PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 70 Penyesalan terdalam Dinda


__ADS_3

Tadi saat mengantarkan sang suami ke depan rumah untuk berangkat ke Hotel,Dinda sempat memberi kode pada Asisten Rian untuk menjalankan rencana nya agar ia mengetahui alasan sang suami mengapa hingga kini belum pernah membicarakan akan membawa ia ke Jakarta.


Rian hanya mengangguk dan mengambil ponsel di saku celana kemudian memasukkan ponsel ke saku jas yang ia kenakan dan memasang earphone bluetooth.


Setelah memberi tahu pelayan jika sebentar siang keluarganya makan dirumah.Dinda berjalan cepat menaiki tangga tanpa mengkhawatirkan bayi dalam kandungan.Ia sangat tidak sabar.


Dinda masuk ke kamar untuk mendengarkan apa yang Suami dan asisten itu bicara.Semoga asisten nya berhasil mencari informasi dan ia berharap apa yang ia takutkan tidak benar.


Dinda menempelkan ponselnya ke telinga.


"Rian."


"Ya Tuan."


"Menurutmu,Kenapa Istriku tidak ingin menghadiri acara sebentar malam?"


"Saya tidak tahu Tuan."


"Bicara padamu sangat payah."


"Tuan.Boleh saya bertanya?" Ia akan bertanya mewakili Dinda.


"Hem.."


"Kenapa Tuan masih menetap di kota Medan jika Tuan sudah mendapatkan Nyonya?"


Toni diam sesaat."Aku masih ragu Rian..Aku takut jika aku kembali akan mengingat dia lagi, sangat sulit melupakan dia."


"Rian.."Panggil Toni.


"Ya Tuan."Jawab Rian dengan menahan amarah.


"Apa aku salah menjerat Dinda dalam pernikahan?padahal aku tahu dia mencintai laki-laki lain.Tapi aku sayang Dinda.Dinda mengingatkan ku pada dia,hanya saja dia lebih mandiri dan Dinda sangat manja walau sekarang Dinda sudah belajar sedikit mandiri.Tapi aku menyukainya."


Dinda menangis sejadi-jadinya,Benar.Yang ditakutkan selama ini benar terjadi.Suami nya masih mencintai mantan tunangan nya.


Apa tadi katanya?Bahkan Dinda mengingat kan suami nya pada mantan tunangan nya?Jadi selama ini perhatian,kasih sayang, kata-kata cinta itu palsu?..


Dinda memukul-mukul dada nya terasa sangat sesak,untuk kali pertama Dinda merasakan sakit seperti ini.Di tipu oleh suaminya sendiri. Ia sangat berusaha keras untuk mencintai sang suami tapi lihatlah apa yang baru ia dengar,Bahkan sang suami tidak mengatakan bahwa ia mencintai tapi sayang dan suka.


*Kehadiran mu membunuh ku suamiku,


Kehadiran mu menghancurkan bahagiaku,


Kehadiran mu membuka lembaran baru untuk luka ku.


Bahkan luka ini lebih menyakiti ku.


Lalu bagaimana dengan hatiku yang sudah mulai mengukir namamu?


Andai aku benar-benar membentengi hatiku pasti luka ini tidak terlalu perih.


Tuhan..Ambil saja nyawaku yang tidak berguna ini.Mengapa hanya penderitaan menghampiri ku?

__ADS_1


Aku menyesal tiada henti,tapi apa harus sebanyak ini karma yang Kau beri Tuhan?


Siapalah aku Tuhan?Aku hanya perempuan lemah,aku bisa apa selain menerima?


Aku,Dinda Larasati.


Bertemankan Penyesalan tiada henti*.


****


Kini Mama mertua,Tara,Toni,Asisten Ali,dan Asisten Rian sudah berada di meja makan.Hanya menunggu satu orang lagi.Dinda.


Dinda berjalan menuruni anak tangga.Dinda memakai daster tanpa lengan panjang sampai di atas mata kaki dengan leher berbentuk V hingga menampakkan belahan gu nung kembar Dinda.Ia juga menggunakan make-up saat ini karena ia harus menutupi mata yang sembab karena menangis.


Toni melihat sang istri turun tangga dengan hati-hati segera menghampiri.


"Sini pegang tangan kakak sayang."


Dinda senyum dipaksakan."Tidak perlu kak,Dinda bisa sendiri,Dinda harus belajar mandiri bukan?"


Toni merasa sang istri tidak dalam mode baik-baik saja.Tidak seperti biasanya Dinda menolak.Belajar mandiri?Kenapa tiba-tiba?


Saat sampai di meja makan Dinda menyapa Mama Rahma.


"Mama apa kabar?"Dinda mencium punggung tangan sang mertua.


"Mama baik, Bagaimana kandungan mu Nak?"


