PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 109


__ADS_3

"Dan untuk mu suami ku.. Selemah itukah cinta mu untuk ku dan El? Sekuat itukah cinta mu pada cinta pertama mu? Maafkan Dinda nggak sekuat itu kak.. Dinda takut. Dinda belum siap untuk menghadapi dunia mu. Boleh kah Dinda berkata jujur? Dinda lebih memilih kakak menjadi pengawal Dinda dari pada menjadi suami Dinda."


Deg


Jantung Toni seakan tertusuk sembilu pedang tajam meremukkan segumpal daging di dada nya. Ia tidak menyangka Dinda merasakan sesakit itu.


Sama hal yang di rasakan Sari dan Rian mendengar kejujuran Dinda. Seolah ikut merasakan apa yang di rasakan Dinda.


Sontak Toni,Sari,dan Rian menyebut nama Dinda bersamaan.


"Din."


Dinda kembali menatap Toni dengan mata berkaca-kaca. Di balik senyum dan ceria tersimpan apik hati yang lemah lembut. Hati yang sangat rapuh bila harus di sakiti barang sedikit pun.


Toni mendekap tubuh Dinda sangat erat. Menyesali perbuatan nya. Tidak. Ia tidak terima jika hanya di inginkan sebagai pengawal nya saja. Ia ingin di miliki Dinda seutuhnya.


"Maaf. Bukan maaf. Tapi ampuni kakak Din." Sesal Toni.


Merry melihat itu pun mengepalkan tangan dan pergi berlalu begitu saja. Ia pasti akan membalasnya. Ia akan merebut Toni.


Dinda masih terisak di dekapan Toni. Ia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Sudah cukup. Ia hanya ingin menangis sekarang. Dan pasti memaafkan Toni. Katakanlah Dinda itu bo*doh. Tapi bukan kah cinta itu buta? Apalagi ia juga pernah berkhianat walau hanya hatinya.


Dan ia juga tahu jika cinta pertama itu sulit di lupakan. Juga ia mengingat apa yang di katakan Rian. Jika Merry hanya ujian cinta yang harus di hadapi.


"Maaf." Ucap Toni mengatup kedua sisi pipi Dinda agar saling pandang.


Dinda mengangguk lemah. Tak ada lagi yang menenangkan selain suaminya. Toni.


Toni membungkuk mendarat kecupan di bibir Dinda. Dan Dinda terpejam menerima yang di lakukan Toni. Hingga kecupan berubah menjadi luma tan lembut menyampaikan rasa rindu yang sama. Menyelami perasaan semakin dalam.


Dinda mengalungkan tangan di leher Toni begitu juga Toni masih membungkuk dan setia mengatup kedua pipi Dinda sesekali pindah ke tengkuk leher Dinda. Lagi. Kebiasaan sepasang suami istri ini jika sudah terbawa arus dengan dunia nya maka lupa ada makhluk hidup di sekitar.


Ehem...


Sari berdehem menyadarkan Dinda dan Toni agar berhenti atau lanjutkan di ruangan lain menurut nya.


Rian yang melihat adegan itu segera membuang muka ke sembarang arah. Sakit dan cemburu menjadi satu saat ini. Tapi di sisi lain hatinya merasa bahagia melihat Dinda sudah berbaikan pada Toni. Kini perasaan nya benar-benar definisi dari cinta tidak harus memiliki.

__ADS_1


Dinda dan Toni tersadar mereka berada di tempat yang salah lagi. Sontak membuat Dinda masuk dalam pelukan Toni menutupi wajah ke dada bidang Toni menahan malu karena ini kali pertama Sari melihat kemesuman ia dan Toni. Sedangkan Toni memasang wajah cool seolah tidak terjadi apa-apa.


"Tahu malu kau beb?" Sari terkekeh melihat tingkah Dinda.


"Diam lah beb." Ucap Dinda masih dalam pelukan Toni.


"Udah dong ke uwuan kalian.. Lupa kalau ada kami berdua yang jomblo ini?"


Dinda tidak menjawab lantas melepas pelukan menormalkan suasana.


" Ayo kita makan siang bareng." Ujar Dinda.


*****


"Apa kau gila Sely? Kenapa kau gak mau putus?" Tanya Zaki frustasi.


