PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 82 Damai dalam pelukan


__ADS_3

Dinda termenung berteman secangkir teh hangat yang di sajikan dari dua orang masa lalunya.


Tadi saat Dinda masuk mengejutkan Arga dan Aril sempat membuat panik dengan keadaan Dinda.Kemudian Dinda menceritakan apa yang terjadi padanya di kantor Toni.


"Tenangkan hati dan pikiran mu Din,jangan ikut emosi hadapi Toni."Nasihat Aril.


"Kamu harus pulang.Jangan kabur-kaburan lagi.Sudah punya anak."Titah Arga.


Dinda menghela nafas panjang.


"Iya-iya.Dinda pulang."


"Kenapa bisa kau selemah itu Din?aku mengenal mu.Kau tidak mungkin selemah ini di perlakukan seseorang."Cerca Aril.


"Aku juga nggak tahu."Jawab Dinda lesu.


"Itu karena kamu telah jatuh cinta pada suami mu Din."Ucap Arga sembari menegak minuman beralkohol itu.


"Bisa jadi."Ucap Dinda lirih.


*****


"Kamu apakan menantuku Toni? Bagaimana bisa kau lebih mementingkan wanita asing dari pada istrimu sendiri hah?Bahkan kau mengusir Dinda."Cerca Mama Rahma saat mendapat laporan dari orang suruhannya berada di Perusahaan anaknya.


"Kenapa kamu tega Nak?Jika memang sudah tidak menginginkan anak Ibu katakan terus terang.Ibu paham keadaan anak Ibu bagaimana saat kamu nikahi."Ucap Ibu Ayu di tengah Isak tangis nya.


"Jangan bicara seperti itu Bu,Toni tidak sengaja melakukan itu dan Toni sangat menyesal."Toni menyesali perbuatan nya.


"Apa katamu?Menyesal?bahkan kau tidak mendengarkan penjelasan Dinda.Bahkan kau tidak bertanya pada orang yang melihat kejadian sebenarnya.Kau belum berubah Toni."


Amarah Mama Rahma meledak pada anak bungsu nya.


"Sekarang bagaimana?Dinda tidak membawa ponsel dan dompet nya.Kenapa kau tega mengusir nya?Suami macam apa kau Toni."Sambung Mama Rahma lagi.


*****


"Cepat masuk Din."Titah Arga.


Saat ini Dinda sudah berada di depan gerbang rumah Dinda.Ia masih belum siap jika harus bertemu dengan Toni.


"Dinda belum mau ketemu kak Toni bang."Rengek Dinda.


"Dek..Boleh marah pada suami,tapi pikirkan El membutuhkan mu setiap saat."


Dinda menghela nafas panjang.


"Iya Dinda masuk, terimakasih ya bang.Salam untuk mbak Mira."


Arga mengangguk."Jaga diri baik-baik."

__ADS_1


Dinda tersenyum."Dinda pulang ya..Ingat jangan rindu Dinda."Seketika membuat keduanya tergelak.


Arga akui bahwa ia masih mencintai mantan istrinya.Dinda.Tapi ia sadar tidak ada kesempatan untuk kembali lagi.


"Dinda turun ya bang.Terimakasih,jaga kesehatan abang..Jangan terlalu banyak minum alkohol,itu nggak baik untuk kesehatan bang."Pamit Dinda saat sudah berhenti tertawa.


Arga mengangguk kemudian mengacak rambut Dinda."Kamu juga hati-hati pada Rina,sepertinya dia termasuk wanita nekat."


Dinda mengangguk sebagai jawaban."Dinda pulang bang."Dinda membuka pintu mobil.


Dinda berjalan mendekati gerbang rumah.


"Pak Somat."Panggil Dinda kepada penjaga rumahnya itu.


"Ya Gusti..Nyonya kemana saja?"Tanya Pak Somat sembari membuka gerbang.


Dinda tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Pak Somat."Saya masuk ya Pak."


Saat berada di depan pintu masuk Dinda masih terdiam.Bohong jika suasana hatinya sudah membaik.Rasanya ingin pergi melarikan diri.Tapi ia teringat bahwa ia tidak sendiri lagi.Ada El yang lebih membutuhkan dirinya.


Dinda menarik nafas berulang kali untuk menormalkan hati dan detak jantung yang sedari tadi berirama membuat ia semakin gugup.


Ceklek...


Semua mata yang berada di dalam rumah menatap pintu yang mulai terbuka.Dan semua mata yang mengetahui siapa yang datang menatap rasa lega.


Namun sayang,Dinda tidak menghiraukan.Bahkan tidak memandang ke arahnya sedikitpun.