"Semuanya baik ma,HPL sekitar 1 bulan 5 hari lagi."Dinda tersenyum manis pada mertuanya berbeda saat senyum pada sang suami tadi.


"Kalau terlalu sibuk jangan dipaksakan ma,Ibu juga mau datang seminggu sebelum HPL."


Mama Rahma hanya mengangguk.Dinda sebenarnya menyadari jika Tara memperhatikan dari ia menuruni tangga,tapi ia harus menjauhinya sesuai yang di katakan Asisten Rian yang sudah ia anggap Abang sendiri.


"Bagaimana kabar kak Tara?"Sekedar basa basi Dinda.


"Baik."Jawab Tara singkat.


Pandai sekali menyembunyikan perasaan.


"Hai Asisten Ali."Dinda tersenyum manis.


"Hello Nyonya."Ali tersenyum penuh arti dengan menekan kata Nyonya.


Dinda hanya berdecak sebal.Hingga sekarang Dinda masih risih di panggil Nyonya.


Dinda beralih pada seseorang yang masih berdiri di ujung meja makan dengan menatap kearahnya juga.


Mata Dinda berkaca-kaca kala netra mereka bertemu.


Rian menggeleng seakan mengatakan jangan menangis.


"Hai Asisten Rian,duduk lah."

__ADS_1


Rian hanya mengangguk kemudian menarik kursi untuk ia duduki.


Dinda beralih ke Toni.Ia ambil nasi,lauk serta sayur untuk suaminya.Tak lupa ia menuangkan air minum untuk suaminya.Toni.


"Terimakasih sayang."


Toni menatap Dinda yang sedang menatapnya juga.Tidak ada senyum di wajah Dinda untuknya.Ia yakin sesuatu terjadi pada sang istri.


Dinda segera memutus pandangan nya.Ia mengambil makan untuk dirinya sendiri dengan porsi kecil.Dinda benar-benar tidak berselera makan siang ini,semangat hidupnya telah hilang setelah mengetahui pengakuan sang suami.


Mereka makan dengan hening.Toni memperhatikan sang istri sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan nya.Biasanya meja makan ramai dengan celotehan istrinya.Walau mereka makan berdua tapi selalu ramai karena suara manja Dinda.Ada saja yang diceritakan. Tapi kali ini Dinda hanya diam bahkan makan siang nya tidak ada yang masuk ke dalam mulutnya.


"Din,kapan kamu ingin tinggal di Jakarta?" Yang bertanya bukanlah Toni suaminya tapi Mama mertua.Mama Rahma.


Dinda melirik kearah sang suami dengan ekspresi terkejut.Ia hanya bisa tersenyum.


"Dinda terserah Kak Toni saja,bukankah seorang istri harus mengikuti kemana suami pergi bukan? toh kak Toni tidak pernah membicarakan hal ini.Iya kan kak?" Dinda menatap sang suami.


Toni gelagapan di tanya sang istri seperti itu.Dia hanya mampu diam.Tak mampu menjawab pertanyaan itu.


"Sebaiknya kalian bicarakan,biar bagaimanapun Perusahaan sangat membutuhkan kamu Toni.Kasihan Rian harus bekerja sendirian."Ujar Mama Rahma.


"Tapi Dinda masih kuliah Ma."Jawab Toni beralasan.


Dinda mendengar itu hanya menunduk tersenyum miring. Cukup tahu.


"Bukankah tidak sulit memindahkan Dinda?di Jakarta juga banyak Universitas bagus.Bahkan kita bisa kuliah kan Dinda di Universitas terbagus di Jakarta." Ucap Mama Rahma lagi.


Dinda sudah tidak bisa menahan tangis.


"Permisi." Dinda berjalan cepat menuju kamar mandi dengan menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara tangisan nya.


Rian melihat punggung Dinda bergetar,ia yakini bahwa Dinda sedang menangis.


Bersabarlah Dinda kecilku..


Toni juga melihat punggung Dinda bergetar dan ia juga meyakini bahwa Dinda menangis.Tapi kenapa?


Toni berdiri menyusul Dinda ke kamar mandi.


Cukup lama Toni menunggu di depan pintu kamar mandi tapi Dinda belum keluar juga. Di tempelkan telinga ke pintu kamar mandi,tidak terdengar ada seseorang di dalam.


Toni mengetuk pintu kamar mandi juga tidak ada jawaban.Ia semakin khawatir.


"Dinda..Kamu masih di dalam?"


Toni memegang handle pintu ternyata pintu tidak terkunci.


Betapa terkejutnya Toni apa yang ia lihat saat ini.


"Dindaaaa..."Teriak Toni hingga terdengar oleh semua penghuni rumah berlantai dua itu.


🌸

__ADS_1


🌸


__ADS_2