
Hari di nanti telah tiba.Tepat 40 hari sudah masa nifas Dinda selesai.Siapapun yang melahirkan akan bahagia saat masa nifas telah usai.Kegiatan terbatas kini telah bebas.
"Kakak mau kopi atau teh?"tanya Dinda saat melihat Toni baru saja duduk di ruang makan.
"Kopi sayang."Jawab Toni tersenyum melihat Dinda sudah mulai terbiasa melayani keperluannya.
"Mama dan Ibu jadi pulang besok?"Tanya Toni pada kedua wanita paruh baya sedang menyantap makanan.
"Iya Ibu harus pulang,tugas Ibu sudah selesai dan Ibu sudah lama meninggalkan tugas Negara."Ucap Ibu Ayu.
"Mama juga,Mama mau pamer dengan teman-teman sosialita Mama kalau Mama udah punya cucu."Mama Rahma tersenyum saat memikirkan hal itu.
"Terimakasih Ma,Bu sudah bantu kami ngurus El."Ucap Toni dengan tulus.
Ibu Ayu dan Mama Rahma mengangguk bersamaan.
"Keponakan Bi Jubaidah siang nanti sampai,dia yang akan menjadi pengasuh El."Tutur Mama Rahma.
Dinda meletakkan kopi di depan Toni.
"Terimakasih sayang."Ucap Toni pada Dinda.
"Keponakan Bi Jubaidah?berarti masih muda ya Ma?"Dinda bertanya sembari menyiapkan roti dan mengoles selai kacang untuk Toni.
"Umur berapa Ma?"Dinda mulai cemas sembari meletakkan roti di atas piring Toni.
"Baru 23 tahun."Jawab Mama Rahma.
Dinda mendengar itu langsung menoleh kearah Toni dan Toni juga sedang melirik kearah Dinda.
"Nggak usah melirik gitu,awas aja kalau keganjenan."Sindir Dinda.
Toni mendengar itu seketika menelan saliva dengan kasar.Bukan ia keganjenan,tapi ia tahu jika Dinda melihat wanita lain keganjenan padanya maka Dinda akan membalas hal sama.Ingat saat acara tujuh bulanan di Balikpapan?Saat para sepupu Dinda mengerumuni Toni dan Dinda membalas menggoda Tara?
"Kan mereka yang ganjen bukan kakak."Bela Toni.
"Halah..Apalagi itu sekretaris kakak,apaan bos nya lagi teleponan sama istri nya di malah stay di dalam ruangan kakak."Dinda mulai membahas masalah yang sudah lalu.Wanita mah gitu..kesalahan Pria selalu di ingat.
"Itu kan kakak lupa kalau dia ada di dalam."Bela Toni lagi.
"Ingat ya kak,sekali kakak keganjenan..Maka akan Dinda buka peternakan untuk para laki-laki yang suka dengan Dinda."
Terdengar kekehan dari kedua paruh baya.
"Jeng,pantas anak-anak kita jodoh.Sama-sama gila."
Toni menghela nafas,ia harus mengalah saat ini."Kakak berangkat ya sayang."
Dinda ikut mengikuti Toni keluar rumah.Dinda menyadari perubahan sikap dan wajah Toni.Saat ini Toni diam saja dan berwajah datar.
"Maaf kak."Cicit Dinda saat sudah berada di depan rumah.
"Hem."Toni hanya berdehem.
"Di maafin nggak ini?"Dinda memeluk Toni tanpa dibalas oleh Toni.
Toni menunduk menatap Dinda yang juga sedang menatapnya.
"Kamu harus tahu,hati dan hidup kakak hanya untukmu Din,jadi jangan tuduh kakak seperti itu,dan jangan balas perbuatan sama hal yang kamu lihat sayang,kakak nggak akan sanggup melihat itu."
Dinda mengangguk dalam pelukan saat Toni sudah membalas pelukan Dinda.Kemudian Toni mengecup kening Dinda dengan lembut.
