
Bulan telah bersinar terang berteman bintang.Toni duduk di sofa kamar menatap pemandangan indah di depan nya.Sangat indah.
Toni terus mengembangkan senyum tatkala Dinda menahan rasa geli atas perbuatan bayi nya.
Ya.Toni menatap Dinda yang sedang memberi ASI pada bayi belum memiliki nama itu.
Toni beranjak mendekati Dinda duduk di tepi ranjang tidur.
"Boy..Itu punya Daddy loh..Daddy hanya pinjamin dua tahun saja ya,setelah itu Daddy akan sita kembali."Toni mengelus pipi bayi mungil itu.
"Ya ampun kak..Kenapa ngomong nya frontal begitu?Boy masih umur seminggu sudah dengar begituan."Ucap Dinda sewot.
"Tapi benar itu punya kakak sayang."Toni berpindah duduk menjadi duduk di belakang Dinda.
Dinda hanya berdecak sebal dengan ucapan frontal Toni.Terkadang Dinda berpikir,kenapa bisa Toni berpikiran mesum bisa menjadi laki-laki sukses seperti sekarang.
"Kak,sudah siapkan nama boy?"
"Sudah sayang."Toni meletakkan dagu di atas bahu Dinda.
"Siapa kak?"Tanya Dinda penasaran.
"El-Dio Gerhard Sanjaya.Bagus tidak?"
Dinda mengangguk sebagai jawaban.Apalagi yang bisa ia jawab?bahkan ia tidak menyangka anak nya di beri nama keluarga besar Sanjaya.
Setetes air mata akhirnya terjatuh.Dinda merasa bukan hanya terharu,tapi ia juga bersyukur atas kehadiran Toni yang mau menerima Dinda dan masa lalu Dinda.
Toni menyadari Dinda menangis lantas mengambil alih menggendong baby boy kemudian di letakkan ke box bayi.
"Kenapa menangis hem?"Toni bertanya dengan lembut sembari menghapus air mata Dinda dengan ibu jari.
Dinda menggenggam tangan Toni yang masih berada di kedua pipinya.dinda mengecup telapak tangan Toni.
"Terimakasih sudah menerima Dinda dan El kak."Ucap Dinda menatap mata Toni dan masih menggenggam tangan Toni.
"Kakak menikahimu karena cinta dan kakak mendapatkan bonus dari mu yaitu El."Toni tersenyum mengatakan itu.
Dinda hanya tersenyum.Ia merasa beruntung bertemu dengan Toni.
Toni beranjak menuju lemari mengambil dompet dan mengeluarkan tiga kartu ATM sakti miliknya.
"Sekarang kamu yang pegang dan kelola keuangan kita ya dan kata sandi tanggal pernikahan kita."Toni menyerahkan tiga kartu sakti.
"Untuk apa?Kenapa banyak sekali kak?"
"Untuk kehidupan rumah tangga kita sayang,kartu gold untuk keperluan kita bertiga.Kartu silver untuk kebutuhan rumah.Dan Kartu biru khusus untuk kamu kakak kembalikan,kemarin terbawa di koper kamu saat kamu di rumah sakit."Terang Toni menyerahkan kartu sakti pada Dinda.
"Jadi kalau Dinda pengen beli sesuatu pakai yang mana kak?"Dinda bingung kenapa harus tiga kartu.
"Pakai yang gold."Jawab Toni sembari melihat Dinda sedang membolak-balik kartu sakti tersebut.
"Kakak tidak takut Dinda habiskan uang kakak?"
Toni terkekeh mendengar pertanyaan Dinda. "Kalau habis,kakak kerja lagi saja."
"Kalau Dinda buat beli motor cukup tidak?" Dinda sudah lama sekali ingin naik motor lagi seperti saat masih sekolah.Semenjak menikah, ia tidak pernah menaiki motor lagi.
"Kalau untuk beli motor tidak boleh.Bahaya Dinda."Larang Toni.
"Kakak saja yang tidak tahu kalau Dinda bisa naik motor."Ucap Dinda sewot.
"Beli saja yang lain,tas,sepatu,baju,atau apapun asal jangan motor."Titah Toni merebahkan diri menghadap Dinda sedang cemberut.
__ADS_1
Dinda tidak menjawab hanya beranjak menyimpan kartu sakti ke dalam laci nakas.
Dinda meletakkan bantal guling di tengah tempat tidur sebagai pembatas.Kemudian merebahkan diri memunggungi suami.
Toni hanya senyum atas apa yang di lakukan Dinda,ia tidak marah bahkan gemas melihat tingkah Dinda.Ia menyadari jika ia memperistri perempuan yang masih belia tentu ia harus lebih sabar.
Tapi paling ia tunggu momen dimana Dinda membuang pembatas itu dan mendatanginya untuk tidur dalam pelukan nya.
"Sayang.. yakin tidur di batasi begini?"
"Ya."jawab Dinda singkat.
"Baiklah.."
5 menit
10 menit
30 menit
Dinda melempar bantal guling pembatas itu ke lantai lalu bergeser mendekati Toni.Akhirnya Dinda meletakkan kepala ke atas dada Toni dan memeluknya.
"Masih marah?"Tanya Toni mengelus kepala Dinda.
Dinda menggeleng sebagai jawaban sembari menikmati elusan diberikan Toni.
"Maaf."
"Jangan minta maaf sayang,kakak hanya takut kamu kenapa-kenapa jika naik motor."
