PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
sepisode 23 Terpuruk


__ADS_3

"Kau ini, apa tak kau lihat pandangan pasien, suster, serta dokter disana he.. mereka menatap aneh kearah ku seakan aku punya dua suami." cerocos Dinda menggunakan logat orang Medan.


Toni mendengar cara bicara Dinda mengulum senyum. Mira sendiri sudah tertawa terbahak-bahak mendengar cerocos Dinda.Aril juga sudah memasang wajah masam. Arga? ia merasa bersalah pada Dinda.


"Aku bertugas mengantarmu saat pemeriksaan kandungan Din."


"Itu hanya alibi mu saja kan? Sudah-sudah urusan kita bertiga belum selesai."


Aril dan Toni menelan saliva mendengar ucapan Dinda. Kedua nya saling pandang memasang wajah memelas untuk merayu Dinda agar tidak lagi di hukum.


"Oh iya Din, sebelah kamu itu siapa ya?"


"Sebelah mana ni mbak?"


"Sebelah kanan, kalau kiri mbak udah kenal kok."


"Oh ini Toni mbak pengawal berwajah datar GK pernah senyum dengan orang lain selain Dinda." Ia tersenyum kearah Toni.


"Mbak kira dia suami kamu."


"Justru Toni lebih dari suami aku mbak." Ia sengaja memanasi Arga.


Tentu perkataan Dinda membuat Arga menjadi marah. "Toni hanya pengawal mu Dinda gak lebih."


Dinda berdecak sebal.


"Ck..tahu apa Abang dengan Dinda?" Dinda juga mulai tersulut emosi.


"Ingat batasanmu Dinda." Rahang Arga mengeras,urat leher sudah tampak dilehernya dengan wajah memerah.


Dinda tahu suaminya sudah emosi jadi Dinda berakting kembali agar Mira tidak curiga.


"Maafkan Dinda bang, tapi Dinda sedih bila harus sendiri memeriksakan kandungan, Dinda juga ingin di temani suami Dinda juga. Jadi tolong sampaikan keinginan Dinda ya bang."


Dinda menggenggam tangan Arga yang sudah terkepal menjadi lampiasan emosi dan Dinda berharap emosi Arga meredah.


Emosi Arga surut ketika mendengar penuturan Dinda. Kenapa sangat sakit mendengarnya? apakah Dinda begitu menginginkan ku menemaninya? jika benar, aku sangat jahat padanya. apa aku telah jatuh cinta pada wanita ini? lalu bagaimana Mira? ah jantung ini kenapa menjadi sangat berdebar saat Dinda menggenggam tangan ku.


"Sudah..sudah.. Mari kita belanja."


"Yuk mbak." Dinda tersenyum.


"Honey..." Mira menengadah tangan ke depan dada Arga.


Arga mengerti mengambil dompet untuk memberi ATM kepada Mira. Namun bukan menerima ATM dari tangan Arga lantas Mira mengambil kartu sakti black card milik Arga.


Arga tidak protes ataupun melarang dan semua itu tidak lepas dari pandangan Dinda.


Dinda menjadi marah. Bagaimana bisa bang Arga sangat mudah memberi kartu itu sedangkan padaku hanya dijatah bulanan.


"ATM kalian sini." Dinda hanya mengucapkan tanpa menyebut dengan siapa ia berbicara.


Tetapi sepertinya ketiga pria itu mengerti dan mereka mengeluarkan ATM mereka masing-masing. Dinda hanya mengambil ATM milik Toni dan Aril.


"Gak perlu bang Arga.. simpang saja uang Abang untuk pacar Abang." Dinda menekan setiap perkataan dan menatap tajam Arga.


Karena Dinda masih emosi lantas menelpon pelayan rumah suaminya.Ia sudah tidak ingin berurusan dengan Arga, ia menyesal telah menerima Arga.Lagi-lagi ia menyesali kejadian dahulu telah terbuai bujuk rayu masa lalunya.


Keempat pasang mata memperhatikan Dinda.


📱Ny.Dinda


*Tutik.. tolong pindahkan semua barang saya di kamar tamu bawah ya.

__ADS_1


Tutik sang pelayan mendengar cara bicara istri Tuan nya dengan bicara formal artinya adalah perintah tak terbantahkan.


📲Tutik


*Baik Non. Adalagi?


📱Ny.Dinda


**Satu lagi, jika suami saya ingin mengembalikan barang-barang saya ke kamar atas kembali harus ijin dengan saya terlebih dahulu. Jika membantah maka saya tak akan pulang. Paham?


📲*Tutik


*Paham non.


Dinda memutuskan sambungan telepon. Ketiga pria itu menatap intens kearah Dinda.


"Ada apa?" tanya Dinda merasa tidak merasa bersalah.


"Kamu mau kemana Din?" Selidik Arga.


"Kerumah ibuk, oh iya bang katakan pada suami tercintaku itu untuk datang kerumah ibuk satu jam lagi. aku ingin berbicara."