"Kakak berangkat ya..Jangan lupa makan siang.Kakak usahakan pulang tepat waktu."
__ADS_1
Dinda mengangguk sebagai jawaban.Ia berjinjit mengecup pipi Toni.
"Hati-hati ya suami Bule ku."
Toni gemas dengan Dinda lantas menarik hidung Dinda. "Kakak tunggu kejutan sebentar malam ya.."Toni mengerling kan mata.
Dinda hanya tertawa tidak menanggapi apa yang dikatakan Toni.Ia meraih tangan kanan Toni mencium punggung tangan salam takzim.
"Sudah sana berangkat,udah siang kak."
"Baiklah,kakak berangkat."Toni mengecup kening Dinda sekali lagi.
Dinda mengangguk sebagai jawaban.
****
"Bacakan jadwal saya hari ini."Titah Toni saat sudah berada di kantor nya.
"Hari ini Tuan ada pertemuan dengan pihak Pemerintah daerah di Restoran 002 untuk pembangunan hotel di daerah Medan Helvetia pukul sembilan dan meeting pukul dua siang dengan kepala divisi."Terang Rina dengan wajah tersenyum.
Hari ini tampilan Rina sangat mencolok,dengan baju ketat,rok pendek ketat,serta ber-make up tebal.Ia semakin semangat mencari perhatian Tuan tajir.Toni.
"Kenapa masih berdiri disitu?"Ucap Toni tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di depan nya.
Rina menjadi kikuk."Permisi Tuan."Rina membungkuk hormat kemudian berlalu dari ruangan Toni.
****
"Tolong antar makan siang ini untuk suami mu Nak."Titah Mama Rahma.
"Tapi Ma, Dinda belum pernah kesana,apa yang Dinda katakan sama orang-orang disana?"Keluh Dinda.
"Kamu harus lihat langsung sekretaris itu bagaimana dia dengan suamimu di kantor."Usul Ibu Ayu.
Kedua wanita paruh baya itu menganggu sebagai jawaban.
"Baiklah,Dinda siap-siap ya."
Dinda beranjak ke lantai dua.Sebelum masuk ke kamar pribadi,ia masuk ke kamar sebelah,memastikan baby El masih terlelap.
Setelah beberapa saat Dinda sudah selesai bersiap.Ia hanya mengenakan baju panjang berbahan rajut berwarna putih dan celana jeans panjang dengan make-up tipis.Sangat cocok untuk seusianya yang masih 19 tahun.Bila ada yang melihat Dinda maka mereka tidak akan tahu jika Dinda sudah menikah dan memiliki anak.
"Ma Dinda udah selesai."Ucap Dinda menghampiri Mama Rahma.
"Bekal di dapur Din,tadi udah di siapkan Bi Jubaidah."
Dinda mengangguk berlalu ke arah dapur.
"Bi Jubeh..Dinda ambil ya bekal nya.Terimakasih ya Bi."Ucap Dinda ramah.
"Iya Nya."
Dinda berjalan keluar rumah,tampak Ibu Ayu sedang menggendong El.Dinda pun menghampirinya.
"Bu..Dinda pergi dulu ya..Titip El ya Bu,Dinda juga udah stok susu El."Dinda mencium pipi El berlalu pergi karena ojek online yang ia pesan telah tiba.
Selang dua puluh menit kemudian Dinda telah sampai di depan gedung Perusahaan Sanjaya Group.Tidak terlalu besar karena Perusahaan Sanjaya Group di kota Medan adalah salah satu anak Perusahaan Sanjaya Group.
Dinda menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan.Ada rasa tidak percaya diri saat berdiri di depan gedung Perusahaan milik suaminya.Merasa tidak pantas kembali menyelimuti hati dan pikiran Dinda.
Kini Dinda sudah berada di lobby kantor Toni.Ia mendatangi resepsionis.
"Permisi mbak."
