PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 36


__ADS_3

Dinda,Dimas,dan Rio baru saja menapaki Jalan Siburak-Burak.Dinda tampak antusias bila berkaitan dengan berbelanja.Sepertinya kebanyakan perempuan sangat menyukai itu.


"Kamu mau beli oleh-oleh apa sayang?"Tanya Dinda nya masih berdiri memandang souvernir tanpa menyentuhnya.


"Aku bingung."


"Ambil saja semua jika bingung,aku yang akan membayar."


"Benarkah?"tanya Dinda antusias.


Dimas mengangguk dan mengacak pucuk kepala Dinda gemas.


"Berantakan Dim."Keluh Dinda seraya merapikan ulang keadaan rambut.


"Tak apa,kamu masih tetap cantik.Ayo cepat pilih,kamu gak boleh kecapek an."


Dinda pun memilih pakaian setelan dengan tulisan Lake Toba sebanyak dua belas pasang. Sepuluh pasang untuk para pekerja dan dua pasang untuk suami juga pengawal tampan berwajah datar itu.


Setelah selesai berbelanja,Ketiganya kembali ke Villa karena Dimas tidak ingin Dinda nya kelelahan katanya.Di perjalanan Dinda hanya diam saja.


Saat di perjalanan Dinda memikirkan perbincangan sang Ibu di telepon saat Dimas kembali ke kamar nya untuk berganti pakaian.Ibu Dinda sudah mengetahui bahwa Dinda ingin bercerai namun sang ibu tidak mengetahui alasan apa hingga Dinda menginginkan perceraian.


Apakah Dinda harus menuruti sang ibu?


Dinda sadar apa yang di ucapkan sang ibu itu untuk kebaikan Dinda karena sang ibu tidak ingin salah satu anak perempuan nya menjadi janda di usia muda dalam keadaan hamil.


Mencoba berbaikan?


Mencoba menjadi istri yang baik?


Harus bisa memasak untuk suami?


Belajar memasak memang tidak sulit,tapi keadaan nya sekarang permintaan suami nya adalah ia harus berpura-pura menjadi adik angkat di depan kekasih suami nya.


Huh..baiklah..setelah pulang dari sini aku akan belajar masak dengan bi Imah juga Tutik.Tapi gimana dengan Dimas?haruskah berakhir sampai disini?Tuhan..bolehkah kali ini aku serakah?


Dimas sedari tadi memperhatikan Dinda nya dengan wajah sendu melamun ke arah luar jendela segera merangkul tubuh Dinda.


"Kenapa Din?"tanya Dimas menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Dinda.


Dinda kikuk,susah payah ia menelan saliva.


*Glek..


M4ampus lupa aku ada Dimas.Gak mungkin aku katakan akan menjadi istri lebih baik kan*?


Dinda menggeleng cepat,ia tak ingin di curigai untuk saat ini.Biarlah ia berbohong,biarlah ia serakah untuk kali ini,ia juga ingin bahagia di atas penyesalan terdalam nya.


"Aku gak apa apa Dim."Dinda mencoba tersenyum walau ia pasti tahu Dimas saat ini sudah curiga padanya.


"Jangan berbohong Dinda..Aku tak apa bila kamu ingin bersikap baik dengan suami mu,aku tahu posisiku Din."Ucap Dimas lirih hampir tak terdengar suara dari mulut Dimas,namun Dinda masih mendengar apa yang di ucapkan Dimas.


Tuh kan..Dia tahu isi hatiku dan isi kepala ku.Pasti Dimas dukun ini.Tapi aku sedih mendengarnya Dim..


Dinda mendongak menatap mata coklat Dimas.


Mata yang selalu memandang nya penuh cinta.

__ADS_1


Mata yang meneduhkan hatinya.


Mata yang menggetarkan jiwa nya.


Mata tajam saat memandang orang lain.


Di sentuh kedua sisi wajah Dimas,Keduanya saling memandang sendu,seakan mengatakan Tolong pertahankan aku.


Akhirnya air mata lolos meluncur ke pipi Dinda,keduanya masih terdiam menikmati wajah orang terkasih.


Dinda mengecup kedua pipi Dimas.


Dinda mengecup kedua mata Dimas.


Dinda mengecup kening Dimas,lama disana seakan menyalurkan ketenangan untuk Dimas.


Lagi.Keduanya saling menatap seakan mata keduanya berbicara.


Dinda memberanikan mengecup bibir sexy Dimas yang menjadi kesukaan Dinda.


