PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 42


__ADS_3

Zaki terus saja menggerutu berada di dalam mobil bersama Dinda.Ia semakin kesal melihat Dinda acuh merasa tak bersalah.


"Kaki lo besi atau gimana?dari tadi berdiri gak ada capek nya."gerutu Zaki masih sangat jengkel pada Dinda.


"Enggak biasa saja."Jawab Dinda enteng tanpa beban.


Zaki menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nya perlahan.Ia mencoba menetralkan emosi pada wanita hamil sedang duduk di sebelahnya.


"Mau diantar kemana?"Tanya Zaki datar.


"Ke Apartemen Pitaloka. Jangan tanya lagi,cepetan jalan." Sebenarnya ia juga lelah dan ingin ke apartemen Toni karena ia ingin nasi goreng seafood buatan Toni.


Dinda dan Zaki saling terdiam,Dinda memejamkan mata nya.Ia sangat lelah saat ini. Lelah untuk segala nya.Bagaimana bisa ia menjalani pernikahan ini? Bagaimana dengan ibu?Lalu Bapak apa kabar? Ia sama sekali tidak ingin melihat keluarga nya sedih. Ia juga memikirkan bagaimana nasib adik-adik nya yang masih butuh tambahan uang untuk pendidikan mereka.Walau ia tidak pernah meminta suami nya untuk membantu pendidikan adik-adik nya, Ia hanya menggunakan uang bulanan dari suami nya untuk membantu biaya pendidikan adik-adik nya.


Ia hanya bisa pasrah menjalani kerumitan hidup nya.Biarlah ia menerima untuk saat ini,bila ini jalan takdir nya maka sekeras apapun ia menolak tetap tidak akan berubah.


Tubuhnya sangat lelah,ia ingin segera berendam air hangat.Tapi ia tak ingin pulang kerumah sang suami.Ia belum siap,biarlah Toni adalah tempat untuk pulang saat ini.Jika ada Dimas maka ia akan datang pada Dimas.


Beberapa saat kemudian,mobil yang di tumpangi Dinda sampai di parkiran Apartemen Pitaloka dimana tempat tinggal Toni.


"Cebun, Uda sampek."Zaki membangunkan Dinda masih terpejam.


Dinda mengerjapkan mata menteralkan penglihatan nya.


"Emm uda sampek,Berapa ongkos nya bang?"Tanya Dinda dengan suara khas bangun tidur.


"200 ribu aja."


Dinda mengeluarkan uang tiga lembar ratusan ribu lalu menyerahkan pada Zaki.


"Seratus nya untuk makan malam lo bang,Maaf Uda ngerepotin abang hari ini." Ucap Dinda tulus.


"Makasih,Lo juga makan.Dari siang belum makan." Zaki perhatian karena ia tahu jika Dinda belum makan dari berangkat ke Medan hingga malam ini.


"Iya makasih."


"Besok siang jangan lupa traktir gue."


"Gue kira uda lupa,iya jemput gue di depan kelas."

__ADS_1


"Oke."


"Yauda gue turun."Dinda mengambil barang-barang belanjaan dan masuk ke lift menuju apartemen Toni.


Semoga kak Toni gak marah sama gue.


Saat pintu lift terbuka Dinda menuju pintu apartemen Toni.Ia terdiam sesaat di depan pintu.Dinda menarik nafas kemudian menekan barcode pintu apartemen Toni.


Dinda membuka pintu perlahan dan ia berjalan ke ruang tamu tampak kosong namun ia mendengar seseorang berbicara.Ia pun mengedar pandangan mencari sosok pemilik apartemen.


Tampak Toni sedang berbicara di depan laptop dengan pakaian formal di mini bar.Ia yakini bila Toni sedang rapat visual.Dinda tersenyum kala melihat Toni tampak lebih tampan memakai pakaian formal walau masih serba hitam dan dasi biru tersemat di kerah kemeja hitam itu.


Dinda meletakkan belanjaan di meja ruang tamu,Ia meyakini Toni belum menyadari kedatangan dirinya.Dan ia juga mendengar pembicaraan Toni dan beberapa orang dari laptop itu masih berbicara non formal.