__ADS_1
"Ya ada yang bisa kami bantu dek."Jawab salah satu pegawai wanita disana.
"Adek ya mbak? Masih terlihat adek-adek ya?"Dinda mempertanyakan yang bukan tujuan awal.
"Iya,masih sangat muda."Jawab teman pegawai tadi.
"Tapi saya sudah bersuami dan punya anak loh mbak."Dinda mengakui sebenarnya.
Tapi tampaknya kedua nya tertawa seakan apa yang diakui Dinda hanya candaan saja.
"Ada-ada saja kamu dek."
Dinda cengengesan garing."Mbak,saya ini istri dari pemilik perusahaan tempat kalian bekerja ini loh."
Kedua pegawai resepsionis itu saling pandang kemudian tertawa lagi.
"Jangan sembarangan kalau berkhayal dek.Orang kantor ini juga tahu kalau Tuan Toni calon suami Bu Rina."Ucap salah satu resepsionis bernama Ina.
"Lebih tepatnya Bu Rina sendiri yang beberkan di kantor ini begitu."Ucap teman Ina bernama Septi.
"Serius?"Tanya Dinda cukup terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Serius.Hati-hati kalau ngaku-ngaku dek.Jika di dengar Bu Rina,maka siap-siaplah kau di hina olehnya."
"Ah saya hanya kurir makanan mbak.Dan saya di minta untuk mengantar langsung ke Tuan Toni."Dinda baru ingat jika tidak ada yang mengenal dirinya di dunia Toni.
"Kalau begitu tunggu di sana saja ya, Tuan Toni sudah keluar kantor sejak pukul sembilan tadi."Ucap Ina menunjuk sofa berada di lobby itu.
Dinda hanya mengangguk dan beranjak untuk duduk ke sofa.Ia baru tersadar ponsel nya tertinggal di rumah sehingga ia tidak bisa menghubungi Toni.
Sudah tiga puluh menit Dinda duduk menunggu tapi belum juga Toni menampakkan diri di kantor.Sedangkan Dinda sudah mulai bosan.
"Mbak,coba hubungi Tuan Toni deh,lama banget.Saya tunggu di ruangannya saja ya."Pinta Dinda.
"Maaf.Ruang Presidir tidak bisa sembarang orang masuk." Ucap salah satu resepsionis kemudian menghubungi seseorang.
****
"Maaf Tuan.Ada kurir mengantar makanan ke kantor dan ingin mengantar langsung ke ruangan Tuan."Ucap Rina setelah menerima informasi dari seseorang.
"Kurir?Saya tidak ada memesan makanan."Ucap Toni menatap benda pipih miliknya.Ia kesal karena Dinda tumben tidak sibuk menghubungi nya,bahkan ia telepon tidak di angkat.
"Apa saya suruh pergi saja kurir nya Tuan?"Tanya Rina memastikan.
"Tidak perlu."Singkat Toni.
Toni berjalan tegak berwibawa dengan di ikuti Rina berjalan berlenggak lenggok di belakang Toni dengan angkuh.Saat ini Toni berjalan menuju lobby kantor perusahaan Toni.
Dinda yang masih berdiri di depan meja resepsionis tentu dapat melihat Toni dan Rina memasuki lobby kantor.Dinda melihat kedua resepsionis tunduk hormat juga beberapa pegawai berpapasan dengan Toni langsung berhenti dan tunduk pada suaminya.Toni.
Saat Toni sudah berada di depan nya,Dinda langsung berdehem.
"Ehem."Dinda mulai kesel saat melihat Toni tidak melirik ke arah nya.
Toni menoleh ke arah kanan saat mendengar seseorang berdehem saat ia berjalan.
Dinda segera melambaikan tangan ketika Toni menoleh.
"Maaf Tuan,saya kurir pengantar makanan yang sudah menunggu lebih tiga puluh menit lalu."
"Kurir?"Tanya Toni melotot.
🌸
__ADS_1