
"Wow.. Kota Surabaya gak jauh beda sama kota Medan. Sangat ramai." ujar Dinda saat sudah berada di luar komplek perumahan nya.
Dinda celingukan mengarah pandangan mencari sebuah bangunan yang menjual makanan.
"Ah.. Disana ada Kafe. Ya ampun kenapa kalau jalan kaki rasanya jauh sekali. Kalau begini jadi rindu si kuning." keluh Dinda sembari berjalan ke kafe terdekat.
Setelah sampai di Kafe tersebut Dinda segera memesan makanan dan minuman. Ia pesan sepiring nasi goreng seafood dan jus jeruk serta air mineral.
Dinda termenung mendengarkan alunan musik dan lagu yang dinyanyikan seseorang di kafe tersebut. Tak berselang lama pramusaji mengantarkan pesanan Dinda.
Menatap makanan di depan nya mengingatkan kembali akan sesosok Toni. Ia tersenyum getir melihat nasi goreng seafood. Makanan kesukaan nya saat hamil baby El.Tepatnya suka jika Toni yang memasaknya.
"Sudah lama sekali Dinda nggak makan ini kak. Kakak udah makan kan? Pasti udah dong."
Dinda mulai menyuapkan makanan nya. Makan dengan hati tidak karuan. Bukan hal mudah ia pergi meninggalkan Toni. Menyerah begitu saja pada masalah rumah tangganya. Lebih parah lagi ia pergi meninggalkan Toni dan seluruh keluarganya.
Ia akan menghadapi konsekuensi dari apa keputusan saat ini. Di terima atau tidak, yang penting ia pergi demi kebahagiaan Toni dan Merry. Sekarang yang harus di pikirkan Dinda adalah kuliah dan bekerja untuk biaya hidupnya juga baby El.
Memang tabungan dan perhiasan dari Toni lebih dari cukup bila hanya untuk biaya hidup Dinda dan baby El. Tapi ia harus tetap menyimpan nya untuk biaya pendidikan baby El nantinya.
Selesai makan Dinda tidak langsung pulang karena ia tahu ada pengantin baru yang sedang menjalankan malam pertama. Ia harus memberi waktu untuk keduanya.
"Ada yang ingin menyumbangkan suara emasnya malam ini?" ucap seseorang.
Ia memperhatikan keadaan sepertinya tidak ada yang ingin menyumbangkan suara. Berinisiatif mengangkat tangan.
"Oke mbak yang duduk di meja kedua pakai baju putih sepertinya ingin menyumbangkan suara emasnya. Sini silahkan mbak."
Dinda mengangguk beranjak menuju panggung kafe tersebut.
"Hai.. Kenalin aku Dinda. Hari ini adalah hari pertama ku pindah ke Surabaya. Salam kenal." sapa Dinda dan di sambut baik oleh para pengunjung.
"Ah iya.. Aku punya satu permintaan. Tolong jangan ada yang video aku saat nyanyi ya.. Takut viral dengan suara jelek aku." gurau Dinda padahal ia mengatakan itu karena takut Toni mengetahui keberadaan nya.
Dinda memilih gitar sebagai alat musik nya. Sebentar ia melakukan intro kemudian petikan gitar mengantarkan lirik pertama lagu yang ia pilih.
Laluna-Selepas Kau Pergi
Bait pertama sama benarnya yang ia rasakan. Tetapi bukan Toni yang pergi melainkan dirinya dan ia merasakan sesuatu telah hilang di dalam hidupnya.
Ia bernyanyi benar-benar menghayati. Menyalurkan isi hati yang tak bisa di ungkapkan dengan sebuah kalimat dan memilih pergi.
Bait kedua benar-benar menyampaikan keadaan hatinya. Ia terluka dengan kenyataan yang ada dan yakin jika Toni juga merasakan luka yang sama.
Saat memasuki reff hal inilah yang sulit di lakukan Dinda.
Bantu aku.. membencimu.
__ADS_1
Satu kalimat yang sulit ia lakukan. Membenci seseorang yang sangat kita cintai walau sudah melakukan kesalahan itu sangat sulit.
Ku terlalu.. mencintaimu.
Cinta. Mengapa harus membuat aku terlalu cinta jika harus menyakiti ku?
Dirimu begitu.. berarti untukku.
Apa kau sengaja membuatku bergantung padamu hingga kau sangat berarti untukku?
