PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 139


__ADS_3

"Kak.. Tangan nya jangan nakal." Dinda menimpuk tangan Toni yang sudah nakal kemana-mana.


Toni menghentikan aksinya menatap Dinda dengan seksama. "Apa tidak boleh?"


"Dinda sedang datang bulan jadi kakak harus libur ya.." tolak Dinda dengan halus agar Toni tidak kecewa. Ia tahu naf su suaminya sangat tinggi.


Seketika raut wajah Toni berubah sendu. "Kamu datang bulan? itu artinya kita gagal buat adik untuk El."


"Jangan sedih begitu, maafin Dinda belum bisa kasih adik untuk El." Dinda juga ikut sedih setelah melihat wajah Toni.


Toni mengangguk sedih. Ia sadar, seharusnya ia lah yang meminta maaf tapi mengapa Dinda yang minta maaf?


"Maaf." cicit Toni lirih.


"Iya. Minggu depan kita usaha lagi ya.. Ayo sekarang kita sarapan. Dinda ada kuliah pagi jam 9 hari ini."


"Kakak ikut ya.." rengek Toni.


Dinda menatap Toni yang masih menatap nya sendu. Akhirnya Dinda mengangguk. "Baiklah.. Biar El sama pengasuhnya dan mbak Maya dirumah."


Saat Toni ikut tinggal di Surabaya, Dinda langsung mencari pengasuh untuk baby El. Bukan ia tidak ingin belajar seperti Maya, yang bisa mengerjakan nya sendiri, tapi karena ia juga masih kuliah dan suaminya yang selalu mengekor kemana Dinda pergi menjadikan waktu pergumulan mereka bertambah.


Dinda takut baby El terlantar ataupun mengganggu saat ia dan suaminya sedang melakukan pergumulan panas. Bukan ia tega pada baby El, tapi hasrat yang tertahan itu sangat menyakitkan. Apalagi sudah berada di titik tengah. Dinda tidak mau hal itu terjadi padanya apalagi pada Toni.


Kini bibi Jubaidah telah bekerja kembali dan tinggal bersama Dinda dan yang lainnya. Hanya pengasuh baby El yang tidak tinggal bersama mereka. Pengasuh baby El hanya bekerja sampai jam tujuh malam.


Mau tahu jika Toni dan Dinda sedang melakukan rutinitas malam? tentu saja baby El akan bersama dengan bibi Jubaidah. Beruntung nya baby El tipe anak yang mau dengan siapa saja.


"Mommy.." panggil baby El berlari kearah Dinda dan Toni.


Dinda berjongkok menyeimbangkan tinggi baby El. "Kenapa sayang? El udah makan?" tanya Dinda yang di jawab gelengan kepala dari baby El.


"Kita makan ya.." seru Dinda mengambil makan baby El di tangan pengasuh baru baby El bernama Ani tersebut.


Dengan sigap Toni menggendong baby El menuju meja makan diikuti Dinda di belakang.

__ADS_1


Dinda menyiapkan makanan Toni di piring. Ia menyuapi baby El kemudian beralih ke piring Toni untuk ia suapi juga. Dinda tidak keberatan untuk itu.


"Kamu makan juga sayang." Toni menyodorkan sesuap makanan.


"Terimakasih kak." Dinda tersenyum manis pada Toni.


"Tolong jangan tersenyum sayang.." ucap Toni menatap Dinda dengan wajah datar.


Dinda mengerutkan dahi. "Kenapa kak?"


"Kamu terlalu cantik, jadi tambah cinta."


Seketika Dinda tergelak. "Kakak sedang mengeluh atau sedang gombalin Dinda sih? jadi gemas." Dinda bangkit menakup kedua sisi wajah Toni hendak memberi ciuman di bibir suaminya.


"Mommy apain Daddy?" tanya baby El yang sudah aktif dan banyak tanya.


Kedua bibir hampir bersentuhan itu seketika di undurkan oleh pemiliknya. Dinda dan Toni saling pandang dan tersenyum menyadari kesalahannya.


"Mommy mau cium Daddy El." jawab Toni.


"No. Mommy El." larang bocah berusia dua tahun kurang tiga bulan itu.


