
"Kakak masih marah sama Dinda?" tanya Dinda sembari memainkan jari-jemari nya di dada bidang Toni yang berbulu.
"Ya. Kakak masih marah dengan mu." jawab Toni mempererat pelukan di tubuh Dinda.
Dinda dan Toni saat ini dalam keadaan polos saling berpelukan ditutupi selimut. Setelah perdebatan panjang dan diakhiri dengan olahraga panas di kamar hotel tersebut.
"Jangan marah lagi kak. Maafkan lah istrimu yang gak tahu diri ini." Dinda benar-benar merasa bersalah.
"Tidak perlu di akui. Kakak sudah tahu jika istriku tidak tahu diri."
Dinda hanya mencebik bibir saja. Ia tidak ingin lagi melawan, karena ia sudah berjanji jadi istri yang penurut dan menceritakan apapun yang ia kerjakan selama seharian.
"Jangan menggodaku lagi Din.." Toni mulai merasakan di bawah sana sudah berdenyut akibat jemari Dinda masih aktif bermain di dada nya.
Dinda tersenyum senang. "Dinda memang menggoda kakak. Dinda hanya ingin tahu apakah kakak masih perkasa kayak dulu atau sudah loyo." Sebenarnya ia sudah lelah karena digempur sampai empat jam dan itu hanya dua kali pelepasan untuk Toni.
"Kamu meragukan kejantanan ku istri kecilku, istri manjaku, istri nakalku?" Kini Toni sudah berada diatasnya tubuh Dinda dengan kedua tangan bertumpu di kedua sisi tubuh Dinda.
Dinda hanya terkekeh. Ia tidak marah untuk hal itu. "Puaskan aku suamiku.." Dinda mengerling kan mata pada Toni dibawah kukungan suaminya.
"Tidak. Aku ingin kamu yang puaskan aku. Kamu masih masa hukuman istriku." Toni membalikkan posisi menjadi Dinda di atas tubuh nya.
"Baiklah."
Dinda mulai bekerja dari mengecup dahi Toni. "Maafkan Dinda sayang." ucap Dinda dengan nada berbisik yang mendayu-dayu.
Menatap mata suaminya dengan mata sayu. "Terimakasih telah bertahan menungguku. Terimakasih telah memilih wanita buruk sepertiku."
Belum sempat Toni membalas perkataan Dinda, bibirnya sudah di bekap oleh bibir ranum Dinda. Sangat lembut. Ia benar-benar ingin mendominasi permainan kali ini.
"Kamu semakin pintar sayang." puji Toni saat ciuman mereka terlepas.
Dinda hanya tersenyum. Tentu ia semakin pintar untuk urusan hal seperti ini. Ia memiliki seorang mertua yang dengan sengaja memanggil ahli dalam bidang bercinta diatas ranjang.
Dinda kembali memulai permainan dengan mencium leher dan memberi tanda kissmark disana. Tangan Dinda aktif memberi sentuhan sensual pada tengkuk dan belakang telinga Toni.
"Aakkhh..." Terdengar lenguhan dari mulut Toni.
Dinda tersenyum berhasil membuat suaminya on lagi. "Sudah selesai." kata Dinda berguling kesamping tubuh Toni.
Toni melotot karena berhasil di tipu Dinda. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di kukung kembali tubuh Dinda.
__ADS_1
"Kamu yang mulai sayang.. Maka bersiap lah untuk tidak istirahat sampai pagi." Toni menyeringai.
Dinda gelagapan. Jika satu ronde lagi ia masih sanggup tapi jika sampai pagi maka bisa dipastikan ia tidak akan bisa bergerak besok.
"Kak.. Dinda capek." Rengek Dinda.
"Kamu hanya perlu diam di bawah kakak saja sayang."
Toni memulai aksi nya. Mencapai cakrawala. Mengasah kejantanan nya yang sudah setahun vacum mengunjungi pemilik nya.
*Lima jam sebelum berada di kamar Hotel.
Belum ada yang ingin berbicara lebih dulu antara Dinda dan Toni. Mereka masih sama-sama merasa gugup saat berdekatan kembali setelah satu tahun terpisah.
"Tunggu aku di kamar itu saja." kata Dinda akhirnya membuka pembicaraan.
Toni mengangguk. "Baiklah." jawab Toni menurunkan baby El seraya melangkah menuju kamar yang di maksud.
Setelah menjauh dari pelaminan ia menghentikan langkah.