Astaghfirullah 🤦 author mesum.🤣


Awal hanya mengecup,melu mat.Cukup lama keduanya berpangut.Setelah di rasa pasokan udara di paru-paru menipis keduanya melepas pangutan.Kening keduanya menyatu dengan nafas memburu.


"Tolong jangan tinggalkan aku Din."mohon Dimas pada Dinda nya.


"Tidak akan Dim,biarkan aku serakah kali ini saja.Aku tetap memilih mu."


Dimas meraih tubuh Dinda kedalam pelukan nya.Keduanya saling berpelukan.Dinda menangis dalam pelukan Dimas.


Rio sedang menyetir memperhatikan interaksi antara Dimas dan Dinda ikut sedih dengan kisah cinta mereka.Ia turut prihatin dengan sahabatnya nya.


Sekarang ketiga berada di restoran Villa sedang makan siang.Ketiganya masih dengan keheningan berselancar dengan pemikiran masing-masing.


"Dim..besok aku akan pulang."Dinda memecahkan keheningan diantara mereka.


Dimas mengangguk mengerti."Yo,urus laporan beberapa minimarket lagi dan urus keberangkatan kita ke Jerman."


"Ya baiklah."Rio mengerti perasaan sahabat sekaligus bos nya ini.


Ketiganya kembali terdiam.Dinda melihat Dimas makan dengan wajah datar begitu juga dengan Rio.Dinda menggeleng kepala.


Bisa makan dengan tampang datar begitu ya?apa mereka berdua menikmati makanan nya atau tidak ya? Serem juga lihat mereka berdua.


Dinda bergidik ngeri tanpa sadar.Gerak gerik Dinda dalam pengawasan Dimas dan Rio walau keduanya tetap menampilkan wajah datar tanpa ekspresi itu.


"Kamu kenapa Din?"


Dinda gelagapan bingung menjawab apa pada sang empunya pertanyaan.


"Aku gak apa apa Dim,teruskan makan nya Dim."


Dimas mengangguk dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Uda gitu aja?itu wajah kok lempeng amat?buat kesel tapi cinta.


"Oiya Yo,kamu udah punya pacar?"Tanya Dinda sekedar basa-basi.

__ADS_1


"Dia belum punya pacar."Bukan Rio yangenjawab melainkan kekasihnya.


"Kenapa belum Yo,padahal kamu tampan loh.." goda Dinda tersenyum dan mengerlingkan sebelah mata ke arah Rio.


Deg


Untuk pertama kalinya Rio menerima senyuman Dinda dan membuat jantung berdegup lebih cepat dari biasanya.


Dimas menatap Dinda dengan tatapan tajam.


"Din."Panggil Dimas dingin.


Raut wajah Dinda berubah seketika saat menyadari raut wajah Dimas sudah tak bersahabat dan lihat lah tatapan mata nya seperti elang.


Hajab lah aku..tadi bermaksud bercanda doang


kenapa begini?


"I-iya sayang."


Panggil sayang aja ya biar gak jadi marah.


"Kamu gak lagi godain Rio kan?"


"Mana ada,tadi hanya itu.."Dinda bingung harus jawab apa karena ia tadi benar godain tapi gak bermaksud lain.


"Yo."Panggil Dimas dingin.


Giliran Rio menelan saliva dengan susah.


Matilah gue..


"Gue gak lihat Dim, Sumpah.Cewe lo cuma bercanda Dim."


Dinda mengangguk tanda setuju tapi ia tak berani bersuara.


"Sayang.."Rengek Dinda dengan menggoyangkan lengan Dimas.


"Hem."Jawab Dimas singkat.


"Tadi cuma bercanda Dim,aku pengen tahu gimana kalau kamu cemburu,itu aja gak lebih."


"Terus gimana menurut kamu kalau aku cemburu?"


"Nyeremin.Gak lagi-lagi deh janji."Dinda mengacungkan dua jari.Jari tunjuk dan jari tengah.


"Kamu kan tahu kalau aku gak mau kamu bicara dengan yang lain saat ada aku bersamamu Din,Aku cemburu..aku mau kamu hanya bicara padaku,menatap aku saja."


"Iya maaf ya sayang..Bule Medan Tampan ku.."Rayu Dinda mengecup pipi Dimas.


Dimas tersenyum."Baiklah aku maafkan,sekarang mari ku antar ke Villa.Malam aku datang lagi ya."


Dinda mengangguk seraya beranjak dari tempat duduk mereka menuju kamar.


Rio?Tugas nya untuk membayar tagihan makanan ketiganya.


🌸

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2