kakak."Jawab Toni menundukkan kepala.


Dinda menghela nafas panjang.Ia memijit pangkal hidung merasa pusing.Ia tidak menyangka bila Toni masih merasa tidak aman dengan satu orang bernama Dimas.Padahal ia sudah mengatakan jika ia telah memilih Toni.


"Bukan kah seharusnya aku lah yang merasa takut kak?aku sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan mu,aku hanya tahu kamu selama ini hidup bebas.Bebas seperti kehidupan di luar negeri.Aku tidak tahu wanita mana saja yang sudah bersama mu selama ini.Lihatlah Rina,bahkan dia sudah tahu kalau aku adalah istri mu saja masih berani mengibarkan bendera perang dan ini masih di Medan.Belum di Jakarta,pasti ada banyak Rina disana."


Toni terdiam tidak berkutik karena ia membenarkan apa yang di katakan Dinda.


"Kenapa diam?benarkan yang ku katakan? Seharusnya akulah yang takut disini.Aku takut kau yang akan pergi.Aku takut kau yang tergoda oleh mereka."


Toni mendongak menatap Dinda.


"Tidak.Kakak tidak akan tergoda oleh mereka Din."


"Jangan bilang seperti itu,kau itu pria normal dan biasa hidup bebas,mustahil bila kau nggak akan tergoda."Sargah Dinda.


"Apalagi melihat cara berpakaian Rina di kantor tentu itu bisa membuatmu panas dingin."


"Coba sehari aja mereka yang mengagumi ku itu tidak memakai baju, memamerkan otot,punggung yang kekar pasti sangat nyaman bersandar di sana,dada bidang,dan perut sixpack nya ingin sekali ku raba-raba.Aku pasti panas dingin melihat mereka."Dinda berbicara sambil senyum-senyum penuh arti.


Toni cemburu mendengar penuturan Dinda ditambah melihat Dinda berbicara sambil tersenyum.


"Tidak boleh,bila hari itu tiba maka kakak akan mengurungmu di kamar dan kamu hanya akan melihat kakak saja."Toni bicara dengan nada kesal menahan cemburu.


Dinda mendengar itu hanya bisa menahan tawa.Bagaimana bisa suaminya ini berpikir itu akan terjadi?


Kenapa aku sangat menyukai wajah kak Toni saat dia cemburu?sangat menggemaskan. Aku kerjain sekalian.


"Cih...Melihat tubuh mu sangat membosankan.Bahkan yang mengagumi ku tubuhnya lebih darimu,lebih muda juga ada.Pasti mereka sangat perkasa bila di atas tempat tidur."


Kenapa aku bahas itu sih?


Toni diam saja tanpa menatap Dinda.Ia masih cemburu apa yang di katakan Dinda.


"Andai bisa sekali mencoba nya."Dinda memperhatikan mimik wajah Toni mulai memerah.


Dinda menelan saliva dengan kasar.Seakan suaranya tercekat saat Toni menoleh kearahnya dengan tatapan tajam.Dinda menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.

__ADS_1


Terlambat,lengan Dinda sudah di cekal Toni.


"Kak,Dinda hanya bercanda."


Kini tubuh Dinda sudah terlentang dengan kedua tangan Dinda sudah di tahan oleh kedua tangan Toni yang berada di atas tubuh Dinda.


Nyali Dinda menciut saat tatapan tajam Toni menghunus jantung nya.


"Dinda hanya bercanda kak,jangan begini."Rengek Dinda.


"Bercanda tapi senyum-senyum?"Toni mulai mencium leher Dinda.


"Mana ada Dinda senyum-senyum."Dinda berbicara sembari menikmati apa yang Toni lakukan.


"Kakak melihat bagaimana mimik wajah mu saat bicara tadi,Kamu sedang membayangkan tubuh pria lain kan?"Toni menghentikan kegiatan nya kemudian menatap Dinda.


"Nggak ada kak."Bohong Dinda,karena sebenarnya Dinda sempat memikirkan tubuh Dimas tadi makanya ia senyum-senyum.


"Kamu memang harus di hukum."


"Jangan malam ini kak.Dinda belum siap."Ucap Dinda lirih, sebenarnya ia takut efek dari produk yang diberi Ibu dan Mama mertua nya tidak berefek apapun.


"Jangan memancing emosi kakak Dinda.."Toni mulai emosi saat Dinda menolak.


"Bukan-."


Belum selesai Dinda bicara mulutnya sudah di bungkam oleh mulut Toni.


*****


"Akan ku pastikan Tuan Toni menjadi milikku.Akulah yang pantas berada di sisi nya.Bukan Dinda anak kecil tidak berguna itu."Ucap Rina sedang bercermin.


"Apa sebenarnya yang dimiliki anak kecil itu?bahkan tubuhku lebih seksi dari dia."


"Dinda..Tikus kecil seperti mu sangat mudah untuk ku singkirkan."


Hahahaha...


Suara tertawa penuh kelicikan menggema di apartemen wanita itu.


🌸


TBC

__ADS_1


__ADS_2