"Mommy El huuwaa.." seketika baby El menangis. Dan hal itu membuat Toni tergelak. Jika di boleh jujur juga ia merasa cemburu pada baby El karena selalu di peluk Dinda.


"Kakak suka sekali membuat El menangis." keluh Dinda mencoba mendiamkan baby El yang sedang menangis.


Toni bangkit ikut membujuk baby El yang menangis. "Maaf El.. Iya itu mommy El.. tapi istri Daddy. Bagaimana dong? itu tidak bisa di ubah El.."


Dinda melotot mendengar apa yang dikatakan Toni. "Apa sih kak.. Udah mending kakak lanjutkan sarapan nya."


Toni tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya yang sedang manyun itu.


"Baiklah ratuku. Hamba menurut apapun titah darimu."


*****

__ADS_1


"Jangan pernah berharap lebih pada orang yang kamu perhatikan sekarang." ucap Zaki sedari tadi memperhatikan pengasuh baru baby El.


Pengasuh yang bernama Ani itu tersentak ketika aksi mengintip kemesraan tuan rumah.


"Sa-ya hanya melihat tuan muda El menangis." elak Ani.


"El menangis bersama orang tuanya, kau tidak perlu khawatir."


"Perlu kau ketahui, Cinta mereka kuat. Kau satu langkah saja maju berbuat nekad maka banyak orang yang siap menghancurkan mu. Kau tidak ada apa-apa nya dibandingkan Dinda."


"Maafkan saya pak." Ani menunduk malu ketahuan mengagumi Toni.


Zaki meninggalkan Ani di dapur. Inilah akibatnya jika mengumbar kemesraan di depan orang lain. Menimbulkan rasa iri di hati orang lain.


Tapi Dinda dan Toni tidak salah dalam hal ini. Keduanya bermesraan di rumah mereka sendiri. Yang salah adalah sang pemilik hati yang iri. Mengapa mereka mengizinkan sifat iri hinggap di hati mereka?


Bukankah berpikir positif atau bahkan berpikir begini. "Wajar suaminya mesra begitu, kan sama istri sendiri." Lalu mengapa yang bukan istrinya iri?


Zaki menjadi kesal sendiri mengapa banyak sekali yang menginginkan Toni ataupun Dinda. Tidak bisakah mereka hidup tentram tanpa ada orang ketiga, keempat, atau kelima? Biarkan mereka bertengkar hanya karena ulah mereka berdua bukan karena orang luar.


Bertengkar seperti tadi misalnya karena Toni suka menggoda baby El, atau Dinda marah pada Toni karena suka sekali mencium Dinda sembarang tempat.


Jangan pertengkaran saat satu tahun silam. Sungguh hal itu juga membuat Zaki sakit. Orang yang sudah dianggap sebagai adik sendiri terpuruk sepanjang hari. Bahkan bekerja di kafe Dinda sering membawakan lagu yang mengungkapkan isi hatinya.


Bahkan tugas kuliah Dinda sering ia yang mengerjakan karena Dinda lebih sering melamun di kamar. Tentu apa yang dilakukan nya tidak di ketahui istrinya. Tidak mungkin ia menceritakan padanya. Tidak ingin menimbulkan kecemburuan.


Zaki benar-benar berharap kebahagiaan Dinda dan Toni selamanya. Sekarang Toni sudah banyak berubah. Dulu nya pelit suara, sekarang sudah mulai banyak bicara. Mungkin karena Dinda yang meminta hal itu. Tapi bukankah itu bagus?


Dahulu jika makan satu meja dengan Toni pasti merasa canggung dan takut karena Toni memasang wajah datar dan tidak pernah berbicara pada yang lain selain Dinda.


Sekarang sudah mau berbicara saat di meja makan. Tapi ya karena Dinda. Semua perubahan Toni itu adalah ulah Dinda.


Penampilan Toni juga sudah sedikit berubah. Jika dulu lebih sering memakai pakaian berwarna gelap, sekarang sudah mulai memakai pakaian berwarna. Kemeja maroon, putih, cokelat, bahkan ada kemeja batik.


Itu semua karena Dinda !

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2