
"Kamu tidak boleh berinteraksi dengan kak Tara jika sedang berdua." titah Toni saat mereka sudah kembali ke kamar dengan baby El berada di gendongan Toni.
"Iya sayang. Nggak akan. Sini El nya. Mau Dinda keloni biar tidur. Dinda masih ngantuk kak.. Besok Dinda harus kembali ke Surabaya."
Toni memberikan baby El dengan wajah kesal setelah mendengar perkataan Dinda.
"Kamu mau tinggalkan kakak lagi?"
"Dinda harus kuliah kak." Dinda mengerti pasti Toni tidak akan setuju.
Toni diam saja karena ia berusaha memendam amarahnya. "Kakak ikut ke Surabaya bersama mu."
"Dinda tinggal di rumah kontrakan kecil kak.."
"Jadi kamu benar-benar akan tinggalkan kakak?" Toni menaikkan satu oktaf suaranya.
"Bukan kak.. Jangan salah paham. Dinda takut kakak tidak nyaman tinggal di rumah kecil tanpa AC."
"Aku lebih mengkhawatirkan kalian tinggal di tempat seperti itu Din."
Hati Dinda menghangat mendengar apa yang dikatakan Toni. Lalu kurang apa lagi Toni? Dinda benar-benar beruntung dinikahi pria dewasa di depannya ini yang sedang menatap baby El yang asyik menikmati ASI.
"Baiklah, kita cari rumah saja ya kalau kakak ingin ikut tinggal di Surabaya. Kita sewa aja jangan beli. Mubajir."
"Iya. Kakak nurut saja apa kata kamu."
Dinda tersenyum. Ia sadar, begitu banyak waktu terbuang selama ini tanpa suaminya.
"Sayang.." rengek Toni.
"Iya kak.."
"Mau itu.." Toni menunjuk apa yang sedang di nikmati baby El.
"Ya ampun kak.. Gantian dong sama El."
"Sebelahnya nganggur Din, boleh ya."
"Sebentar, biar Dinda atur posisi dulu."
Dinda bangkit duduk bersandar di kepala tempat tidur memangku baby El untuk menyu su sebelah kiri. Posisi kaki Dinda selonjoran dengan sedikit mengangkang karena pa ha kanan menjadi bantalan kepala Toni.
"Payu dara kamu semakin besar sayang. Kakak suka." puji Toni kemudian mengikuti baby El bermain di payu dara Dinda.
"Dinda merawat nya kak.. Percuma uang Dinda banyak." ucap Dinda bangga.
"Ya kakak tahu. Uang kakak semua milikmu." ucap Toni dengan pucuk buah da da Dinda tetap berada di dalam mulut nya
persis seperti baby El.
"Kakak suka?" tanya Dinda dengan suara yang tertahan.
"Sangat suka. Kakak sudah berlibur satu tahun maka jangan menolak apapun."
"Serius berlibur? atau cari sampingan?" goda Dinda.
Toni menghentikan permainan nya. "Serius sayang. Kamu tahu, Rian terus mengancam kakak jika kakak nekad menyusul mu. Kakak selalu lemah bila berurusan dengan mu."
Dinda terkekeh, ia tahu semua itu karena ancaman yang di berikan Rian adalah ancaman darinya.
"Sudah sayang, tutup punya kakak. Kita tiduran ya.."
__ADS_1
Dinda mengangguk sembari menutup mainan Toni. Tak lain adalah buah da da nya. Ia juga meletakkan baby El yang sudah tertidur lebih dulu.
"Bagaimana kuliah mu sayang?" tanya Toni seraya bangkit dari rebahan hendak pindah ke sebelah Dinda.
"Seperti biasa. Maaf kalau IPK Dinda gak memuaskan kakak."
Dinda dan Toni berbicara dengan suara pelan. Keduanya takut membangunkan baby El.
"Tidak masalah sayang, nikmati saja masa kuliah mu." ucap Toni sembari memeluk Dinda dari belakang.
Dinda membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Toni.
"Harus dinikmati dong. Jarang-jarang Dinda tidak di kawal. Kakak tahu, di Surabaya banyak fans Dinda."
"Fans?" Toni mengkerut kan dahi.
"Iya sayang, Dinda kan jadi penyanyi kafe. Dan Dinda punya fans disana."
"Ada pria juga?"