Terdengar dari seberang sana orang-orang itu mencoba menggoda Toni yang masih melajang hingga kini.Tapi lihatlah eksperesi Waja laki-laki itu. Ck..Tidak ada senyum nya.Wajah datar begitu gimana mau menikah?


Dinda jalan perlahan menuju dapur tentu itu melewati Toni karena meja bar mini juga satu ruangan di dapur.Dinda membuka lemari pendingin,ia mencari sesuatu yang bisa di makan karena ia sangat lapar saat ini.


Ia tidak menemukan makanan disana namun ia menemukan susu kedelai kesukaan nya tertata rapi di dalam lemari pendingin Toni.Tentu itu membuat ia merasa senang.Ia mengambil 1 botol dan ia minum lalu bergegas menghampiri Toni.


Kini Dinda sudah berdiri disisi samping meja mini bar namun lagi-lagi Toni belum menyadari,Tampak Toni sedang melamun tidak menanggapi godaan para peserta rapat visual.


Dinda penasaran dengan orang-orang peserta rapat pun membungkuk menoleh ke arah laptop.Sontak membuat para anggota rapat terkejut dengan tindakan Dinda.Salah satu pemimpin rapat langsung berdehem.


Dinda menyadari kesalahan.Ia lantas menegakkan kembali tubuhnya.


"Toni."Panggil Tara dari seberang sana.


Toni tersentak dari lamunannya nya.Lagi-lagi ia belum menyadari ada Dinda di dekatnya.


"Ada apa kak?Uda bisa di mulai rapat nya?" Tanya Toni lesu tidak ada semangat.


"Belum." Jawab Tara datar.


Toni mengerutkan alis bingung,apalagi yang di tunggu.Dan ia aneh saat melihat para kepala Divisi perusahaannya tersenyum melihat ke arah dirinya.


"Ada apa kak?"Ia jadi penasaran ada apa sebenarnya.


"Apa kamu sedang bersama wanita saat ini?"

__ADS_1


"Tidak kak,Toni sendiri disini.Ada apa sih?" Toni semakin bingung.


"Kau ini pakai berbohong,jadi tadi siapa kalau bukan wanita?"


Dinda yang gemas melihat tingkah laku Toni pun memanggil nama Toni.


"Kak Toni."Panggil Dinda masih berdiri di tempat tadi.


Deg


Suara itu?suara yang ku rindukan.


Toni menoleh ke kiri dimana sumber suara di rindukan itu.


"Dinda.."Ucap nya lirih.


Benar suara itu benar ada di dekat nya saat ini.Tapi tunggu,kenapa Toni membuang wajah kembali kearah laptop dengan wajah datar namun seakan banyak yang ingin ia bicarakan.


Dinda melongo melihat reaksi Toni tidak sesuai ekspektasi.Walau ia tak membalas cinta Toni namun ia juga merindukan Toni karena ia sayang pada pengawal wajah datar nya ini.


"Kau tak ingin memeluk wanita mu dahulu sebelum rapat di mulai?"Tanya Tara seakan mengerti sang adik merindukan wanita nya tampak saat Toni mengucap nama Dinda seketika raut wajah Toni berubah lebih cerah.


"Tidak."Jawab Toni datar.


Dinda mendengar itu pun mendengus,Ia mengambil kursi menggeret ke arah ia berdiri tadi.Ia tetap menatap Toni dan sering ia memergoki Toni sedang melirik ke arahnya.


"Yakin gak mau peluk Dinda kak?"Tanya Dinda menahan senyum.


Toni tidak menjawab masih berwajah datar tanpa ekspresi itu.


"Yaudah Dinda pulang."Dinda beranjak berbalik. sebenarnya ia tak ingin pulang,hanya ingin ke kamar saja rebahan menunggu Toni.


Tangan Dinda di cekal saat Dinda berbalik.Tentu ia tersenyum menang,karena ia yakin jika Toni tak akan membiarkan Dinda pulang.


"Jangan pergi lagi."Ucap Toni sudah berdiri.Kini posisi Toni berdiri masih tertangkap kamera.


Toni berdiri dan...


🌸

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2