"Karena sayang juga karena kamu sekarang banyak duit nya." Jawab Sely enteng.


"Dan yang pasti karena bos kamu yang kaya." Lanjutnya lagi.


Zaki diam tidak menjawab. Ia akui jika pacaran bersama Sely adalah pacaran terlama nya. Satu semester itu berarti sudah 6 bulan mereka bersama.


Bos Din : Inget tugas woy..*Pacaran mulu lo.


Zaki : Sorry. Bentaran gue balik. Mau di jemput dimana bos?


Bos Din : Gak perlu. Gue juga cuma mau kasih tahu jemput gue di salon Beauty's jalan ABC ya.


"Ngapain di salon Beauty's sayang?" Terdengar seseorang berbicara di seberang telepon Zaki yang ia yakini itu salah suami Dinda.Toni.


"Kakak lupa kalau Dinda mau reuni besok di hotel kita? Dinda dan Sari harus tampil maksimal. Mau lihat yang muda-muda."


Zaki terkekeh mendengar Dinda sudah kembali cerewet.


*Zaki : Iya nanti gue jemput. 1 jam lagi gue kesana.


Bos Din : Oke. Makan siang dulu karena menunggu cewek nyalon juga butuh tenaga*.

__ADS_1


Ia mendengar ucapan nyeleneh Dinda hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia sangat bersyukur pada Tuhan di pertemukan dengan Dinda. Wanita baik dan tulus walau bagaimanapun masalalu nya.


Ia sempat berpikir Dinda adalah wanita murahan. Tapi setelah mengetahui sebenarnya, Dinda adalah wanita yang baik dan butuh seseorang untuk menuntun nya keluar dari masalalu yang buruk.


*****


"Ngapain di salon Beauty's sayang?" Terdengar seseorang berbicara di seberang telepon Zaki yang ia yakini itu salah suami Dinda.Toni.


"Kakak lupa kalau Dinda mau reuni besok di hotel kita? Dinda dan Sari harus tampil maksimal. Mau lihat yang muda-muda."


"Sayang... Jangan balas dendam seperti itu." Rengek Toni pada Dinda.


Dinda hanya berdecak sebal. "Lupa yang pernah Dinda katakan? sekali kakak berbuat salah makan Dinda akan membalas nya lebih dari kesalahan kakak?" Ucap Dinda lugas.


"Sebentar angkat telpon dulu." Ucap Toni dan Rian bersamaan.


Sepeninggal Toni dan Rian wajah Dinda dan Sari berubah serius.


"Beb. Yakin maafin lakik mu?" Tanya Sari.


"Maafin tapi aku ngerasa Merry gak akan tinggal diam beb. Kayak bakal ada kejadian lebih besar setelah ini."


Sari diam saja.Berharap sahabat nya tidak mengalami hal sama seperti dirinya. Janda di usia muda itu sangat sulit. Sangat sulit di semua pandangan. Belum siap menjadi seorang ibu, di pandang rendah oleh orang lain, di pandang hina di masyarakat, dan di nilai penggoda suami orang. Ia tidak ingin Dinda mengalami seperti dirinya.


"Aku berharap semua baik-baik aja beb. Jika suatu saat hal itu terjadi. Hubungi aku beb.. Akulah orang yang berada di garda terdepan untuk melindungi mu." Ucap Sari dengan tegas.


Dinda terharu apa yang di ucapkan Sari. Ia salut dengan Sari masih bisa berdiri tegar dari terpaan ombak lautan agar ia ikut terhempas arus. Namun tidak untuk Sari. Ia wanita kuat, wanita tangguh, ia tahu tidak mudah apa yang di lewati nya selama ini.


Kini Dinda dan Sari berpelukan penuh rasa haru. Dinda dan Sari menangisi takdir seolah masih ingin bermain dengan mereka.


"Jangan menyerah Din. Jangan seperti ku.. Jangan ikuti jejak ku." Larang Sari pada Dinda.


"Aku gak pernah tahu takdir membawa ku kemana beb.. Aku hanya mengikuti takdir."


"Sayang...


🌸

__ADS_1


🌸


Maaf telat up nya ya. Emak lagi ada urusan keluarga tadi 🙏🙏🙏


__ADS_2