"Ya iya lah kak. Kan pengunjung kafe bukan perempuan aja. Ada yang masih SMA, kuliah, bahkan pengusaha juga ada. Karena kafe tempat Dinda kerja itu instragamble banget kak. Dan dekat dengan rumah kontrakan Dinda."
Dinda bercerita panjang lebar dengan senang nya tanpa melihat bagaimana raut wajah lawan bicara nya yang sudah berubah masam bahkan matanya sudah memerah karena emosi.
"Kamu terlalu mempesona hingga aku harus mengurung mu di kamar." ucap Toni karena sudah panas mendengar cerita Dinda.
"Eh.."
Dinda mendongak menatap wajah Toni. Ia sadar sekarang, susah payah Dinda menelan saliva nya.
"Hehehe jangan marah sayang.. Mulai sekarang Dinda akan menurut aja sama kakak." rayu Dinda.
"Benar?"
"Jangan tinggalkan kakak lagi Din."
"Enggak akan." Dinda mempererat pelukan nya.
Cukup sudah pikirnya. Jangan adalagi perpisahan. Ia ingin selamanya bersama Toni. Jangan adalagi nama Dimas atau Merry di hubungan nya.
Dimas? si pembual *akut. Bagaimana kabar itu orang ya? pasti udah nikah. Aahh jangan pikirkan dia lagi.
****
Berlin, Jerman*.
Di sebuah kamar mewah seorang pemuda sedang memeluk bingkai foto wanita dengan senyum mengembang.
Dia adalah Serkan Dimas Dinata. Hari ini ia sangat bahagia. Keberhasilan untuk terbebas dari hubungan pertunangan bisnis telah tercapai.
"Sayang.. Dindaku.. Tugas ku sekarang menepati janji ku padamu. Aku akan menjadi orang tersukses. Aku akan mewujudkan mimpi untuk hidup bersama mu. Tunggu aku.."
Dimas mengucapkan hal itu sembari mengusap wajah Dinda di dalam foto itu. Bahkan kini ia menangis. Ya.. Menangis bahagia. Langkahnya tidak akan hambatan lagi.
Ia sudah bertekad mewujudkan keinginan Dinda sebelum menjemput nya seperti yang diinginkan Dinda dahulu.
"Jadilah orang sukses sebelum menjemput ku."
Kalimat itu yang selalu menjadi motivasi nya untuk terus berusaha merintis bisnis barunya. Bahkan nama perusahaan yang ia dirikan terdapat nama Dinda.
Ia terkadang berpikir perasaan apa ini? Obsesi atau cinta kah? Jika obsesi.. Sudah dipastikan ia akan merebut Dinda atau setidaknya ia akan menggangu hubungan suami istri itu. Tapi lihatlah.. Ia sama sekali tidak ada mengganggu hubungan Dinda nya.
__ADS_1
Biarlah ia menanam cintanya dan terus memberi pupuk untuk cinta dihati agar semakin tumbuh subur hingga saatnya tiba, ia akan menjemput pujaan hatinya.
*Pujaan hati..
Apa kabar mu?
Aku berharap kamu baik-baik saja.
Aku selalu berharap dan berdoa.
Agar kita di persatukan suatu hari nanti.
Bagaimana pun keadaan mu, aku menerima mu.
Aku hanya ingin kamu yang menemani ku menjalani hidup. Sedih dan bahagia menghadapi hidup ini hingga di kehidupan kekal.
Apa kamu masih mencintai ku?
atau kamu sudah mengabaikan hatiku?
Semoga kamu tetap menyimpan cinta untukku walau setitik pasir pantai.
Biarkan aku jatuh cinta.
Terpesona aku melihatmu.
Biarkan aku mencoba.
Tak perduli kamu mau atau tidak.
Mata ini memandang mata indah mu.
Senyummu detakkan jantungku.
Rasa ini, rasakan cintamu.
Hatiku selalu mengatakan cinta.
Bahkan aku mengingat tatapan matamu membuat jantung ku berdebar lebih cepat.
Bibirku terbungkam hanya melihat senyummu.
Hanya lewat angin malam aku menyampaikan cinta dan rinduku.
Aku sayang kamu.
Aku cinta kamu.
Aku rindu kamu.
Sabarlah menunggu ku sayang..
Aku sedang berusaha mewujudkan keinginan mu.
Bersabar dan bersiaplah menjadi wanitaku.
Nyonya Serkan Dimas Dinata.
🌸
🌸
__ADS_1
Mohon dukungan like dan komen nya ya..