PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 97 Hubungan semakin dingin


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu hubungan Dinda dan Toni masih dingin.Toni tidak lagi perhatian,tidak lagi melarang Dinda mau kemana dan dengan siapa.


Begitu juga begitu,ia sudah berusaha untuk mencairkan kembali hubungan yang sudah dingin tapi tetap saja hasilnya nihil.


Setiap waktu makan siang Dinda selalu mendatangi kantor Toni tapi saat baru sampai lobby, pihak resepsionis mengatakan jika Toni tidak berada di tempat.Maka dari itu ia langsung pulang atau ikut Zaki pacaran.


Dan kini ia baru saja sampai di parkiran Perusahaan Toni. Ia tersenyum saat melihat mobil Toni terparkir juga. Itu artinya Toni berada di kantor.


Ia berpikir kenapa tidak memperhatikan mobil suaminya dari tiga hari lalu.


*****


"Kenapa kamu tidak berusaha membujuk ku dengan mendatangi ku ke kantor? Aku merindukan mu tapi aku kecewa dengan mu." Ucap Toni menatap benda pipih berisikan foto Dinda.


"Bahkan malam hari kamu tidak pernah membujuk ku untuk kembali ke kamar kita."


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Sudah waktunya makan siang Tuan." Ucap Rina.


"Apa istri saya ada datang ke kantor?" Tanya Toni tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tidak ada Tuan."Jawab Rina berbohong padahal ia tahu semuanya.


"Baiklah. Saya akan pergi makan siang." Toni berdiri ingin makan siang di luar.


"Maaf Tuan. Hari ini saya masak banyak dan bawa bekal lebih. Jika Tuan bersedia, maukah Tuan mencicipi nya?".


Toni melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


"Baiklah."


*****


"Mbak Ina.Suamiku ada di dalam kan?"Tanya Dinda dengan senyuman manis.


Ina dan Berta saling pandang.


"Itu Din, Tuan nggak ada di ruangan nya." Jawab Ina gugup karena sudah ke empat kalinya membohongi Dinda


Ina dan Berta tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Rina yang jabatan nya lebih tinggi dari mereka.


Ina dan Berta sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menyambung hidup.


"Jangan bohong mbak. Mobil suamiku ada di parkiran loh.." Dinda tersenyum lagi tanpa curiga.


"Aku ke atas ya."


Dinda berjalan tanpa mendengar jawaban dua resepsionis itu.Ia menuju lift umum yang tampak hampir penuh itu.


Orang yang di dalam lift otomatis memberi ruang untuk istri pemilik Perusahaan tempat mereka bekerja.

__ADS_1


"Hai Pak Rudi."Sapa Dinda.


"Ah iya Nyonya."Pak Rudi yang di sapa lebih dulu itu pun merasa malu.


Saat pintu lift terbuka di lantai lima belas Dinda segera keluar karena itu adalah lantai tertinggi dimana letak ruang kerja Toni.


Dinda sangat gugup saat ini.Namun ia bertekad untuk mengakhiri hubungan yang sudah dingin ini.Ia harus mengalah apapun caranya yang pasti Dinda dan Toni harus berbaikan.


Dinda berdiri diam di depan pintu ruang kerja Toni untuk menetralkan diri dari ke gugupan nya.


Tapi tunggu. Suara wanita? kak Toni bersama wanita di jam makan siang?


"Apa masakan saya enak Tuan?"Tanya Rina di dalam ruang kerja Toni.


"Lumayan."


"Apa Nyonya Dinda bisa memasak?"


"Sedikit." Toni menjawab seadanya sambil meneruskan makan.


"Jika begitu, besok saya akan membawa makan siang lagi untuk Tuan."


"Biar saya ambilkan minum nya Tuan."


Dinda mendengar percakapan itu di balik pintu yang tidak tertutup rapat hingga ia bisa mendengar dengan jelas.Ia menangis merasakan sakit.