"Mbak, Dinda duluan ya.. Dinda ingin beli perhiasan doang untuk menghabiskan tabungan kedua pengawal Dinda yang menyebalkan ini."


"its oke. Hati-hati ya."


"Iya, mainlah kerumah Dinda ya mbak.. katakan saja pada Aril jika ingin kerumah Dinda."


Memilih bentuk dan ukuran sesuai selera itu sangat menyenangkan bila wanita sudah berada di toko perhiasan.


Dinda memilih banyak perhiasan disana. Kesempatan mengambil keuntungan dari pria yang katanya cinta. bulshit.


Dinda membeli dua pasang set perhiasan, ia tidak memilih perhiasan harga fantastis.ia bukanlah wanita tylikal harus dengan harga WOW. ia lebih suka dengan nyaman dipakai baru ia membeli nya.


"Din.." panggil Toni penuh kelembutan.


"Ya kak..?" jawab Dinda tanpa menoleh kearah Toni.


"Apa kamu marah dengan tuan Arga?"


"Tentu aku marah."


"Apa kamu sudah mencintai nya?"


"Enggak kak, bahkan hatiku hampa. Pernikahan ini hanya kebahagiaan semu."


"Lalu bagaimana dengan ku Din?"


"Entahlah kak, tapi aku rasa perasaan kakak hanya bentuk rindu pada almarhumah tunangan kakak dan sebagai pelampiasan ***** kakak saja."


Toni yang mendengar itu menjadi tersulut emosi. Toni memberhentikan mobil di jalan sepi.


"Maksud kamu apa Dinda?"Toni menatap geram.


"Benarkan kak? Dinda hanya pelampiasan ***** kakak saja."


"Setelah semua kita alami, hubungan tersembunyi, hanya karena suami mu berkhianat kamu berpikir seburuk itu Din?


Dinda sudah tidak menjawab, pikiran nya sedang kalut saat ini.Air mata sedari ditahan akhirnya luruh juga membasahi pipi mulus nya.


"Tolong antar aku pulang kerumah ibu kak."


"Kenapa kamu tidak menjawab perkataan ku Din?"

__ADS_1


"Tolong kak.." Dinda memohon agar tidak berdebat karena Dinda merasakan sangat pusing.


"Baiklah kita pulang."


Sesampainya dirumah orang tua Dinda.


"Jagalah kesehatan mu Din, aku akan merindukanmu."


"Kakak bisa menelpon ku setelah pikiran ku tenang."


"Baiklah, kakak akan merindukanmu."


Dinda tersenyum seraya keluar dari mobil.


Sesampainya di dalam rumah orang tua Dinda disambut hangat oleh sang Ibu.


"Bapak kemana Bu?"


"Bapak tugas keluar kota Din."


"yaudah kalau gitu Bu, Dinda ke kamar."


"Istirahatlah Din, hati-hati naik tangganya ya."


"Iya Bu."


Dinda masuk kedalam kamar lamanya.


Semua masih sama..hanya kamar ini membuatku tenang, tidak ada tempat ternyaman selain kamar ini. Rindu..rindu kebebasan saat tinggal disini. Hidupku sangat rumit, bagaimana bisa aku jalani pernikahan seperti ini,untuk apa dia menikahi ku jika keadaan akan seperti ini.


Aku tak mengapa menjalani rumah tangga tanpa cinta. tapi bagaimana bisa kami sama-sama mencari persimpangan untuk berhenti bersama yang lain sebelum jalan kembali untuk menjalankan peran masing-masing.


Tidak. hanya aku yang mencari persimpangan dan aku adalah persimpangan untuknya. Aku benci takdir ini. Penyesalan ku semakin dalam tanpa ada kebahagiaan. Gumam Dinda menangis sesenggukan.


Tidak berapa lama, pintu diketuk dari luar pintu.Dengan cepat Dinda menghapus air mata dengan punggung tangan.


"Siapa?" tanya Dinda bersuara serak khas suara sehabis nangis.


"Abang Din."


Dinda tarik nafas dalam membuangnya dengan kasar. Ia buka pintu kamarnya.


"Masuk bang, kita bicara di dalam."


Arga mengangguk melangkah masuk kamar Dinda. Arga Memeluk tubuh Dinda erat, sangat erat dan Dinda tak menolak.Ia membiarkan suaminya tenang terlebih dahulu sebelum ia mengatakan keinginan nya.


Cukup lama keduanya terdiam dengan keadaan saling berpelukan.Merasa cukup dan sudah waktunya ia menyampaikan keinginannya.


"Bang.."


"Maafin abang Din." sesal Arga.


"Abang gak salah."


Hening kembali...


Ada rasa kasihan melihat raut wajah suaminya terlihat jelas rasa bersalah disana.Tapi untuk kali ini saja biarlah Dinda tegas mengambil keputusan.


"Mari berpisah bang.."


🌸


🌸

__ADS_1


Penasaran kan? yuk dukung like,komen dan vote biar emak semangat ngehalu nya.


__ADS_2