"Dinda hanya sesekali saja naik motor nya kak.."Rayu Dinda lagi.
"Baiklah jika itu yang membuat mu bahagia,tapi nanti saja beli nya saat kamu benar-benar sudah pulih ya.."
Toni mengangguk sebagai jawaban dengan memberikan kecupan di pucuk kepala Dinda.
"Kapan kamu akan ikut kakak ke Jakarta Din?"
Dinda tertegun mendengar pertanyaan Toni.Ia memang menginginkan Toni mengucapkan ini.
"Kapan kakak mau membawa Dinda ke Jakarta?"Bukan menjawab tapi ia balik bertanya karena ia siap kapan pun akan di bawa Toni.
"Secepatnya,cepatlah pulih agar kita bisa ke Jakarta.Kakak juga ingin melihat keadaan kantor sudah lama kakak meninggalkan kantor."
Dinda mengangguk."Dinda juga ingin bertemu Sari,Dinda sangat merindukan dia."Dinda berbicara sambil terpejam.
"Dinda juga bosen di kampus tidak ada teman."Keluh Dinda.
"Kenapa bisa begitu?"
Dinda duduk menghadap Toni sedang berbaring.
"Apa kakak tidak sadar ulah kakak?mereka takut berteman dengan Dinda,hanya Nana dan Zaki yang berani berteman dengan Dinda."
Toni terkekeh menyadari perbuatan nya saat menjadi pengawal Dinda.
"Sangat posesif."Sarkas Dinda pada Toni dengan wajah mengejek.
Toni gemas lantas mengacak rambut Dinda kemudian duduk berhadapan dengan Dinda.
"Apa kamu akan tinggalkan kakak saat Dimas kembali?"
Dinda menggeleng sembari merapikan rambut yang berantakan ulah Toni.
__ADS_1
"Tidak akan,sekarang fokus Dinda hanya untuk kakak dan anak-anak juga kuliah Dinda."
Walau hati ku masih terbagi.
Mata Toni berbinar mendengar perkataan Dinda."Benarkah?"
Dinda mengangguk sebagai jawaban.
S**etidaknya aku bisa membuat kak Toni bahagia.
"Sayang,kakak kangen.."Toni berubah menjadi manja jika sudah urusan olahraga di atas tempat tidur.
"Sabar ya..Tidak akan lama lagi.Tempat permainan kakak masih di renovasi.Masih berdarah kak."Dinda mencoba memberi pengertian agar Toni mau menahannya.
"Bagian atas saja sayang..Kakak kangen gunung kembar milik kakak itu yang sedang di pinjam El."Toni memasang wajah cemberut.
Dinda terkekeh.Dinda tidak menyangka melihat Toni mengapa bisa berubah manja saat berurusan olahraga di atas tempat tidur.Sangat jauh berbeda jika sudah berada di luar kamar.
Apalagi saat di luar rumah,maka wajah berubah menjadi datar,kaku tanpa senyum bila berhadapan dengan orang lain.
"Pelan-pelan kak geli.."Ucap Dinda saat gunung kembar sudah di eksekusi pada sang pemilik.
Posisi Toni saat ini sama seperti El sedang menyusu ASI Dinda.Tidak lupa Toni memberi tanda kepemilikan disana.
"Ini punya kakak,jangan di kasih ke yang lain selain El." Toni menggigit gemas pu ting gunung kembar Dinda.
"Aaww Sakit kak.."Dinda mengatakan sakit namun ia tersenyum.
"Lagi?"
"Lagi nya sebentaran saja setelah masa Iddah selesai."Dinda mengerling sebelah mata.
Toni tertawa kecil.Ia sangat tahu apa yang di maksud Dinda.
"Kakak mau nya Dinda gimana?Dinda yang malu-malu atau Dinda yang agresif?"Tanya Dinda manja sembari memainkan bulu di dada Toni.
"Kedua nya.Permainan awal kakak yang pimpin, setelah itu kamu ambil alih."
Dinda dan Toni tertawa kemudian Toni kembali ke permainan gunung kembar dan tangan sudah mulai nakal bergerilya ke punggung Dinda.
"Tangan jangan nakal kak,Dinda susah nahan nya nanti."
"Lepaskan saja sayang."Toni berbicara dengan keadaan pu ting masih di dalam mulut Toni.
"No sayang..Kita tidak boleh lebih dari ini."
"Baiklah,kamu tahan saja ya..Setelah ini kakak akan ke kamar mandi."Toni berbicara dengan mulut masih bermain dengan pu ting,tangan satu bergerilya ke punggung Dinda dan satu tangan lagi sudah maju mundur di pusaka miliknya.
Dinda hanya bisa gigit bibir bawah saja.Bohong jika ia tidak ikut hor ny melihat dan merasakan apa yang di lakukan Toni.
"Mau Dinda bantu?"Akhirnya pertahanan nya lenyap.
Toni menatap Dinda dan mengangguk sebagai jawaban.Kemudian Toni duduk bersandar di kepala tempat tidur untuk mempermudah kegiatan Dinda.
Dinda memulai permainan dengan kepala naik turun sesekali meremas mesra pusaka Toni.
Dan Toni hanya bisa menikmati mengeluarkan ******* dan erangan nikmat.
30 menit kemudian.
"Kamu terbaik sayang."Ucap Toni diakhir permainan mereka." Toni mengecup kening Dinda kemudian menjilat ujung bibir Dinda terdapat sisa-sisa hasil permainan tadi.
🌸
__ADS_1
🌸