"Kenapa aku menuruti Dinda? kan seharusnya aku yang menyuruhnya. Kenapa aku sudah menjadi bucin nya Dinda? Ah aku terlalu mencintai nya."
Toni membalikkan tubuh kembali ke pelaminan.
"Aku akan pergi jika kamu juga pergi." jawab Toni datar.
Mama Rahma dan Ibu Ayu hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Mereka merasa anak dan menantu nya sangat cocok. Jika yang satu posesif maka yang satu sangat suka membuat pasangannya cemburu. Jika yang satu bucin maka yang satu memanfaatkan kebucinan pasangan.
"Pergilah urus suami mu nak." titah Ibu Ayu.
Dinda kesal karena ia sangat merindukan sang ibu. "Dinda masih kangen Bu."
"Tapi dia butuh kamu."
Akhirnya Dinda pasrah dan mengikuti Toni setelah berpamitan dengan Bapak,Ibu,mama Rahma dan kedua mempelai.
Toni melepas jas hitam nya kemudian ia pakaikan pada Dinda. Inilah yang sedari tadi mengganggu penglihatan nya. Pakaian Dinda sangat seksi. Gaun malam berwarna hitam tanpa lengan. Jika di lihat dari depan tampak biasa. Belahan dada dan pundak tertutup. Tetapi jika di lihat dari belakang, punggung putih mulus terekspos dengan nyata dengan belahan membentuk V sampai ke pinggang Dinda.
Sungguh ia tidak rela !
"Maaf." kata Dinda setelah masuk ke dalam kamar hotel dan di kunci dengan rapat oleh Toni.
__ADS_1
"Maaf yang mana?" tanya Toni dingin dan dengan ekspresi datar.
"Semuanya kak. Dinda sudah siap di cerai sekarang."
"Cerai? berani sekali kamu meminta cerai setelah apa yang kamu lakukan." Toni mulai tersulut emosi mendengar kata cerai.
Dinda tersentak saat Toni membentaknya. Bahkan Dinda sampai memegang dada saking takutnya.
"Maaf." ucap Dinda lirih serta menundukkan kepala.
Toni menghela nafas dengan kasar. Ia sadar telah membentak Dinda.
"Apa kamu mencintaiku Din?"
Dengan cepat Dinda anggukan kepala.
"Aku sangat mencintaimu kak.Maaf aku terlalu cemburu dan gegabah waktu itu.Maafkan aku."
Dinda menangis menyesali perbuatannya. Semua salahnya. Tapi mengapa orang-orang masih baik terhadapnya.
Toni mendekati dan menarik Dinda dalam pelukan. Membiarkan Dinda menumpahkan segala penyesalan nya. Niat untuk marah kepada Dinda menguap seketika saat melihat Dinda menangis.
"Kakak janji tidak akan berdekatan dengan wanita mana pun sehingga membuat kamu cemburu. Kakak tidak mau di tinggal lagi sama kamu." ucap Toni sembari mengecup pucuk kepala Dinda.
Dinda mendongak menatap netra Toni. "Benarkah? bagaimana jika wanita itu Mama Rahma?"
Toni mengusap air mata Dinda dan tersenyum. "Siapapun yang membuat kamu cemburu maka akan kakak jauhi."
Dinda memukul dada Toni. "Mana boleh begitu. Nggak mungkin Dinda cemburu sama Mama. Jadi kakak udah maafin Dinda belum?" Toni tersenyum manis.
Toni berdehem. "Belum. Kamu harus di hukum, mau pilih yang mana? lambat,sedang, atau cepat istriku?"
Dinda terkekeh mengerti kemana arah hukuman Toni. "Apapun sayang.. Aku merindukan semua yang ada padamu." bisik Dinda dengan suara manja nan sensual di telinga Toni.
Tanpa menunggu waktu lagi Toni dengan cepat meraup bibir istrinya. Bibir yang dirindukan nya. Dengan gerakan tangan yang lihai sudah melepaskan semua penutup tubuh Dinda.
"Kak.. Itu baju mahal kenapa di tarik begitu?" gerutu Dinda.
"Besok kita beli toko dan isinya."
Dan terjadilah apa yang semestinya terjadi. Mencapai cakrawala dengan bermandikan peluh.
__ADS_1
🌸
Maaf terlambat up nya.. Emak ada acara beberapa hari ini. Kondangan dimana-mana.