Kau telah mencinta.
Dan di cintai kekasih mu.
Aku tak tahu siapa yang kau cinta. Aku atau cinta pertama mu? Sudah pasti cinta pertama mu kan?
Ini tak a..dil bagiku.
Hilanglah damba tinggalah hampa.
Benar. Ini sangat tidak adil bagiku. Setelah kau membuatku jatuh cinta mengapa kau menabur luka? luka yang lebih parah dari mereka sebelumnya. Bolehkah kau yang kucinta menjadi kau yang ku benci?
Lupakanku dalam hidupmu.
Hanya itu harapanku. Semoga kita saling melupakan.
Terutama aku. Lupakanlah aku yang pernah bahkan akan selaku mencintaimu.
Kau memang tercipta bukanlah untukku.
Sebuah kenyataan yang menyakitkan. Sekuat apapun kita berusaha untuk bersama jika alam semesta tidak mengijinkan kita bersama maka kita tetap tidak akan bersama.
Petikan gitar pun berakhir dan tepukan tangan menjadi hadiah di akhir tampilannya. Dinda hanya bisa mengucapkan terimakasih.
Dinda kembali duduk di mejanya tadi. Seseorang mendatangi Dinda.
"Boleh saya duduk?"
"Maaf. Ada apa ya?"
Sadar akan penolakan Dinda, seseorang itu hanya berdiri di depan meja Dinda. Namun setelah melihat beberapa pramusaji membungkuk hormat pada orang di depannya ia sadar jika orang tersebut adalah orang yang di segani di kafe itu.
"Silahkan duduk em.." Dinda bingung harus memanggil apa pada orang itu.
"Andi. Panggil saya Andi saja."
Dinda mengangguk kemudian memperhatikan Andi seperti tidak asing.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dinda.
"Ya kamu benar. Di pesawat. Kita duduk bersebelahan." ucap Andi.
"Oh iya. Maaf ya soal di pesawat tadi."
Andi mengangguk. "Tujuan kamu ke Surabaya ngapain?"
"Saya pindah dari Medan kesini ikut abang. Kalau kamu?"
"Jangan kaku begitu bicaranya. Biasa aja ya. Kemarin aku mengantar tunangan ku ke Medan untuk kuliah di Medan. Lebih tepatnya di USU."
"Wow.. Hebat dong bisa masuk USU. Aku yang lahir disana gak lulus masuk USU."
Sontak keduanya tertawa. Seperti sudah lama kenal padahal belum satu hari mereka bertemu. Dinda berpikir semoga ini langkah yang baik. Mencoba membuka diri untuk berteman dengan siapa saja tanpa melewati batas.
"Oh iya hampir aku lupa. Kamu mau nggak bekerja sebagai penyanyi kafe ku ini?"
Apa aku sangat terlihat seperti orang yang mencari pekerjaan? Padahal kalau aku mau, kafe ini bisa ku beli dengan uang di ATM ku.
"Boleh. Tapi aku juga sedang kuliah. 2 hari lagi aku masuk kuliah."
"Gak masalah, kamu masuk dari jam 5 sore sampai jam 11 malam saja. Soal bayaran juga kamu bisa minta harian atau bulanan."
"Kalau masalah gaji aku minta bulanan aja. Yang penting gak mengganggu kuliahku."
"Oke siap. Setiap hari Jum'at kita libur oke."
Dinda mengangguk mengerti. Pembicaraan mereka berlanjut seputar kota Surabaya. Tempat sekitar kafe dan juga perumahan dimana Dinda tinggal. Ternyata mereka satu komplek hanya beda gang saja.
Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam Dinda pun pamit.
"Aku pamit ya.." ijin Dinda setelah membayar pesanan nya.
"Oke. Seperti ku bilang tadi. Sebaiknya beli sepeda motor agar memudahkan mu kemana-mana."
Dinda mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih teman pertama ku di kota ini. Aku permisi."
Dinda kembali berjalan menuju rumahnya. Ia bersyukur awal yang baik di kota Surabaya.
"Semoga bang Zaki udah selesai malam pertama nya. Aku benar-benar mengantuk."
20 menit berjalan sangat membuatnya menjadi bertambah lelah. Ia membuka pintu yang tidak dikunci itu. Setelah pintu terbuka.
"Dari mana saja kau?"
🌸
__ADS_1
TBC