*Jadi karena ini kau tidak memperbolehkan aku menemui mu di kantor selama tiga hari ini? bukan tapi empat hari.Kau dirumah mengatakan tidak masalah jika aku tidak bisa memasak tapi saat di kantor kau menikmati masakan wanita lain.


Aku yang bodoh.Ku kira perkataan mu adalah bentuk cintamu. Ternyata aku salah. Aku salah datang kesini*.


"Nyonya tidak jadi masuk? Tuan ada di dalam kan Nyonya?"


Dinda tersenyum terpaksa. "Iya,Tuan sedang sibuk jadi saya akan pulang saja. Saya permisi Asisten Jo."


Asisten Jo mengangguk dan menatap punggung Dinda heran.


"Seperti habis menangis."


Asisten Jo mengetuk pintu ruangan Toni. Setelah mendengar suara perintah masuk Asisten Jo membuka pintu.


Pantas saja tampak habis nangis.Lihat beginian siapa yang tidak sakit hati. Tamat lah riwayat mu Tuan Toni.


"Tuan. Setengah jam lagi kita ada pertemuan di Perusahaan kontruksi masalah pembangunan hotel kita yang ada di Danau Toba."


"Baiklah. Saya juga sudah selesai."


*****


Dinda berlari keluar kantor saat sudah berada di lantai dasar.Ia kembali ke mobil dengan tangisan bila orang mendengar pasti merasakan sakit yang sama dengan apa di rasakan Dinda saat ini.


Brakk..


Pintu mobil tertutup dengan keras hinggap Zaki berada di dalam terlonjak kaget.

__ADS_1


"Lo kenapa Din?"Tanya Zaki dengan nada khawatir.


"Antar gue pulang bang." Dinda menatap keluar jendela membiarkan air mata menetes membasahi pipi.


Satu jam berlalu kini sampailah Dinda di kediaman nya.Ia masuk ke kamar baby El.


"Sus,siapkan keperluan El secukupnya sampai jam 9 malam dan kamu juga ikut saya sus."


"Baik Nyonya."


Setelah selesai berkemas Dinda,suster Maya dengan El berada di gendongan Dinda dan suster Maya membawa perlengkapan baby El.


"Nyonya mau pergi?" tanya bi Jubaidah saat melihat Dinda dan suster Maya seperti orang hendak pergi.


"Iya Bi, hanya sebentar."


Bi Jubaidah merasa iba pada Dinda karena ia tahu bila Dinda dan Toni sedang ada masalah.


"Benar hanya sebentar kan Nyonya? Bagaimana jika Tuan tanya Nyonya berada dimana?"


"Katakan saja saya sedang pergi kerumah teman. Saya pergi ya Bi."


Dinda keluar rumah di ikuti suster Maya menuju mobil.


"Antar kami ke Apartemen Pitaloka di Amplas."


"Apartemen siapa yang lo kunjungi Din? Jangan aneh-aneh."


"Apartemen lakik gue. Sebentar malam jemput gue jam 9."


"Tuan Toni tahu lo pergi kesana?"


"Nggak. Dan gue harap lo setelah antar gue jangan pulang dulu sampek gue juga pulang."


"Lo kabur?"


"Nggak. Gue butuh waktu sendiri."


Dinda menatap ruang Apartemen itu. Ia menghela nafas berulang kali. Sudah lama ia dan Toni tidak berkunjung kesini selama sudah menikah. Hanya saja apartemen ini tetap bersih. Mungkin ada Toni membayar orang untuk membersihkan.


"Ayo sus kita ke kamar. Biar El sama saya saja. Kamu bisa istirahat di kamar sebelah."


"Baik Nyonya."


Dinda memasuki kamar Toni di apartemen itu. Ada rasa haru saat ia memasuki. Dimana kamar ini lah menjadi saksi cinta terlarang antara Toni dan dirinya.


Dan...Ada rasa rindu.


Rindu kehangatan pelukan Toni. Rindu kecemburuan Toni. Rindu perhatian Toni.


*Aku nggak akan sedih lagi. Aku harus bisa menahan. Biarlah hati ini sakit demi pernikahan ini. Semua demi Bapak dan Ibu.


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2