Ternyata sakitnya masih sama.


"Ibu kenapa menangis?"Tanya Dinda sembari menghapus air mata di pipi Ibu Ayu.


"Ibu khawatir padamu Nak..Dari mana saja kamu nak?"Tanya Ibu Ayu masih dengan rasa khawatirnya.


"Dari rumah temen.Dinda ke atas ya Bu mau lihat El."


Sebelum masuk ke kamar El,Dinda lebih dulu masuk ke kamar nya untuk membersihkan diri.


Dinda membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti.Ia tidak ingin mengambil resiko bila nanti setelah selesai mandi mendapati Toni di dalam kamar saat ia belum memakai pakaian.


Di dalam kamar mandi Dinda segera membersihkan diri dengan air hangat.Ia tidak ingin berlama-lama di kamar nya.Ia benar-benar ingin menghindari interaksi kepada Toni.


Dinda keluar dari kamar mandi setelah selesai berpakaian.Tepat sekali pemikiran Dinda.Toni sudah duduk di tepi ranjang sedang menatapnya saat ini.


Sejenak tatapan mereka terkunci.Dinda memutuskan tatapan nya.Dinda menghela nafas kemudian berjalan menuju meja rias.Dinda mengambil hairdryer memulai mengeringkan rambut setelah itu menyisir rambut panjang yang diwarnai coklat itu.


Tak lupa ia juga memakai skincare malam agar tetap tampak bersih dan cerah.Dinda sadari semua kegiatan yang ia lakukan ini tidak lepas dari pandangan Toni.Ingin sekali ia memeluk sang suami.


Ternyata dari permintaan Toni sewaktu itu untuk bergantung padanya sangat menyulitkan Dinda.Sulit untuk mendiamkan Toni,sulit untuk menyelesaikan segala kesusahan yang ia hadapi.Seperti sekarang,ia sulit mengendalikan diri di hadapan Toni.Ingin sekali ia menangis di pelukan suaminya.Toni.

__ADS_1


"Sayang.."Toni memeluk Dinda dari belakang.


Dinda memejamkan mata sejenak saat air mata mulai membasahi bola mata indahnya.


"Lepas kak,Dinda mau ke kamar El."Dinda meronta agar tubuh nya terlepas dari pelukan Toni.


"Jangan hindari kakak sayang..Lebih baik kamu pukul kakak,omelin kakak.Jangan hindari kakak Din."Ucap Toni dengan wajah memelas penuh permohonan.


Dinda membalikkan tubuhnya menghadap Toni.


Apa sih ini,kenapa pasang wajah memelas begitu?Aku nya kan jadi kasihan.Astaga..kenapa aku merasa ingin tertawa melihat wajahnya seperti itu?Suamiku sangat menggemaskan.


"Kakak akan memecat Rina besok."Ucapnya lagi.


"Jangaann.."Teriak Dinda tanpa sadar.


Toni menaikkan satu alis tidak mengerti dengan Dinda.


"Kenapa sayang?Dia salah."


Kalau di pecat,aku nggak akan bisa memantau gerakannya. Ucap Dinda dalam hati.


"Dia pasti butuh kerjaan bukan? sudah lepas,aku mau tidur di kamar El."Ucap Dinda sedikit ketus.


"Jangan tinggalkan kakak Din."ucap Toni penuh permohonan lagi.


"Ngomong apa sih kak?Aku itu hanya tidur dengan El.Bukan mau tinggalkan kakak."Dinda mulai kesal lagi.


"Kakak ikut,kakak tidak mau tidur sendiri."


Dinda memicingkan mata menatap Toni.


Kenapa aku merasa dia yang manja sih...Dan hanya sebuah pelukan sudah membuatku damai,benarkah aku sudah mencintai suamiku?


"Nggak boleh,malam ini Dinda milik El."Ucap Dinda ketus.


Toni melepaskan pelukan berlalu kearah pintu.Ia mengunci kamar,mencabut kunci dan di letakkan di atas lemari yang tidak bisa di jangkau oleh Dinda.


"Kakak.."Pekik Dinda.


"Kenapa dikunci?"Tanya Dinda mendekati Toni.


"Kan sudah kakak bilang,kakak tidak mau tidur sendirian."ucap Toni enteng.


Dinda menghentakkan kaki untuk menyalurkan kekesalan pada Toni.Kemudian beranjak ke tempat tidur merebahkan tubuh yang lelah.


Toni terkekeh saat melihat wajah kesal Dinda.Sangat menggemaskan.Ia pun ikut merebahkan tubuhnya.


🌸

__ADS_1


__ADS_2